INDUSTRY.co.id - Jakarta, Indonesia dan Malaysia sepakat untuk berkolaborasi dalam upaya pengembangan industri otomotif yang kompetitif di pasar ASEAN.
Langkah sinergi kedua negara tersebut ditandai melalui pertukaran Memorandum of Agreement (MoA) antara Presiden Institut Otomotif Indonesia (IOI) I Made Dana Tangkas dengan CEO Malaysia Automotive Institute (MAI) Dato Mohamad Madani Sahari yang disaksikan oleh Menteri Perdangangan dan Industri Internasional Malaysia Darell Leiking dan Direktur Jenderal Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII) Kementerian Perindustrian, I Gusti Putu Suryawirawan.
Presiden IOI I Made Dana Tangkas menyampaikan, IOI dan MAI mendorong joint venture antara perusahaan komponen otomotif di Indonesia dan Malaysia agar dapat memenuhi kebutuhan principal yang banyak berada di kedua negara.
"Selain itu, bakal menginisiasi terbentuknya ASEAN Automotive Institute Federation. Hal ini agar kita bisa mengelola pasar ASEAN dengan mandiri," ujarnya di Jakarta (10/8/2018).
Ditambahkan Made, dengan kekuatan industri komponen kedua negara, industri otomotif bisa mengenal konten ASEAN untuk kendaraan dari total komponen yang diproduksi oleh negara ASEAN.
"Sekarang minimal di masing-masing negara local content 40 persen, kalau dijumlah bisa mencapai 100 persen sehingga bisa disebut ASEAN content. Jadi, dari sini, mobil ASEAN bisa dibangun," tuturnya.
Menteri Perdagangan dan Industri Internasional Malaysia Darell Leiking menyampaikan, gagasan mobil ASEAN disampaikan oleh Perdana Menteri Mahathir Mohamad.
"Melalui kerja sama institut otomotif kedua negara, diharapkan ada perluasan pasar bagi vendor-vendor kedua negara," ungkapnya.
Menteri Leiking menambahkan, hasil dari kerja sama ini ditindaklanjuti menjadi sesuatu yang terukur.
Sementaravitu, CEO MAI Dato Mohamad Madani Sahari menambahkan, kedua belah pihak akan mengidentifikasi perusahaan-perusahaan yang bisa melakukan kerja sama dan didorong untuk memproduksi komponen untuk kendaraan internal combustion engine (ICE), kemudian melakukan riset bersama untuk mempelajari semua teknologi baru, seperti kendaraan listrik atau hybrid.
"Hasil riset itu bisa digunakan oleh perusahaan yang ikut joint venture dengan didukung pula pada pengembangan SDM dan supply chain untuk perusahaan joint venture tersebut," jelasnya.
Madani meyakini, kemampuan industri komponen kedua negara sudah mencapai 90 persen.
"Kami juga ingin adanya kerja sama mengenai biofuel karena sawit merupakan komoditas penting untuk kedua negara. Tidak menutup kemungkinan kerja sama dilakukan dengan negara ASEAN lain seperti Thailand atau Filipina. Diharapkan joint venture ini dapat memproduksi kendaraan sendiri," imbuhnya.