INDUSTRY.co.id, Jakarta - Pengusaha memandang 2017 sebagai tahun yang cukup meyakinkan namun penuh kehati-hatian.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan P Roeslani menilai bahwa 2017 ini Indonesia bakal dihadapkan iklim ekonomi yang optimistis, tapi penuh kehati-hatian. Apalagi, ekonomi Cina yang sedang mencari keseimbangan baru di tengah perlambatannya membuat kinerja perdagangan dengan Indonesia ikut goyah.
Di sisi lain, kebijakan Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) yang mulai berkantor di Gedung Putih pekan lalu juga dinilai perlu terus diamati.
Indonesia memiliki kerjasama dagang yang cukup besar dengan AS. Rencana kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS hingga tiga kali di tahun 2017 ini juga dinilai memberikan sinyal kehati-hatian bagi Indonesia.
"Dampak ini harus dianalisa, apakah membuat barang kita jadi lebih murah atau rupiah jadi lebih murah sehingga ekspor lebih mudah ke negara lain. Dengan Vietnam Malaysia kita jadi lebih compite untuk barang-barang ekspor" terang Ketua Umum KADIN di Jakarta (2/2/2017).
Pertumbuhan Indonesia di level 5,1 persen tetap bisa diraih dengan mengoptimalkan konsumsi domestik, belanja pemerintah, dan investasi.
Indonesia juga mengalami tantangan di sisi investasi asing. Tahun 2016 lalu, nilai realiasi investasi asing di Indonesia sedikit melambat dibandingkan tahun 2015. Secara year on year realisasi investasi asing (PMA) hanya tumbuh 7 persen di 2016.
Sedangkan investasi juga hanya bisa tumbuh 6,8 persen sepanjang 10 tahun belakangan. Hal ini lantaran ada kelesuan permintaan di pasar global terutama di negara berkembang sebagai negara tujuan investasi.
Mulai merangkaknya harga komoditas di tahun ini bisa ikut mendorong permintaan dan daya beli masyarakat. Harapannya, daya beli yang meningkat bisa ikut meningkatkan investasi domestik dan menggenjot penyaluran kredit perbankan.
Dilihat dari indikator tersebut, maka peluang untuk meraih pertumbuhan kredit yang lebih tinggi dari tahun lalu cukup besar.