INDUSTRY.co.id - Jakarta - PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau  RNI melalui anak usahanya PT MitraKerinci bersinergi dengan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII, anak usaha PTPN III (Persero) mengelola lahan teh seluas lebih dari 2.000 hektare.

Penandatanganan kerja sama dilakukan antara Direktur PT MitraKerinci Yosdian Adi dengan Direktur Utama PTPN VIII Bagya Mulyanto, disaksikan Deputi Bidang Usaha Industri Agro dan Farmasi Kementerian BUMN Wahyu Kuncoro, Direktur Utama PT RNI B. Didik Prasetyo, dan Direktur Utama PTPN III Dolly P. Pulungan di Gedung RNI, Jakarta, Senin (30/4/2018).

Direktur PT MitraKerinci Yosdian  Adi mengatakan, lahan teh tersebut berada di Kebun Pangheotan, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Dengan investasi sekitar Rp500 miliar, MitraKerinci dan PTPN VIII mengelola pabrik teh hijau dan teh hitam dengan target produksi 5-7 ton per hari, dengan nilai penjualan diperkirakan mencapai Rp 300 juta per bulan.

Ia mengatakan dengan dukungan alam dan geografis, Indonesia punya potensi besar sebagai negara utama penghasil teh. Namun, upaya penguatan industri teh tidak bisa dikerjakan sendiri.

"Kerja sama pengelolaan antara PT Mitra Kerinci dan PTPN VIII di Kebun Pangheotan diharapkan bisa memberikan perbaikan kinerja bagi kedua belah pihak dan perbaikan kesejahteraan ribuan pemetik teh," ungkap Yosdian.

Sementara itu, Wahyu Kuncoro mengatakan, Kementerian BUMN mendukung sinergi BUMN yang bertujuan untuk membantu terwujudnya program-program pemerintah.

"Kerja sama ini menjadi "role model" sistem pengelolaan industri teh yang produktif dan efisien. Tantangan utama pengelolaan teh adalah masih tingginya harga pokok produksi (HPP) di angka Rp20 ribu per kg, sementara PT Mitra Kerinci berhasil menurunkan HPP di angka Rp15 ribu per kg," ujar Wahyu.

Dijelaskan, keunggulan-keuanggulan dari kedua pihak perlu dikembangkan dalam skema kerja sama dan diterapkan dalam skala kecil terlebih dahulu.

Sementara itu, Direktur Utama PT RNI B. Didik Prasetyo mengatakan, peluang industri teh dalam negeri untuk bangkit dan bersaing di pasar global masih sangat besar dan terbuka lebar.

"Pasarnya sangat terbuka, baik dalam Negeri maupun internasional. Kontra diksi penurunan areal dan produktivitas teh Indonesia disisi lain memberikan peluang dengan pertumbuhan konsumsi minuman teh dalam kemasan yang bertumbuh hingga mencapai di atas 2,3 juta liter per tahun," ujar Didik.(ant)