INDUSTRY.co.id - Jakarta, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menyatakan, realisasi ekspor kelapa sawit dan produk turunannya ke Amerika Serikat (AS) bakal terpengaruh kebijakan pemerintahan Donald Trump.
"Kami belum tahu proteksionisme macam apa yang akan dijalankan. Selama ini, isu besar yang dibawa adalah climate change," kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) Gapki, Togar Sitanggang di Jakarta, Selasa (24/1).
Togar menilai, Trump tidak terlalu percaya perubahan iklim. Jadi, proteksi bisa saja menghalangi ekspor.
"Di sisi lain, climate change bisa juga membuat ekspor kita lebih mudah kalau tidak diributkan lagi," papar dia.
Pelaku usaha perlu mewaspadai kebijakan restriktif dalam bentuk non tarif yang akan diberlakukan bagi komoditas minyak sawit Indonesia. Hal ini terutama seusai dilantiknya Donald Trump sebagai Presiden ke-45 Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan laporan World Trade Organization (WTO), saat ini AS memiliki hambatan non tarif sebanyak 4.780. Sementara itu, Indonesia hanya memiliki 272 hambatan non tarif.
Data Kementerian Perdagangan mencatat, tahun lalu volume ekspor sawit Indonesia sebesar 25,7 juta ton atau turun 2%. Sebanyak 75,6% di antaranya produk sawit ekspor merupakan produk hilir, penurunan terjadi akibat penggunaan biodiesel di dalam negeri sebanyak 2,5 juta kiloliter.(Hry/ Imq)