INDUSTRY.co.id - Jakarta- Dampak kebijakan Presiden Amerika Donald Trump, dinilai berisiko meningkatkan situasi ketidakpastian global. Perubahan secara drastis diyakini akan dilakukan oleh Trump.

Advertisement

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara yang ditemui INDUSTRY.co.id di Jakarta (24/1/2107) menjelaskan, ada dua hal yang menjadi dampak kebijakan Trump yang perlu dicermati. Pertama, proteksionisme yang sudah terang-terangan ingin dilakukan Trump. Proteksi ini bukan sekadar bahan kampanye, namun sudah mulai terlihat dari peringatan Trump kepada produsen otomotif Ford, agar memindahkan pabriknya dari Meksiko ke Amerika.

"Proteksi juga akan memicu perang dagang dengan Tiongkok. Risiko bagi Indonesia adalah penurunan ekspor bahan baku ke Tiongkok, karena Tiongkok akan mengurangi produksi sebagai antisipasi proteksi Trump" jelasnya.

Advertisement

Kedua, soal Trump yang berencana menaikkan belanja infrastruktur, hal itu berimbas pada sisi inflasi yang diprediksi akan naik. Dampaknya, suku bunga Federal Reserve dipastikan akan naik. “Fed Fund Rate yang meningkat, dolar akan kuat, sehingga rupiah melemah.

Dana asing di Indonesia juga terancam keluar dan pulang ke AS. Padahal 38,8% surat utang dikuasai asing, jadi pasar keuangan kita sangat fragile (rentan). Bunga surat utang pemerintah Indonesia terpaksa menjadi lebih mahal. Beban bunga bertambah, apalagi di 2018 adalah puncak buyback atau pembayaran utang SBN (Surat Berharga Negara),” jelasnya.

Advertisement

AS tetap membutuhkan Indonesia sebagai mitra dagang penting. Dalam APEC dan G-20, posisi Indonesia pun setara.

Bhima pun menilai, sikap AS dibawah Trump diprediksi tidak akan berubah secara signifikan dengan Indonesia. Kerja sama perdagangan, keuangan, dan investasi pasti terus berlanjut. Terlebih saat ini soal relaksasi ekspor minerba memberi angin bagi industri tambang AS di Indonesia.

Advertisement