INDUSTRY.co.id - Donald Trump resmi dilantik sebagai PresidenAmerika Serikat pada Jumat (20/1) waktu setempat. Dalam pidato pertamanya sebagai presiden negeri Paman Sam itu, Trump menyuarakan kebijakan ekonomi yang proteksionis terhadap negaranya. Kekhawatiran berbagai negara mitra ekonomi AS pun merebak, termasuk di Indonesia.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Faisal mengatakan, produk ekspor unggulan Indonesia seperti minyak sawit bisa terdampak kebijakan pemerintahan baru Amerika Serikat.
"Minyak sawit memiliki substitusi impor di AS yaitu dengan minyak kedelai. Jadi patut diwaspadai kebijakan restriktif (pelarangan), khususnya dalam bentuk non-tarif," ujarnya dalam publikasinya, Senin (23/1/2017).
Faisal menambahkan, pemerintah AS banyak memberlakukan hambatan non-tarif terhadap barang-barang yang mereka impor dari negara tertentu. Berdasarkan dataOrganisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/ WTO), hambatan non-tarif yang dikenakan AS berjumlah 4.780 aturan.
"Sementara di Indonesia hanya 272," lanjutnya.
Seperti diketahui, Indonesia merupakan salah satu negara penghasil minyak sawit terbesar di dunia. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memproyeksikan, produksi minyak sawit Indonesia pada 2017 mencapai 30 juta ton.
Amerika Serikat merupakan salah satu negara tujuan utama ekspor minyak sawit Indonesia, setelah India, China, Pakistan, dan Belanda.
Data Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) menyebutkan, pada 2016 ekspor minyak sawit Indonesia ke India mencapai 5,1 juta ton senilai 3,2 miliar Dolar AS; Ke China mencapai 2,8 juta ton (1,8 miliar Dolar AS); Ke Belanda 2,5 juta ton (1 miiliar Dolar AS); Ke Pakistan 1,8 juta ton (1,2 miliar Dolar AS); Sedangkan ke AS mencapai 1,2 juta ton.