INDUSTRY.co.id -Jakarta, Kalau dalam tulisan di Bag 1 sebelumnya, pedagang pasar Glodok yang hanya mengalami penurunan pembeli, nasib yang lebih parah dialami raksasa ritel modern.

Advertisement

Sejumlah pebisnis ritel modern justru terpaksa menutup gerai mereka di sepanjang 2017. Sebut saja 7-Eleven, Lotus Department Store, sejumlah gerai Matahari dan Ramayana Department Store.

Bahkan ritel busana untuk segmen menengah ke atas seperti Debenhams pun menutup tokonya.

Advertisement

Lesunya gerai ritel di beberapa tahun terakhir diakui oleh Ketua Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (Aprindo) Roy N Mandey.

Menurutnya, tahun 2017 banyak ritel di dalam negeri tengah tertekan. Padahal, pada saat yang sama kondisi perekonomian Indonesia secara makro dinilai cukup baik.

Advertisement

Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab. Seperti perubahan gaya hidup masyarakat. Bukan hanya shifting dari cara belanja konvensional ke daring, tetapi juga pilihan masyarakat untuk cenderung menghabiskan uang ke sektor leisure.

Ikhwal tertekannya pasar ritel Indonesia dimulai setelah Indonesia resmi dipimpin Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla pada 2014. Ritel Indonesia sempat mengalami masa jayanya pada tahun 2012-2013.

Advertisement

Pertumbuhan sektor ini melesat antara 14-15 persen. Cukup signifikan apabila dibandingkan pertumbuhan perekonomian nasional saat itu.

Rupanya pendapatan per kapita masyarakat yang tinggi, yaitu di atas 3.000 (dollar AS) per tahun, berdampak pada perubahan gaya hidup mereka.

Hal ini ditambah pertumbuhan internet of things atau IOT, yang membuat pasar e-commerce mulai bermunculan. Apalagi masyarakat kata Roy, cenderung mengikuti "apa kata media sosial".

Di satu sisi juga, sosial media dipenuhi kalangan "The Have" yang gemar mempertontonkan kegiatan mereka, mulai dari nongkrong di kafe, liburan, hingga bepergian ke tempat wisata.

Tapi belanja, bagi Roy, masih menjadi kebutuhan masyarakat, namun tidak banyak. Hal ini juga tidak terlepas dari tumbuhnya jasa pick up services di Tanah Air yang membantu masyarakat untuk berbelanja, seperti Go-Jek, Uber, dan Grab.

Segala sesuatu dibuatnya semakin mudah, semakin tinggi pendapatan. Membuat orang tidak menjadikan belanja itu sebagai sesuatu gaya hidup yang utama.

Rupanya, sejak adanya jasa pick up services, semakin sedikit keluarga yang datang ke mal untuk berbelanja. Kata Roy, Meski pergi ke mal, tujuan mereka justru hanya untuk nongkrong, entah di kafe atau restoran sambil bercengkerama dengan kolega.

Tak pelak, bila mal yang mengangkat konsep gaya hidup dan banyak menyediakan food and beverage tetap ramai dikunjungi masyarakat.

Grafik leisure yang dikeluarkan Bank Indonesia yang menunjukkan adanya pertumbuhan 0,3 persen, dari 4,58 persen tumbuh menjadi 4,87 persen. Sementara sektor ritel di dalam BI hanya tambah 0,1 persen.

Faktor lain disebabkan kecenderungan masyarakat untuk menabung. Namun, bukan untuk persiapan masa depan, tabungan tersebut biasanya juga akan digunakan untuk leisure.

Setidaknya, hal ini juga dapat dilihat pada saat adanya kegiatan travel fair beberapa waktu terakhir. Masyarakat berbondong-bondong pergi ke sana dan memborong tiket perjalanan dan hotel.

Jadi kata Roy, pola untuk belanja dengan keluarga, ayah, ibu, anak dengan troli, itu sudah enggak zaman lagi. Kendati masih ada, tetapi tidak sesignifikan. Setidaknya itulah yang membuat turunnya ritel di era modern.

Jadi, kendati pertumbuhan teknologi informasi cukup pesat dalam lima tahun terakhir, Roy meyakini, pertumbuhan ritel daring tidak menjadi penyebab utama banyakya toko ritel konvensional tutup.

Karena mengutip data AT Kearney yang menyebut kontribusi ritel daring Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) yang masih di bawah 2 persen saat ini.

"Ritel modern masih 54 persen kontribusi dari PDB. Jadi bukan merupakan sesuatu yang menggerus offline," katanya.

Hal serupa, menurut dia, juga terlihat pada kondisi ritel di luar negeri. Di Amerika Serikat, misalnya, segmen ritel daring baru sekitar 12,4-12,5 persen kontribusinya. Sementara China baru nyaris mencapai 11 persen.

Roy kembali menegaskan, penutupan gerai, dilakukan bukan semata-mata karena lesunya penjualan. Sekitar 75% sampai 80% toko ritel yang tutup, disebabkan banyak pelaku usaha ritel ingin mengganti model bisnisnya.

Pergantian itu misalnya mengubah atau memperbesar format penjualan dari ritel tersebut. Ada ritel yang tadinya hanya fokus pada department store ingin menambahkan layanan kuliner di dalamnya. Atau sebelumnya hypermarket lalu ingin menyertakan ruang bermain anak dan keluarga.

Namun tempatnya sudah tidak memungkinkan, sehingga perlu dipindahkan atau ditutup yang lama dan pindahkan (ke lokasi) yang baru.

Faktor lain, lanjut Roy, adalah ada pengusaha ritel yang ingin merelokasi tempat usahanya. Perpindahan lokasi jualan ini karena melihat, ada gerai mereka yang tidak produktif dan pindah ke daerah yang baru yang lebih potensial. Dan, perpindahan lokasi jualan ke tempat baru akan memunculkan kostumer dan transaksi yang baru juga.

Jadi kata Roy, tutupnya beberapa toko tersebut juga dilakukan oleh retail ketika pasar atau market yang biasa mereka dapatkan di lokasi tersebut sudah tidak dapat menghasilkan keuntungan yang signifikan.

Sehingga relokasi dengan cara menutup toko mereka pun dilakukan oleh pengusaha-pengusaha retail agar mampu mengimbangi tren konsumen yang sudah berubah dalam membeli barang.

Adapun lokasi baru yang potensial saat ini, menurut Roy, berada di sekitar Indonesia Timur, seperti Kalimantan dan beberapa kabupaten dan kotamadya di Sumatera.

Dan, alasan terakhir banyaknya ritel tutup di 2017, menurut Roy, karena terjadi pergeseran tren penjualan dari offline ke online. Namun dia melihat pangsa pasar untuk ritel offline di Indonesia tahun 2017 sekitar USD 320 juta.

Dari angka itu, online sebenarnya hanya menggerus sekitar USD 4,89 juta. Apapun itu, faktanya banyak gerai perusahaan ritel yang ditutup. Riset Retail Development Index 2017 yang dikeluarkan AT Kearney menyebut Indonesia berada pada posisi delapan dunia.

Posisi ini melorot tiga level dibandingkan pencapaian tahun lalu yang masuk dalam lima teratas dunia.

Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) Aulia Ersyah Marinto, mengatakan, berkaca dari fakta di lapangan, peralihan daya beli masyarakat tersebut belum bisa dibuktikan.

Pasalnya, banyak pelaku e-commerce yang masih enggan berbagi hasil pertumbuhan penjualan dan transaksinya. Adapun hal itu juga didukung lantaran kebanyakan e-commerce bukan perusahaan terbuka di pasar modal.

Bagi dia, mungkin, ada benarnya, karena pelaku e-commerce mengakui ada pertumbuhan. Tapi kalau dibilang beralih, itu belum tentu juga. Datanya masih minim untuk membandingkan.

Terhadap kelesuan yang dihadapi sektor ritel, Roy mengatakan, pemerintah sebaiknya membuat regulasi yang mengatur sistem belanja daring yang sampai saat ini belum ada.

Hal ini untuk memberikan playing field yang lebih adil antarsesama pengusaha ritel. Mulai dari aturan terkait Standar Nasional Indonesia (SNI) yang harus dipenuhi, sistem pembayaran, hingga pajak.