INDUSTRY.co.id - Jakarta- Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data yang menunjukkan produk domestik bruto (PDB) sektor ekonomi kreatif yang tercipta pada 2016 mencapai Rp922,59 triliun.
Kepala Bekraf Triawan Munaf dalam peluncuran Buku Statistik Ekonomi Kreatif di Jakarta, Selasa (27/2/2018) mengatakan PDB ekonomi kreatif di 2016 tersebut berkontribusi sebesar 7,44 persen terhadap total perekonomian nasional.
Sebagai perbandingan, PDB ekonomi kreatif pada 2015 tercatat sebesar Rp852,56 triliun dan berkontribusi 7,39 persen terhadap total perekonomian nasional.
Triawan mengatakan terdapat tiga subsektor yang berkontribusi paling besar dalam PDB ekonomi kreatif di 2016, yaitu kuliner sebesar 41,40 persen terhadap PDB ekonomi kreatif, busana 18,01 persen dan kriya 15,40 persen.
Subsektor kuliner tercatat mampu meraup pendapatan sebesar Rp382 triliun sepanjang 2016 disusul oleh busana (Rp166 triliun) dan kriya (Rp142 triliun).
Sementara itu, jumlah tenaga kerja ekonomi kreatif di Indonesia pada 2016 mencapai 16,91 juta jiwa atau sekitar 14,28 persen dari penduduk usia kerja. Angka tersebut meningkat 5,95 persen dibanding jumlah tenaga kerja sektor ekonomi kreatif di 2015 yang mencapai 15,96 juta jiwa.
Bekraf dan BPS mencatat penduduk berpekerjaan utama ekonomi kreatif rata-rata tumbuh 4,69 persen per tahun. Pengusaha ekonomi kreatif didominasi pleh pengusaha perempuan (54,96 persen).
Kemudian, berdasarkan penyesuaian dengan hasil Sensus Ekonomi 2016, jumlah usaha ekonomi kreatif di Indonesia mencapai 8,2 juta.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 65,37 persen usaha berada di Pulau Jawa, 17,94 persen di Sumatera, 4,95 di Kalimantan, 6,53 persen di Sulawesi, Maluku, dan Papua, 5,21 persen di Bali, NTB, dan NTT.
Di tingkat daerah, lima provinsi yang memiliki produk domestik regional bruto terbesar yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta (16,12 persen), Bali (12,57 persen), Jawa Barat (11,81 persen), Jawa Timur (9,37 persen), dan Sumatera Utara (4,77 persen). (Ant)