INDUSTRY.co.id, Jakarta - Menurut studi yang dilakukan oleh LTPM Institut Teknologi Bandung, Indonesia merupakan Negara dengan konsumsi plastik sekitar 22,54 kilogram/orang/tahun dan ini merupakan angka terkecil dibandingkan negara tetangga seperti Singapura, Malaysia dan Thailand yang rata-ratanya sekitar 60 kilogram/orang/tahun.

Advertisement

Sekitar 0,53 persen dari pada sampah plastik di Negeri ini terbawa aliran sungai yang kemudian berakhir di laut. Dengan jumlah yang seperti ini Indonesia tidaklah masuk dalam 20 negara terbesar dunia pengotor sampah plastik di laut. Hanya saja, manajemen sampah yang tercampur dan hanya memindahkan sampah dari rumah ke TPS lalu ke dibuang ke TPA, telah berdampak buruk pada citra plastik sebagai bahan yang tidak ramah lingkungan.

Banyak orang percaya bahwa Styrofoam (kemasan makanan berbahan polistirena) menjadi penyebab polusi di daratan maupun lautan karena polistirena membutuhkan waktu yang lama untuk terurai alami. Padahal kebenarannya adalah kebiasaan manusia dan managemen sampah yang buruklah yang menyebabkannya. Karena Polistirena sangat bisa didaur-ulang dan dengan managemen sampah yang ideal kita bisa menciptakan lingkungan yang berkelanjutan dengan menggunakan Polistirena.   

Advertisement

“Sampah ini sudah menjadi momok di Indonesia. Perlu ada sinergi antara pemerintah, industri dan masyarakat dalam hal sampah ini. Padahal sampah, jika diolah dengan sistem terpilah seperti Masaro, akan menghasilkan nilai ekonomi dan mendatangkan keuntungan bagi yang melakukannya” ujar Kepala Laboratorium Teknologi Polimer dan Membran Institut Teknologi Bandung (ITB), Ir. Akhmad Zainal Abidin, M.Sc., Ph.D.

Ia juga menekankan bahwa Polistirena adalah materi yang paling berkelanjutan untuk lingkungan dibandingkan bahan kemasan makanan lainnya.

Advertisement

“Kemasan makanan berbahan kertas jarang sekali di daur-ulang karena tidak ada cara ekonomis untuk itu. Kita akan membutuhkan biaya yang tinggi untuk memisahkan kertas dan lapisan plastiknya. Juga, biasanya, produsen kertas tidak mau menggunakan pulp kertas bekas” tambahnya.

Ir Akhmad Zainal Abidin, memperkenalkan suatu konsep pengeloaan dan pengolahan sampah bernama Masaro (Management Sampah Zero) dalam acara Media Workshop bertajuk “Strawberry Tidak Menyebabkan Kanker - Fakta dan Mitos Di Balik Styrofoam” di Jakarta pada bulan Januari silam. Dalam Media Workshop itu juga dikemukakan bahwa sampah kemasan makanan polystyrene (Styrofoam) yang selama ini dianggap sebagai penyebab banjir, sebenarnya tidak benar.

Advertisement

“Banjir diakibatkan adanya sampah yang menghalangi aliran air. Karena sifatnya yang ringan, Styrofoam justru mengapung dan mengikuti level permukaan air. Yang menyumbat aliran air dan menyebabkan banjir adalah sampah-sampah berat seperti dari kayu atau akar pohon” kata Zainal.

Sampah kemasan makanan berbahan polistirena memiliki nilai yang tinggi karena kemampuannya didaur-ulang secara maksimal. Kemasan ini dapat dipecah dan diubah menjadi produk baru yang dapat berguna untuk kemasan elektronik. Selain itu, di Indonesia, sudah ada yang memanfaatkan sampah kemasan makanan polistirena menjadi beton ringan dan absorber atau pembersih senyawa sulfur.

Absorber sulfur sangat berguna untuk meningkatkan kualitas bahan bakar Pertamina sehingga kandungan sulfur  bahan bakar tersebut semakin kecil. Dalam Masaro, sampah kemasan makanan polistirena dapat juga diubah menjadi BBM.

Masaro adalah konsep pengelolaan dan pengolahan sampah terbaru dan dianggap paling solutif oleh para ahli dalam menanggulangi sampah di Indonesia. Dalam konsep ini, baik sampah yang bisa membusuk maupun tidak, bisa diolah menjadi barang yang memiliki nilai ekonomi baik.

Hingga saat ini, Masaro sendiri sudah dicoba di beberapa daerah di Indonesia seperti di Indramayu, Majalengka, Cirebon, Karawang, Solo, Anambas, Pekanbaru, dll. Diharapkan dengan sudah dilakukan di daerah tersebut, membuat pemerintah daerah lainnya dapat menerapkan Masaro juga.