INDUSTRY.co.id -Banda Aceh, Kekuatan ekonomi Indonesia dinilai sangat diperhitungkan sebagai salah satu pemain kunci dalam mendorong pertumbuhan ekonomi global.

Advertisement

Hal tersebut disampaikan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada Kuliah Umum di Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh, akhir pekan kemarin.

Menurutnya, Indonesia mampu memberikan kontribusi sebesar 2,5 persen terhadap pertumbuhan dunia, di mana capaian tersebut mengungguli sumbangsih dari Korea Selatan, Australia, Kanada, Inggris, Jepang, Brasil dan Rusia.

Advertisement

"Dari sektor manufaktur, Indonesia secara persentase untuk kontribusinya terhadap PDB, masuk dalam jajaran lima besar dunia. Mengungguli Jepang, India, dan Amerika Serikat. Bahkan, di antara negara-negara berkembang, hanya Indonesia dan China berada di posisi lima besar," ujar Menperin.

Berdasarkan hasil analisa World Economic Forum, menunjukkan bahwa Asia semakin mendominasi pertumbuhan dunia pada tahun 2017 dan diperkirakan hingga tahun berikutnya.

Advertisement

"Kutub perekonomian dunia saat ini telah mengalami pergeseran, dominasi kawasan Asia semakin besar,"ujar Menperin.

Hal tersebut dilihat dari peningkatan kontribusi Asia terhadap PDB dunia yang mengalami kenaikan, pada tahun 2010 menyumbangkan sebesar 34 persen, dan diprediksi meningkat menjadi 43,8 persen pada tahun 2019.

Advertisement

"Tentunya kontribusi Indonesia sebagai kekuatan manufaktur di Asia, juga semakin diperhitungkan," lanjut Airlangga.

Ia melanjutkan, dengan berbagai upaya strategis pemerintah yang telah dilakukan, perekonomian Indonesia mengalami perbaikan dari berbagai aspek selama lima belas tahun terakhir.

Pertumbuhan positif tersebut, bisa dilihat dari empat aspek aktvitas ekonomi. Pertama, populasi tenaga kerja meningkat lebih dari 30 juta dalam 15 tahun, yang ditopang dengan naiknya gaji sebesar dua kali lipat.

Kedua, pertumbuhan konsumsi juga meningkat delapan kali lipat, di mana saat ini menyumbangkan 55 persen dari PDB.

"Aspek investasi kita pun luar biasa peningkatannya, naik 13 kali lipat, dan mengalami peningkatan terhadap penyumbangan ke PDB dari 22 persen menjadi 34 persen. Terakhir, kita lihat dari kapitalisasi pasar bursa meningkat 15 kali lipat, kini kapitalisasinya mencapai USD500 miliar," tuturnya.