INDUSTRY.co.id, Jakarta – Harga emas di pasar komoditi berjangka (COMEX) New York Mercantile Exchange (NYMEX) untuk pengiriman Februari naik USD11,1, atau sekitar 0,94%, menjadi USD1.196,60 per troy ounce pada Rabu (11/1/2017) waktu setempat atau Kamis (12/1/2017) pagi waktu Indonesia bagian Barat (WIB). Itu adalah harga emas tertinggi selama tujuh pekan terakhir.
 
Menurut kantor berita Cina, Xinhua, kenaikan harga emas tersebut disebabkan depresiasi kurs dolar Amerika Serikat (AS) terhadap enam mata uang utama lainya menyusul komentar Donald Trump, Presiden AS terpilih, dalam konferensi pers yang memicu ketidakpastian di pasar keuangan. Itu diindikasikan oleh indeks dolar AS yang turun 0,4% menjadi 101,57.
 
Harga emas berbanding terbalik dengan kurs dolar AS. Pasalnya, ketika dolar AS terdepresiasi maka harga emas yang dinilai dalam US dolar akan menjadi lebih murah bagi pembeli yang menggunakna mata uang lainnya. Kondisi itu akan mendorong kenaikan permintaan emas yang pada akhirnya memicu kenaikan harga.
 
Seperti diketahui, kurs dolar AS telah melonjak lebih dari 5% sejak pemilihan presiden Amerika yang dilakukan pada tahun lalu. Sebagian besar, hal itu didorong oleh antisipasi kebijakan fiskal Trump yang dapat memacu petumbuhan ekonomi Amerika dan mendorong kenaikan laju inflasi.
 
Dalam konferensi pers tersebut, Trump juga mengungkapkan bahwa perusahaan farmasi memberatkan konsumen dengan membebankan harga obat yang sangat tinggi. Pernyataan itu menekan harga saham-saham perusahaan farmasi yang pada akhirnya mendorong penurunan pasar saham di Wall Street.
 
Sementara itu, harga perak untuk kontrak pengiriman Maret turun dua sen, atau 0,12%, menjadi USD16,828 per ounce. Sedangkan platinum untuk pengiriman April menyusut US$6,4, atau 0,65%, menjadi US$976,40 per ounce.(iaf)