INDUSTRY.co.id, Jakarta - Yayasan Rumah Amalia di Komplek Peruri, Ciledug, Kota Tangerang, Banten, tak hanya menyelamatkan lingkungan dari sampah kertas dan plastik. Tetapi dengan programnya yang bernama Kreativa , mampu menyelamatkan anak yatim dan turut meningkatkan potensi ibu-ibu rumah tangga dalam mendaur ulang barang-barang bekas di sekitar lingkungan mereka. Barang barang bekas tersebut mampu disulap menjadi karya kreasi yang bernilai jual tinggi.
Pendiri Yayasan Rumah Amalia yang juga berprofesi sebagai konsultan keluarga, Muhamad Agus Syafii, menjelaskan, Rumah Amalia memiliki program Kreativa. Yaitu pelatihan pembuatan karya seni dari barang bekas bagi anak-anak yatim dan yang kurang beruntung.
Selain itu, Rumah Amalia juga menjadi tempat belajar bagi janda (single parent) maupun ibu-ibu lingkungan sekitar yang ingin meningkatkan taraf hidupnya. Setiap Rabu dan Kamis, mereka diajari menghasilkan kerajinan tangan diantaranya, membuat bunga dan vas bunga dari sedotan atau kerajinan lain dari bahan baku kulit jagung maupun bawang.
Tujuannya, demi memberikan aktivitas yang bernilai tambah. “Setelah mereka mengantarkan anak sekolah, ibu-ibu bisa datang ke sini membuat bermacam-macam kreasi sambil menunggu anak-anak pulang sekolah ,” ujarnya.
Kehadiran Program Kreativa ini, kata Agus, telah memberikan manfaat nyata berupa penghasilan tambahan kepada peserta pelatihan. Setidaknya ibu-ibu bisa mengantongi uang saku tergantung dari banyaknya barang yang terjual.
Kegiatan Kreativa ini dimotori oleh Istri Agus sendiri dan telah menghasilkan berbagai hasil kerajinan tangan yang bisa dijual dengan harga Rp30 ribu hingga Rp500 ribu. Saat ini kata Agus terdapat 40 ibu yang ikut kegiatan Kreativa tersebut, 30 diantaranya merupakan orang tua dari anak-anak yang diasuh di Rumah Amalia.
“Melalui produk yang dihasilkan, mereka nantinya bisa mandiri dan membiayai anaknya setelah ditinggal suami. Sebagian ibu-ibu telah berhasil membuat kerajinan dan dipasarkan lewat online maupun pameran-pameran yang diadakan di tingkat Kelurahan maupun Kecamatan,” tutup Agus.
Yang menarik, Agus dan Ida istrinya memberikan program pelatihan tersebut berbekal dari tutorial yang ditontonnya di Youtube. Dirinya pun memilih bahan baku yang mudah diperoleh di sekitar agar dicari dan minim biaya pembelian. "Koran bekas saya beli di tukang loak Rp1500 per kilo, sedotan satu pak Rp10 ribu. Plastik bekas, botol bekas dan kulit jagung dari limbah rumah tangga,” ungkapnya.
Barang-barang bekas tersebut, melalui proses kreatif menjadi hiasan bunga, vas bunga, boneka dan lainnya. Hasil produk kreatif tersebut lantas dipasarkan secara online alias daring. Bahkan tidak sedikit perusahaan yang memesan untuk dijadikan hiasan di meja kantor.
Kini, Rumah Amalia, Rumah Bagi Anak Yatim & Duafa, menjadi tempat nyaman dan aman bagi 90 anak yatim dan anak dari kaum duafa. Setiap hari, sepulang sekolah mereka menghabiskan waktu untuk belajar, bermain dan bergembira di rumah tersebut.
Menurut Agus, Aktivitas itu sudah berlangsung sejak tahun 2006 silam, namun baru menjadi yayasan resmi di tahun 2011. Berawal dari kecintaan dan perhatian Agus bersama 11 orang lainnya, terhadap pendidikan anak-anak. Agus dan teman temannya bertindak sebagai pengajar, sekaligus donatur tetap yang mendanai seluruh kegiatan yayasan Rumah Amalia hingga saat ini. Mereka bahkan membiayai pendidikan sejumlah anak yatim piatu atau ditelantarkan oleh orang tuanya, agar tidak putus sekolah.
“Semuanya kami danai dari kocek pribadi yang kami sisihkan dari pekerjaan kami, ada yang sebagai penulis buku, pencipta lagu, akuntan maupun dokter. Sebab 12 orang donatur Rumah Amalia ini memiliki latar belakang profesi yang berbeda-beda,” ujar Agus Rabu (27/12).
Agus menyebut Rumah Amalia sebagai Rumah Belajar, sasaran utamanya adalah memberikan pendampingan dan pemulihan bagi anak-anak yang kehilangan orang tuanya, baik karena meninggal atau berpisah. Secara umum terdapat empat kegiatan yang dilakukan di Rumah Amalia yakni pendidikan, konsultasi keluarga, lalu fun therapy dan kreativa.
“Kegiatan yang kami lakukan bertujuan agar anak-anak yang kehilangan orang tua, tetap riang dan tetap punya harapan menjalani kehiadupan yang lebih baik dimasa datang,” ujarnya.
Lebih dari itu Rumah Amalia bisa menjadi tempat berlindung bagi anak-anak, termasuk yang mendapat perlakuan kurang baik di rumah. Selain itu Rumah Amalia juga menjadi tempat tinggal tetap dari sekitar 10 anak yatim piatu dan anak terlantar yang sama sekali tidak memiliki tempat tinggal. Di sini juga disediakan perpustakaan, ruang belajar & mengaji serta arena bermain.
Meski begitu sebenarnya, anak-anak yang menjadi asuhan Rumah Amalia tidak tinggal atau menetap, tapi tetap tinggal bersama orang tua mereka. Tapi bagi anak yang tidak memiliki orang tua, mereka disedikan tempat khusus.
Saat ini kata Agus, anak asuh Rumah Amalia terdiri dari anak usia sekolah dasar yang mencapai sekitar 60 anak, 30 anak lainnya duduk di bangku SMP dan SMA. Namun karena keterbatasan ruang dan dana, Agus mengaku belum berniat menambah jumlah anak didik Rumah Amalia.