Harga CPO Hari ini Diperkirakan Bakal Lanjutkan Kenaikan

Oleh : Abraham Sihombing | Rabu, 24 Januari 2018 - 12:18 WIB

Kebun Kelapa Sawit (Ist)
Kebun Kelapa Sawit (Ist)

INDUSTRY.co.id - Jakarta – Harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) Malaysia diperkirakan akan melanjutkan kenaikannya pada sesi perdagangan Rabu (24/01/2018) ini. Harga CPO Malaysia tersebut berpotensi bergerak pada kisaran harga RM2.440-2.535 per ton.

“Kendati penguatan Ringgit Malaysia (RM) dapat membatasi kenaikan harga, akan tetapi outlook penurunan produksi dan kenaikan harga minyak nabati lainnya diprediksi bakal menjadi sentimen positif bagi kenaikan harga CPO hari ini,” ujar Faisyal, Research Staff & Market Analyst PT Monex Investindo Futures, di Jakarta, Rabu (24/01/2018).

Harga CPO Malaysia pada perdagangan Selasa (23/01/2018) ditutup naik dalam dua sesi perdagangan secara beruntun sebesar 0,8% ke posisi RM2.494 per ton di Malaysi Derivatives Exchange.

Seorang trader CPO di Kuala Lumpur mengatakan bahwa produksi CPO Mayaksia pada periode 1-20 Januari 2018 ini telah terpangkas 17% dibandingkan pada perioe yang sama pada bulan sebelumnya.

Faisyal mengemukakan, volume produksi CPO diperkirakan akan terus mengalami penurunan musiman pada triwulan pertama setiap tahun sebelum kembali lagi mengalami puncak peningkatan produksi pada triwulan ketiga setiap tahun.

“Untuk kontrak pengiriman Maret 2018, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) naik 0,6%. Adapun komoditas tersebut untuk kontrak pengiriman Mei 2017 di Dalian Commodity Exchange ditutup meningkat 0,7%,” papar Faisyal.

Sementara itu, demikian Faisyal, sentimen negatif untuk harga CPO hari ini berpotensi datang dari penguatan Ringgit yang terjadi pada pukul 10.54 WIB. Mata uang Malaysia itu menguat 0,24% ke posisi 3,9175 per dolar AS. Penguatan Ringgit tersebut akan membuat harga CPO menjadi lebih mahal bagi pemilik mata uang lainnya.

Kendati demikian, menurut Faisyal, tren kenaikan harga CPO kedepan akan ditentukan jika harga komoditas sawit tersebut mampu menembus RM2.500 per ton sebelum pada akhirnya terus meluncur naik hingga RM2.535 per ton.

“Demikian pula sebaliknya, harga CPO akan berpotensi turun jika sudah mencapai RM2.455 per ton. Jika level harga tersebut telah tertembus, maka harga CPO akan terus merosot hingga RM2.440 per ton,” pungkas Faisyal. (Abraham Sihombing)

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Waketum KADIN Shinta Sukamdani, Menperin Agus Gumiwang, Ketua Apindo Haryadi Sukamdani

Sabtu, 06 Juni 2020 - 00:15 WIB

Kabar Gembira...Menperin Agus Bakal Gelontorkan Stimulus Modal Kerja untuk Pulihkan Industri Manufaktur

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) bertekad untuk terus mengupayakan pemulihan sektor industri manufaktur di dalam negeri yang terkena dampak pandemi Covid-19.

Produsen Batubara

Jumat, 05 Juni 2020 - 22:31 WIB

Industri Batubara Lesu Akibat Pasar Menyusut Terpapar Covid-19

Minimnya pergerakan ekonomi membuat industri batubara turut mengalami kelesuan dikarenakan menurunnya permintaan pasar terutama yang datangnya dari India dan Tiongkok.

Contoh proyek PT PP Persisi

Jumat, 05 Juni 2020 - 22:10 WIB

Cetak Laba Rp1,2 triliun, PT PP Gelontorkan Dividen Tunai 22,5 %

PT Pembangunan Perumaha (Persero) Tbk (PTPP) berhasil catatkan kinerja positif perusahaan untuk pendapatan usaha tahun buku 2019 sebesar Rp24,65 triliun dengan laba bersih yang perseroan mencapai…

Tokok Pakaian GAP (ist)

Jumat, 05 Juni 2020 - 22:03 WIB

Enggak Kuat Merugi hingga Rp13,1 Triliun, GAP Inc Terpaksa Tutup Toko

Perusahaan fashion GAP Inc, pada Kamis (5/6/2020) melaporkan kerugian yang dialaminya hingga 43% dalam penjualan kuartal I 2020 yang mencapai Rp13,1 triliun. Kerugian besar yang dialam

Penyerahan donasi dilakukan secara simbolis oleh Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja (kiri) dan Direktur BCA Erwan Yuris. (Doc:BCA)

Jumat, 05 Juni 2020 - 21:12 WIB

Bikin Salut, Grup BCA Salurkan Donasi ke PERSI

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) sebagai institusi keuangan yang senantiasa di sisi masyarakat berkomitmen untuk terus mendukung berbagai tindakan penanganan COVID-19.