INDUSTRY co.id -Jakarta - Menko Kemaritiman, Luhut Panjaitan mengatakan, harga tiket kereta ringan/LRT Jabodebek ditetapkan Rp12.000. Namun tarif tersebut bisa saja naik jika penumpang lebih banyak.

Menurutnya, dengan asumsi jumlah penumpang yang terus bertambah atau setelah KRL beroperasi selama tiga atau empat tahun, maka bukan tidak mungkin harga tiket yang dibanderol Rp12.000 dinaikkan.

"Jumlah penumpang (akan) nambah, kita hitung masih di penumpang Rp200ribuan, angka ini bisa naik 10 tahun ke depan atau mungkin lebih cepat dari itu sampai 474 ribu penumpang. Itu baru dari Cibubur, belum bicara dari Bogor, Depok, dan tempat lain," tutur Luhut di Jakarta, Jum'at (29/12/2017).

Luhut mengatakan, tarif yang ditetapkan tersebut sudah melalui formulasi, termasuk memasukkan angka yang disubsidi oleh pemerintah. Subsidi yang diberikan untuk tiket LRT nilainya nyaris mencapai Rp2 triliun. Semakin banyak jumlah penumpangnya, maka subsidi yang diberikan pemerintah akan menurun.

"Hampir Rp2 triliun, tapi tidak fix Rp2 triliun, karena (ada) cash flow gap,dan kita yakin akan pupus (subsidinya) karena jumlah penumpang akan naik," ujarnya.

Luhut memastikan proyek kereta ringan/LRT bisa berjalan sesuai rencana. Hal ini diindikasikan dari minat bank yang berkenan untuk membiayai proyek dengan total investasi Rp29,9 triliun. "Proyek ini menurut saya sangat bagus. Dilihat dari jumlah bank yang masuk saja," jelasnya.

Proyek yang bernilai Rp29,9 triliun ini telah mendapatkan pinjaman dari 12 bank sindikasi senilai Rp19,25 triliun baik dari bank himbara maupun swasta dengan jangka waktu tenor selama 18 tahun.