INDUSTRY.co.id - Jakarta, Suntikan modal sebesar Rp 1 triliun dari induk usaha membuat BNI Syariah optimistis dapat mewujudkan target masuk dalam kelompok usaha bank BUKU III pada tahun 2019 - 2020.
Potensi pasar syariah yang membentang meyakinkan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk untuk terus memperluas ekspansi bisnis pembiayaan syariah melalui anak usahanya PT Bank Negara Indonesia Syariah (BNI Syariah).
Terkait itu, BNI memutuskan untuk memperluas kapasitas pembiayaan BNI Syariah dengan menyuntikan modal sebesar Rp 1 triliun yang mulai efektif bulan lalu.
Tambahan modal itu kata Direktur Utama BNI Syariah, Abdullah Firman Wibowo dalam sebuah kesempatan, telah mengerek rasio capital adequacy ratio (CAR) BNI Syariah dari level 14,9 persen pada September 2017 menjadi 20 persen.
Sebelum masuknya tambahan modal tadi Firman menyebutkan bahwa modal inti perusahaannya tercatat sebesar Rp 2,756 triliun.>
Nah dengan masuknya tambahan ekuitas tadi BNI Syariah menurutnya bisa makin ekspansif menyalurkan pembiayaan dan investasi.
Kita akan mengalokasikan tambahan modal untuk pembiayaan paling banyak di sektor komersial. Rinciannya, sektor komersial akan mendapatkan Rp500 miliar serta konsumer dan UKM Rp200 miliar dan sisanya pengembangan digital banking dan IT Rp300 miliar, ujarnya kepada redaksi Industry.co.id.
Tapi paling penting tentu saja membuatnya makin optimistis dapat mewujudkan ambisi memasukan BNI Syariah sebagai bank dengan kategori usaha BUKU III dengan modal inti minimum Rp 5 triliun pada tahun 2019 atau paling lambat 2020.
Tak hanya ekspansi pembiayaan, kategori bank BUKU III menurutnya membuka peluang bagi BNI Syariah untuk melebarkan sayap bisnis ke luar negeri, mengikuti jejak induk usahanya.
Sementara terkait perkembangan kinerja, manajemen BNI Syariah yakin target pertumbuhan pembiayaan sebanyak 12,68 persen (year on year) tahun ini akan tercapai.
Hingga akhir Oktober 2017 lalu, BNI Syariah telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 22,66 triliun.
Sebagai catatan, pada akhir tahun 2016 lalu, total pembiayaan BNI Syariah tercatat Rp 20,5 triliun, artinya pada akhir 2017 akan mencapai Rp 23,1 triliun.
Adapun di tahun 2018, BNI Syariah mematok pertumbuhan pembiayaan sebesar 18% dengan porsi terbesar pada pembiayaan produktif.
Segmen pembiayaan tersebut diyakini bisa tumbuh hingga 24 persen, sementara pembiayaan konsumtif diharapkan tumbuh 14 persen.
Target yang ditetapkan tadi mengacu pada sejumlah sektor potensian yang dibidik diantaranya sektor konstruksi, jasa sosial masyarakat (pendidikan dan kesehatan) serta perdagangan.
Meski ekspansif BNI Syariah akan menjaga kualitas pembiayaan atau non-performing financing (NPF) lantaran kondisi ekonomi diperkirakan belum terlalu kondusif.
Untuk itu BNI Syariah disebutkan akan menghindari sektor sektor yang berisiko tinggi seperti pertambangan. Dengan begitu rasio NPF akan terjaga di bawah 3,25 persen pada tahun 2018.
Berdasarkan laporan kinerja per September 2017, posisi NPF bank ini berada di di level 3,29 persen.