INDUSTRY.co.id - Jakarta, Satu persatu anak usaha PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (Persero) berpindah ke tangan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Bank yang fokus pada kredit UMKM tersebut menyiapkan dana hingga Rp 4 Triliun untuk pengembangan anak usaha.

Advertisement

Ada sejumlah langkah dilakukan perbankan dalam memacu pertumbuhan bisnisnya. Tidak melulu mengandalkan strategi organik, langkah anorganik dengan melakukan akuisisi dinilai merupakan strategi yang cepat dan efektif menggenjot pendapatan sekaligus mempertebal nilai aset.

Aksi akuisisi paling anyar dilakukan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk yang baru saja merampungkan akuisisi atas 35% saham PT Bahana Artha Ventura (BAV). Nama terakhir merupakan anak usaha PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (Persero) atau BPUI.

Advertisement

Dengan tuntasnya akusisi maka jumlah saham BPUI di BAV menyusut menjadi 64,65 persen dari sebelunya 99,45 persen.

Sementara saham Koperasi Karyawan BPUI berkurang dari 0,55 persen menjadi 0,35 persen. Di sisi lain, modal disetor/ditempatkan Bahana meningkat dari Rp132,24 miliar menjadi Rp203,45 miliar.

Advertisement

Berdasarkan keterangan resmi yang dipublikasikan perseroan di Bursa Efek Indonesia (BEI), bank yang dikenal fokus pada penyaluran kredit usaha mikro dan usaha kecil menengah (UMKM) tersebut menyuntikkan modal pada Bahana Artha Ventura sebesar Rp71,21 miliar.

Direktur Utama BRI Suprajarto pernah menjelaskan bahwa akuisisi Bahana Artha Ventura dilakukan guna mewujudkan perseroan untuk merambah bisnis teknologi jasa keuangan (financial technology/fintech) melalui perusahaan modal ventura tersebut.

Advertisement

Tak berhenti pada akusisi BAV, BRI rupaya juga tengah melakukan proses uji tuntas untuk akuisisi anak usaha BPUI lainnya, yakni Bahana Sekuritas.

Suprajarto juga pernah mengungkapkan kalau akusisi Bahan Sekuritas juga akan dirampungkan pada November 2017. Namun ambisi BRI yang telah terpendam sejak Menteri Badan Usaha Milik Negara dijabat Dahlan Iskan pada tahun 2012 tersebut hingga kini belum juga rampung.

Adapun tujuan akusisi Bahana Sekuritas, manajemen BRI mengatakan merupakan langkah bank ini dalam memperkuat penetrasinya di pasar modal.

Saat ini 100% saham Bahana Sekuritas masih dikempit oleh BPUI. Berbeda dengan akuisisi Bahana Artha Ventura yang bersifat minoritas, akuisisi pada Bahana Sekuritas akan dilakukan BRI secara mayoritas atau sekitar 60 persen kepemilikan.

Sementara itu Direktur Keuangan BRI Haru Koesmahargyo sebelumnya mengaku menyiapkan dana sekitar Rp500-700 miliar untuk akusisi dua anak usaha Bahana itu.

Adapun pada tahun ini, perusahaan pelat merah menganggarkan sekitar Rp4 triliun guna memperluas bisnis anak usaha, termasuk menambah anak usaha.

Nah bila akusisi Bahana Sekuritas berhasil, maka BRI telah memposisikan diri sebagai bank yang memiliki layanan keuangan yang lengkap.

Selain memiliki dua anak usaha di industri perbankan yakni BRI Syariah dan BRI Agroniaga Tbk. BRI juga telah memiliki BRI Multifinance dan juga BRI Life.

Upaya memperbanyak lini bisnis dengan akusisi perusahaan jasa keuangan dilakukan BRI dengan target meningkatkan pundi-pundi pendapatan.

Targetnya semua anak usaha bisa memberi kontribusi hingga 10 persen dari total laba BRI secara konsolidasi dalam lima tahun mendatang atau tahun 2022. Sementara saat ini, anak-anak usaha BRI tercatat baru memberi kontribusi sebesar 2,5 persen dari total laba BRI secara konsolidasi.

Hingga kuartal III 2017, BRI tercatat meraup laba bersih konsolidasi sebesar Rp 20,5 triliun. Jumlah tersebut hanya tumbuh satu digit sebesar 8,27 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu senilai Rp 18,97 triliun.

Direktur Keuangan BRI Haru Koesmahargyo mengatakan laba bersih perseroan sebagian besar masih ditopang oleh pendapatan bunga bersih yang tumbuh 11,96 persen menjadi Rp 55,19 triliun pada kuartal III 2017 dibandingkan dengan periode tahun sebelumnya.

Sementara hingga akhir 2017 BRI disebut Heru mengincar pertumbuhan laba sebesar 5 persen 7 persen dibanding perolehan laba pada akhir 2016.

Akuisisi Saham Danamon

Kabar akusisi di industri perbankan tak hanya dilakukan BRI. Belum lama ini terkuak kabar bila investor asal Jepang, Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ (BTMU) berencana membeli sekitar 40 persen saham Bank Danamon untuk memperluas bisnis perusahaan di Asia Tenggara.

Nilai transaksi disebutkan sekitar 1,76 miliar dolar AS atau setara Rp23,7 triliun.

Kabar rencana akuisisi itu telah dibenarkan oleh Direktur PT Bank Danamon Tbk, Michellina Triwardhany.

Menurutnya, terdapat investor yang sudah memulai penjajakan untuk membeli saham milik perusahaan asal Singapura yang merupakan pengendali bank tersebut, Asia Financial Indonesia Pte Ltd (AFI).

Michellina melalui pernyataan resminya di Jakarta, beberapa waktu lalu menyebutkan bahwa Asia Financial Indonesia Pte Ltd (AFI) sudah menerima "expression of interest" terkait kepemilikan saham di Danamon.

Namun, Michellina menegaskan, AFI dan investor tersebut baru akan melakukan negoisasi sehingga belum terdapat hasil atau kesepakatan yang mengikat.

Ketertarikan investor tersebut tergantung pada hasil negosiasi lebih lanjut yang belum tentu menghasilkan perjanjian yang mengikat. Sehingga transaksi ini belum tentu terealisasi, katanya.

Namun demikian, kabar akuisisi tersebut membuat manajemen PT Bank Danamon Tbk harus berurusan dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Lembaga ini telah memanggil manajemen Bank Danamon untuk mengklarifikasi kabar tersebut.

Secara prinsip, OJK mendukung rencana ini, tetapi harus bisa memberikan kontribusi bagi perekonomian nasional.

Kepala Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana mengatakan hingga saat ini pihaknya belum menerima permohonan akuisisi Bank Danamon oleh BTMU.

Meski begitu, OJK menilai aksi korporasi ini akan memperkuat kinerja Bank Danamon untuk dapat berkembang dengan pesat.

Heru menekankan agar saat menyampaikan permohonan resminya disertakan rencana konkrit untuk bisa membantu perekonomian nasional Indonesia. Misalnya, komitmen Bank Danamon untuk memberikan kredit khusus ke infrastruktur Indonesia.

"Jangan sampai datang (ke Indonesia) hanya untuk memberikan kredit ke (perusahaan) Jepang saja. Jadi kami harap BTMU bisa membuat rencana bisnis yang bisa menopang pertumbuhan ekonomi nasional," ujar Heru saat ditemui redaksi Industry.co.id di Kantor OJK, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Di Indonesia Bank Danamon tercatat memiliki kinerja yang cukup baik. Sepanjang Januari-September 2017, bank ini berhasil meraup laba hingga Rp 3 triliun atau naik 21 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Terkait pemegang saham, mengacu pada data Bursa Efek Indonesia (BEI), Temasek Holding melalui Asia Financial (Indonesia) Pte. Ltd. memegang 67,37 persen saham Danamon.

Sisanya sebesar 26,12 dipegang masyarakat, dan JPMCB-Franklin Templeton Investment Fund sebanyak 6,51 persen.