INDUSTRY.co.id - Jakarta, Perolehan devisa negara dari sektor pariwisata sejak tahun 2016 sudah mengalahkan pemasukan dari migas dan di bawah pemasukan dari CPO. Pemerintah menargetkan pariwisata sebagai penyumbang utama devisa pada 2019.
Practice Manager Bank Dunia untuk Makroekonomi dan Manajemen Fiskal di kawasan Asia Tenggara Pasifik, Ndiame Diop, seperti dilansir dari laman BKPM, menyampaikan pandangannya seputar investasi sektor pariwisata di Indonesia. Menurut Diop, upaya pemerintah meningkatkan investasi Indonesia dapat diwujudkan melalui berbagai kebijakan yang tidak hanya diperuntukkan bagi industri hulu dan hilir saja.
Tapi, investor juga turut merasakan adanya peluang-peluang baru di sektor pariwisata. Bagi pemerintah kondisi geografis dan alam Indonesia yang luar biasa untuk pariwisata tidak boleh disia-siakan, guna dikembangkan untuk meningkatkan jumlah investasi Indonesia.
Melalui peluang investasi di sektor industri pariwisata, lanjut Diop, Indonesia berkesempatan untuk meningkatkan pendapatan jangka menengah. “Sektor pariwisata Indonesia masih sangat terbuka lebar untuk mendatangkan investasi asing. Tapi perlu diingat, infrastruktur yang lebih baik lagi harus disiapkan untuk mendukung pertumbuhan investasi di sektor ini,”ujarnya.
Upaya pemerintah memang menujukan hasil yang membanggakan. Investasi di dunia pariwisata terus naik dari tahun ke tahun. Badan Koordinasi Penanaman Modal mencatat investasi pariwisata pada Semester I Tahun 2017 mencapai 929,14 juta dolar Amerika Serikat (Rp12,4 triliun) atau 3,67 persen dari total investasi nasional.
Nilai ini tumbuh 37 persen dari realisasi investasi pariwisata pada semester I tahun 2016. Bahkan nilai investasi tersebut jauh lebih besar dari nilai investasi pada 201 yang tercatat sebesar 602 juta dollar AS atau berkontribusi sebesar 1,45 persen dari total investasi nasional.
Memang dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah begitu gencar dalam pembangunan sektor pariwisata. Apalagi dengan dukungan ribuan destinasi wisata, diproyeksikan sektor pariwisata akan menjadi penyumbang devisa terbesar pada 2019. Pada tahun 2015, misalnya, sektor pariwisata menyumbang devisa sebesar US$ 12,225.
Angka ini membuat pariwisata sebagai penyumbang devisa keempat terbesar di bawah Migas (US$ 18,574 miliar), CPO (US$ 16,427 miliar), dan batu bara (US$ 14,717 miliar).
Sementara tahun 2016, sumbangan devisa pariwisata melonjak menjadi US$ 13,568 miliar. Angka ini membuat pariwisata menjadi penyumbang devisa kedua terbesar setelah industri kelapa sawit (CPO) yang menyumbang US$ 15,965 miliar.
Menteri Pariwisata Arief Yahya, menyebut, perolehan devisa negara dari sektor pariwisata sejak tahun 2016 sudah mengalahkan pemasukan dari migas dan di bawah pemasukan dari CPO.
“Karena itu pemerintah kemudian menargetkan pariwisata sebagai penyumbang utama devisa pada 2019. Targetnya, pada 2019 nanti, pariwisata akan menyumbang US$ 24 miliar,”ujarnya.
Yang membanggakan adalah, perusahaan media di Inggris The Telegraph mencatat Indonesia sebagai menjadi salah satu dari 20 negara dengan pertumbuhan pariwisata tercepat. Bahkan mereka menilai pertumbuhan pariwisata Indonesia empat kali lebih tinggi dibanding pertumbuhan regional dan global. Data memang membuktikan klaim tersebut.
Pertumbuhan pariwisata Indonesia dalam beberapa tahun terakhir mencapai 25,68 persen, sedangkan industri plesiran di kawasan ASEAN hanya tumbuh 7 persen dan di dunia hanya 6 persen.
Tak hanya itu, Indeks Daya Saing Pariwisata Indonesia menurut World Economy Forum (WEF) juga menunjukkan perkembangan menggembirakan. Menurut mereka, peringkat Indonesia naik 8 poin dari 50 di 2015 ke peringkat 42 pada 2017.
Meningkatnya sumbangan devisa dari sektor pariwisata, tentu saja, karena jumlah wisatawan yang terus melonjak. Pada 2015, jumlah wisatawan berjumlah 10 juta orang.
Angka tersebut bertambah menjadi 12 juta orang pada 2016. Penambahan jumlah wisatawan ini menambah pemasukan devisa negara dari US$ 12,336 miliar menjadi US$ 12,44 miliar.
Sementara pada paruh pertama tahun 2017 ini tercatat jumlah pelancong asing sudah menyentuh angka 7,8 juta orang. Pemerintah menargetkan 20 juta wisatawan akan berkunjung ke Indonesia pada 2019.
Untuk memenuhi target perolehan devisa dan 20 juta wisatawan pada 2019, pemerintah pun telah mengembangkan 10 destinasi wisata prioritas, yakni Tanjung Kelayang, Tanjung Lesung, Mandalika, Morotai, Borobudur, Danau Toba, Kepulauan Seribu, Bromo Tengger Semeru, Wakatobi, dan Labuan Bajo.
Ke-10 destinasi prioritas tersebut melengkapi 10 destinasi lain yang telah berkembang, seperti Wakatobi, Raja Ampat, Bunaken, Bali, Jakarta, Kepulauan Riau, Banyuwangi, Bandung, Yogyakarta, Solo dan Semarang.
Mempertajam Strategi
Deputi BP3M Prof. I Gde Pitana mengatakan, jumlah kunjungan wisman ke Indonesia pada Januari hingga Agustus 2017 secara komulatif mencapai 9.403.614 wisman atau tumbuh 25,68%. Pertumbuhan ini besarnya 4 kali lipat dari pertumbuhan (growth) pariwisata dunia tercatat 6%, begitu pula pertumbuhan pariwisata regional ASEAN sebesar 6%.
“Melihat perolehan wisman dalam dua bulan terakhir di atas 1,3 juta per bulan ini kita optimis akhir Desember 2017 target 15 juta wisman akan terlampaui. Mudah-mudahan dalam 4 bulan ke depan kondisinya berjalan normal tidak ada force majeure,” kata I Gde Pitana.
I Gde Pitana menjelaskan, dalam empat bulan ke depan (September-Desember) 2017 harus mengejar tambahan sebanyak 5,75 juta wisman, untuk ini pihaknya akan mempertajam strategi promosi dan pemasaran.
Strategi promosi menggunakan skema DOT (Destinasi, Originasi, dan Timeline) dalam 4 bulan ke depan akan lebih fokus pada pasar terdekat (short haul) terutama untuk originasi wisman dari Tiongkok, Singapura, Malaysia, Australia, dan Jepang sebagai kontributor wisman terbesar bagi Indonesia.
Sementara itu destinasi yang disiapkan untuk menjaring wisman dari pasar (originasi) utama ini yakni; Great Jakarta; Great Bali; Great Kepri; Joglosemar (Yogyakarta Solo, dan Semarang); Bunaken - Wakatobi Raja Ampat, Medan, Lombok, Makassar, Bandung, dan Banyuwangi.
Strategi promosi dengan pola BAS (Branding, Advertising, and Selling),menurut Pitana, tahun ini akan lebih banyak melakukan penjualan langsung (direct selling) serta didukung advertising dengan media online. Misalnya, baru-baru ini Kemenpar bersama 15 pelaku bisnis (sellers) dari Tanah Air melakukan sales mission di tiga kota besar Thailand (Phuket, Chiang Mai, dan Bangkok) sebagai upaya mendongkrak kunjungan wisman Thailand ke Indonesia tahun ini ditargetkan sebesar 135.000 wisman.
Berpartisipasi dalam pameran bursa pariwisata MATTA Fair 2017 di Johor Baru (Agustus) maupun Kuala Lumpur (September) sebagai upaya menarik sebanyak mungkin kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) dari Malaysia yang tahun ini ditergetkan sebesar 1. 772.000 wisman.
Untuk meningkatkan wisman dari pasar Australia yang tahun ini ditargetkan sebesar 1,8 juta wisman, juga dilaksanakan sales mission di dua kota besar yakni; Sydney dan Brisbane pada Juni-Juli 2017 yang lalu dengan mengajak pelaku industri pariwisata dari Bali dan Lombok sebagai destinasi favorit wisman Australia.
Sementara itu untuk meningkakan kunjungan wisman dari Pasar Great China (Tiongkok, Hongkong, dan Taiwan) Kemenpar melakukan sales mission di kota-kota besar sumber wisman di Tiongkok dan berpartisipasi dalam pameran atau bursa internasional di sana seperti; CITM, DRT Hongkong, dan TITF.
”Untuk mendukung kegiatan direct selling di Tiongkok kita melakukan advertising bekerjasama dengan media online terbesar di Tiongkok antara lain Baidu, Qunar, maupun Xinhua, “ kata Pitana.