INDUSTRY co.id -Semarang - Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dan PT Sido Muncul bersinergi mengampanyekan program pemberdayaan masyarakat yang dimiliki masing-masing melalui media massa.
Hal itu mengemuka saat rombongan BAZNAS Media Center (BMC) berkunjung ke pabrik PT Sido Muncul di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Jumat (24/11/2017).
"Ini merupakan bagian dari upaya bersinergi berbagi pengalaman dalam membangun masyarakat," ujar Manajer Humas PT Sido Muncul, Bambang Supartoko di kantornya.
Hadir Kepala Bagian (Kabag) CSR BAZNAS Iman Damara, Kabag Layanan Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Mohan dan Kabag Humas Yudhiarma MK.
Selain berdiskusi, BAZNAS Media Center meninjau lokasi program CSR di Danau Rawapening, Kabupaten Semarang.
"Apa yang kami lakukan di Danau Rawapening terinspirasi dari program sama yang sudah banyak diimplementasikan dan sukses seperti di Labuanbajo, NTT dan sebagainya," ujar Bambang.
Ada beberapa kegiatan di Danau Rawapening yang dilakukan PT Sido Muncul dan sejumlah unit kerja pemerintah seperti Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan Pemerintah Kabupaten Semarang.
"Program pemberdayaan ini berdampak positif pada beberapa sektor kehidupan masyarakat setempat seperti perikanan, wisata air, pertunjukan seni-budaya, kuliner dan kerajinan tangan," ujarnya.
Dan yang paling urgen, imbuh dia, adalah pengolahan limbah eceng gondok untuk bahan bakar alternatif. "Kami menyiapkan pabrik dan teknologi yang bisa mengubah eceng gondok menjadi wood pellet, " ujarnya.
Bambang menjelaskan, wood pellet adalah pengolahan dengan cara menghancurkan limbah eceng gondok menjadi serbuk halus, kemudian dipadatkan dengan mesin press sehingga berbentuk seperti pelet.
"Pelet eceng gondok berfungsi sebagai energi alternatif ramah lingkungan dengan kadar Co2 yang rendah sehingga menghasilkan pembakaran sempurna yang menyamai batubara," katanya.
Sementara itu, Kabag CSR BAZNAS Iman Damara, menambahkan, pengumpulan bahan baku wood pellet yang dilakukan oleh kaum dhuafa dengan membangun kelompok usaha berpeluang dikerjasamakan dengan BAZNAS.
"Kita memiliki banyak program pemberdayaan masyarakat, termasuk Zakat Community Development (ZCD) yang sudah eksis di 40 titik lokasi di seluruh Indonesia," ucapnya.
Salah satu ZCD BAZNAS, lanjut Iman, mirip dengan CSR Sido Muncul di Danau Rawapening. "Kami punya ZCD pengolahan eceng gondok di Cililin, Kabupaten Bandung, yang dimanfaatkan untuk bahan baku kerajinan rakyat," katanya.
Iman menyebutkan, bila di level tata kota ada sister city atau kota kembar, maka dia berharap untuk pemberdayaan masyarakat juga bisa dibentuk sister comdev. "Ini untuk mensinergikan program yang sama," katanya.
Menurut Iman, bisa saja bahan baku eceng gondok yang diolah dan dikumpulkan masyarakat dari kalangan mustahik atau asnaf fakir-miskin dikoordinasi oleh BAZNAS untuk dikirim dan dijual ke pabrik Sido Muncul.
"Ini untuk mendorong optimalisasi produksi bahan bakar alternatif, sehingga bisa mencapai skala industri nasional," katanya.
Bambang mengungkapkan, banyak danau di Indonesia mengalami problem yang sama, yakni "mati" karena ditutupi gulma eceng gondok.
"Di Danau Rawapening yang luasnya mencapai 2.700 hektare (ha), sekarang tinggal 800 ha, sisanya eceng gondok. Dulu kedalaman 30 meter, sekarang hanya 4-5 meter. Semua danau itu habis kena eceng gondok dan pendangkalan. Danau Tempe 13 ribu ha, cuma sisa 3 ribu ha. Danau Tondano, Ciracas, Jatiluhur, Kali Ciliwung, itu eceng gondok semua," ujarnya.
Pelet eceng gondok, tutur Bambang, memiliki banyak keunggulan dibandingkan energi lain seperti gas.
"Ini lebih untung ketimbang pakai elpiji. Kalau gas untuk dapat 11 ribu kalori LPG keluar uang Rp 12 ribu per kg. Kalau ini, kalorinya 4.300-5.000 jadi butuh sekitar 2,6 kg. Harganya Rp 1.600 per kg. Ini cuma perlu Rp 5.000 untuk dapat 11 ribu kalori. Lebih murah," katanya.
Dia menjelaskan, mesin Sido Muncul mampu mengolah 10 ton bahan baku eceng gondok per jam, di mana 5-6 kg eceng gondok segar menghasilkan 1 kg pelet.
"Mesin tersebut bisa bekerja secara reguler tanpa shift selama 8 jam per hari. Bila diberlakukan shift, bisa 24 jam nonstop," katanya.
Bambang memaparkan, kendala saat ini adalah pasokan bahan baku yang belum stabil karena pengerukan eceng gondok dari danau dan pengiriman ke darmaga mengalami beberapa hambatan seperti cuaca, air rawa yang sering surut dan manajemen jam kerja yang belum maksimal.
"Untuk biaya pokok produksi 900 rupiah per kilogram pelet belum termasuk biaya investasi. Sehingga pelet ini dijual 1500-1600 rupiah per kilogram," katanya.
Sido Muncul sudah sejak beberapa tahun ini mengembangkan teknologi wood pellet dan menggunakannya untuk mengolah jamu. "Ini membantu penurunan biaya produksi," ucapnya.
Bambang mengakui, wood pellet sudah menjadi komoditas ekspor. Sebab, pelet eceng gondok berpotensi ekspor. "Wood pellet ini banyak dilirik pengusaha Jepang dan Korea Selatan," katanya. (Nin)