INDUSTRY.co.id, Jakarta - Berwisata saat ini sudah menjadi salah satu kebutuhan bagi tiap orang. Terbukti bahwa jumlah tiap wisatawan yang berpergian ke destinasi wisata mulai meningkat. Tetapi, apakah dari mereka yang melakukan perjalanan memikiran untuk keselamatan dirinya sendiri?
Hal ini membuktikan bahwa kesadaran akan berasuransi wisatawan khususnya dari Indonesia masih rendah. Padahal, asuransi perjalanan salah satu bagian terpenting dalam berpergian ke suatu tempat wisata, apalagi saat berwisata ke luar negeri. Padahal, asuransi perjalanan sendiri mempunyai kelebihan untuk menekan risikan di dalam perjalan seperti, sakit, kecelakaan, hingga kematian.
Country CEO AXA Indonesia yang juga President Director AXA General Indonesia, Paul Henri Rastoul mengatakan, "Indonesia baru mencakup 5 persen kesadaran masyarakatnya dalam mengambil asuransi perjalanan. Masih dibawah Singapura 75 persen dan Malaysia 20 persen," ujarnya saat menjadi pembicara di seminar Indonesia Tourism Outlook (ITO) 2018 yang diinisiasi oleh Forum Wartawan Pariwisata (Forwapar), Rabu (1/11/2017) lalu.
Menurut data yang menyebutkan, pada tahun 2016 jumlah masyarakat Indonesia yang bepergian ke luar negeri mencapai 7 juta orang. Meningkat 6 persen dibanding tahun 2015. Sementara hingga pertengahan tahun 2017, jumlah masyarakat Indonesia yang bepergian di lingkup domestik telah mencapai 200 juta orang. Target pemerintah sendiri, hingga akhir tahun 2017 mencapai 265 juta orang.
Sementara, data dari Kementerian Agama menyebutkan, tahun 2015 jumlah jamaah umrah Indonesia mencapai 717 ribu orang. Dan meningkat 14 persen di tahun 2016 menjadi 818 ribu jamaah umrah.
"Angka tersebut tentunya menjadi peluang, hanya saja PR-nya adalah edukasi market. Selama ini masyarakat Indonesia membeli asuransi perjalanan hanya untuk melengkapi persyaratan visa," kata Paul.
Lalu bagaimana cara untuk dapat menumbuhkan awareness masyarakat terhadap asuransi perjalanan?
Paul mengatakan, salah satunya adalah kerja sama yang simultan antara regulator, industri dan biro perjalanan untuk mengadopsi satu program untuk dilakukan secara bersama yang dapat meningkatkan kesadaran tentang asuransi terhadap masyarakat.
Selain itu edukasi terhadap pasar bahwa asuransi perjalanan tidak hanya meng-cover kesehatan dan kejadian personal selama perjalanan.
"Tapi juga pengalaman yang tidak menyenangkan yang mungkin didapat konsumen saat bepergian," ujarnya.
Tidak ketinggalan adalah pemanfaatan teknologi di tengah berkembangnya Teknologi Informasi dan Komunikasi. Bahwa penerapan teknologi terbaru yang dibangun para "pemain" akan dapat meningkatkan kepuasan konsumen di masa depan dan akan menumbuhkan peluang pengembangan pasar asuransi perjalanan.
AXA sendiri sebagi ahli di bidang asuransi telah mengantisipasi hal tersebut dengan mengedepankan visi dan inovasi agar dapat menjadi yang terdepan di pasar (market). AXA telah meluncurkan Robotic Process Automation yang memungkinkan travellers mendapat polis asuransi mereka secara instan melalui digital atau aplikasi mobile.
Selain itu juga adalah meluncurkan AXA Smart Claim yang menyempurnakan proses klaim travelers dan mempercepat service level agreement. Dalam waktu dekat AXA juga akan meluncurkan perlindungan perjalanan domestik dalam beberapa waktu ke depan yang akan meng-cover perjalanan udara dan darat.
"Serta yang tidak kalah penting, AXA terus membangun awareness dan kampanye edukasi tentang pentingnya pencegahan dini dalam bepergian," pungkasnya Paul