INDUSTRY.co.id - Jakarta, Pemerintah akan memprioritaskan negosiasi dua perdagangan bebas atau free trade agreement (FTA), yakni Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA CEPA) dan Indonesia-European Union CEPA, pada tahun depan.

Advertisement

"Kami menyiapkan tiga strategi untuk menghadapi dampak negatif dua FTA itu terhadap beberapa subsektor industri, yakni mengamankan pasar dalam negeri, memperluas penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI), dan konsisten menerapkan program peningkatan penggunan produk dalam negeri (P3DN)," kata Direktur Jenderal Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional Kementerian Perindustrian(Kemenperin), Harjanto di Jakarta, Rabu (28/12).

Menurut Harjanto, dua FTA bisa mengembangkan akses pasar industri nasional. Negosiasi dengan Uni Eropa (UE) diharapkan dapat selesai dalam dua tahun, sehingga Indonesia bisa lebih cepat mendapatkan preferensi tarif.

Advertisement

"Intinya kita harus lebih cepat, karena di beberapa sektor industri, seperti tekstil dan produk tekstil (TPT), permasalahannya adalah mendapatkan preferensi tarif lebih baik. Negara tetangga yang sudah menjalin FTA dengan pasar tradisional, hasilnya akses pasar lebih optimal," ujarnya.

Harjanto menuturkan, dalam proses perundingan kebanyakan negara bertahan dengan kepentingannya masing-masing. Sebab, tingkat perkembangan masing-masing negara berbeda, terutama untuk negara berkembang seperti Indonesia.

Advertisement

"Negara berkembang cenderung memiliki banyak keterbatasan ketimbang negara maju. Contohnya, dalam kasus Indonesia-European Union CEPA, industri Indonesia akan mendapatkan preferensi tarif ekspor, di sisi lain, Indonesia juga terancam oleh serbuan barang impor," tutur Harjanto.

Harjanto menambahkan, dalam perundingan FTA, neraca perdagangan bukan satu-satunya pertimbangan. Indonesia bisa mengambil manfaat dari sisi investasi, pemanfaatan sumber daya alam (SDA) maupun pertukaran teknologi.

Advertisement

"Misalnya dengan Australia, negara itu memiliki SDA yang mungkin cukup banyak dibandingkan di Indonesia, misalnya raw sugar. Ini bisa dimanfaatkan industri makanan dan minuman, jadi kita impor produk itu dari luar, lalu kita bangun nilai tambahnya di dalam negeri," ungkap Harjanto. (Hry/ Imq)