INDUSTRY.co.id - Jakarta-Tensi politik baik Pikada 2018 dan Pemilu 2019 sudah mulai mmpengaruhi Indeks Harga Saham Gabunga (IHSG). Sampai bulan September lalu, tren aksi jual saham oleh investor asing masih terus berlanjut. Menariknya, IHSG justru tetap menguat dan terus menembus rekor baru. Fenomena apakah yang sedang terjadi? Memang benar, kedua kejadian yang kontradiktif tersebut merupakan sesuatu yang menarik.
Andrian Tanuwijaya Portfolio Manager, PT Manulife Aset Manajemen Indonesia mengatakan, ada beberapa faktor domestik yang dipertanyakan oleh investor asing, dan pada akhirnya mendorong aksi jual untuk mengamankan keuntungan yang telah diperoleh dari pasar saham. Beberapa faktor tersebut adalah dugaan pelemahan daya beli masyarakat – yang tentunya berdampak pada sektor-sektor tertentu – dan kekhawatiran mengenai tensi politik menjelang Pilkada 2018 dan Pemilu 2019.
“Kami akan terus mencermati faktor tersebut, namun untuk saat ini kami menilai sentimen aksi jual masih bersifat temporer. Di lain pihak, secara fundamental pasar saham Indonesia masih menawarkan potensi yang menarik di tengah tema ‘fase awal pemulihan ekonomi’. Dan penguatan IHSG di tengah aksi jual investor asing menunjukkan semakin besarnya peran investor domestik di pasar saham Indonesia, ini hal yang sangat penting dan melegakan,” ujar dia di Jakarta, Jumat (13/10/2017).
Ke depannya, lanjut dia, keyakinan investor domestik seharusnya dapat meminimalkan risiko goncangan pasar dari faktor eksternal. Dan terakhir, posisi asing yang light saat ini membuka peluang penguatan pasar saham ketika sentimen investor asing berbalik dan kembali masuk ke Indonesia. “Kami masih tetap optimis akan daya tarik pasar finansial dan iklim investasi di Indonesia. Kinerja pasar saham Indonesia akan didukung oleh gabungan dari perbaikan ekonomi global dan domestik. Dari sisi global kami melihat perbaikan ekonomi secara merata di negara berkembang maupun negara maju. Kondisi ini sangat menguntungkan bagi negara Asia sebagai ‘pabrik dunia’ yang dominan memproduksi barang dan jasa kebutuhan bagi berbagai belahan dunia lain, dan dampak lanjutannya adalah meningkatnya aktivitas industri dan ekspor Asia,” jelas dia.
Menurut dia, korporasi atau emiten sektor-sektor tertentu akan diuntungkan oleh kondisi ini. Faktor global yang kedua adalah saat ini kebijakan bank sentral dunia juga masih tetap akomodatif didukung oleh inflasi yang rendah, sehingga mengurangi tekanan bagi bank sentral untuk menaikkan suku bunga.
Dari sisi domestik, lanjut dia, disampaikan bulan-bulan sebelumnya, data makroekonomi tetap menunjukkan stabilisasi dengan inflasi terkendali, cadangan devisa mencapai rekor tertinggi, CAD terjaga, dan nilai tukar IDR yang berada dalam kisaran target pemerintah dan Bank Indonesia.
“Memang pemulihan ekonomi tidak berjalan secepat yang diekspektasi sebagai akibat kebijakan pengurangan subsidi di semester pertama, tetapi di semester kedua ini Bank Indonesia melakukan pelonggaran moneter, dua kali memangkas suku bunga untuk mendorong kembali laju pertumbuhan ekonomi. Kembali lagi, pada akhirnya hal ini dapat berdampak positif pada kinerja korporasi dan emiten,” katanya.