INDUSTRY.co.id - Jakarta, Pertamina diperkirakan bisa memangkas biaya sewa tangki penyimpanan BBM hingga 50% setelah anak usahanya PT Pertamina Patra Niaga berhasil mengakuisisi fasilitas penampung BBM tersebut dari Shell di Gresik.
Sebagai satu-satunya Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang menjalankan usaha migas terintegrasi dari hulu hingga hilir, PT Pertamina (Persero) tak bisa bekerja hanya sekadar berburu untung. Ada penugasan penting yang diamanatkan untuk membantu pemerintah dalam memaslahatkan rakyat, yakni memastikan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) hingga mendistribusikannya ke seluruh negeri.
Pertamina memiliki anak usaha yang dibentuk khusus untuk memastikan tugas itu berjalan dengan baik, yakni PT Pertamina Patra Niaga (PPN). Perusahaan yang seluruh sahamnya dikempit Pertamina ini bertugas mengangkut BBM dari tangki penyimpanan menuju Stasiun Pengisian Bahan Bakar (SPBU). Peran PPN tak cukup itu, ada pula divisi yang menangani bisnis penjualan BBM ke industri, lalu jasa bunker untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar kapal baik jenis general cargo maupun cargo khusus (Kapal Tanker, LNG, Semen dan Pupuk). Kemudian bisnis LPG cylinder filling plant serta jasa Engineering, Procurement dan Construction (EPC).
Dalam menjalankan perannya PPN terus berbenah agar pelayanan yang diberikan makin efektif dan efisien. Salah satunya rencana memiliki tangki penyimpanan atau terminal BBM milik sendiri. Selama ini PPN masih menyewa terminal BBM kepada pihak ketiga. Keinginan itu segera teralisasi sebab saat ini PPN mengaku tengah melakukan transaksi untuk membeli terminan BBM milik PT Shell Indonesia di Gresik, Jawa Timur.
Aksi korporasi itu diungkapkan Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga Gandhi Sriwidodo. Menurutnya tangki BBM milik Shell yang akan segera berpindah tangan menjadi milik PPN berkapasitas 35.000 kilo liter. "Mungkin kapasitas tangkinya kebesaran sehingga tidak optimal. Nah kami melihat itu bisa kami manfaatkan, baik digunakan sendiri atau disewakan ke Pertamina," kata Gandhi di Jakarta, pekan lalu.
Sementara nilai akuisisi tersebut menurutnya mencapai US$ 40 juta atau Rp53,32 miliar (kurs: Rp13.315 per USD) dan diharapkan akuisisi tersebut rampung dalam satu atau dua bulan mendatang. Negoisasi final sedang dilakukan saat ini,” imbuhnya.
Gandhi mengatakan saat ini pihaknya menyewa tangki BBM berkapasitas 75.000 kilo liter, sebagian besar untuk operasional di Batam, Bangka, Samarinda dan Pontianak. Nah dengan akusisi tersebut maka total kapasitas tangki yang dioperasikan Perseroan akan meningkat menjadi sekitar 110.000 kilo liter. "Saat ini Pertamina ada floating storage di Bali. Tapi itu mahal sekali. Kalau selesai akuisisi, itu akan kami pindahkan ke Gresik. Nanti Pertamina bisa hemat 50 persen, dan mereka (Pertamina) bisa sewa ke kita," ujar Gandhi.
Bangun 1.000 SPBU UKM
Rencana besar PT Pertamina Patra Niaga (PPN) tidak sebatas itu. Ada sederet ekspansi lain yang dilakukan demi mensukseskan peran Pertamina dalam menyediakan bahan bakar minyak (BBM) kepada seluruh lapisan masyarakat.
Salah satu kontribusi yang akan diberikan adalah menyiapkan fasilitas pelayanan BBM ke wilayah-wilayah pinggiran, yang selama ini warganya kesulitan dalam menjangkau SPBU-SPBU konvensional yang kebanyakan berlokasi di jalan – jalan utama. “Masyarakat kita ini kan tersebar, banyak yang bermukim di pinggiran yang tentu saja punya hak yang sama dengan masyarakat perkotaan,” ujar Direktur Utama PPN, Gandhi Sriwidodo.
Fasilitas pelayanan BBM di wilayah pinggiran termasuk di remote area yang akan dibangun menurutnya berbentuk SPBU UKM dengan volume penjualan sebesar 5 kilo liter hingga 10 kilo liter (KL). “Kami sebutnya SPBU UKM, ini mirip dengan Pertamini yang sering kita jumpai di daerah pinggiran,” ujarnya.
Namun SPBU UKM menurutnya akan dikelola dengan tingkat safety yang baik sebagaimana SPBU konvesional. Kendati begitu PPN tidak akan bertindak sebagai pemilik, namun akan diserahkan kepada pihak ketiga. “Kami hanya akan memberikan pasokan atau suplai BBM, membangun sistem dan mengontrol operasionalnya,” tandasnya.
Adapun jenis BBM yang nantinya tersedia menurut Gandhi bukan dalam golongan BBM subsidi tapi jenis medium seperti Pertalite maupun Dexlite.
Terkait nilai investasi menurut Gandhi tidak terlalu besar dan hanya butuh lahan sekitar 300 hingga 500 meter persegi. “Nilai investasinya maksimal Rp 1 miliar, itu diluar lahan. Kalau lahan di daerah pinggiran kan murah,” ujarnya.
Untuk tahap awal PPN akan membangun sekitar 50 SPBU UKM hingga akhir tahun 2017. Sementara target dalam lima tahun ke depan PPN akan membangun hingga 1.000 unit. Lokasi pembangunan 50 SPBU UKM tadi saat ini belum ditentukan, namun menurutnya berada di Pulau Jawa dan Sumetara.
Dalam acara CEO Talk yang dihadiri semua Direksi PPN juga dipaparkan capaian kinerja Perusahaan yang bertumbuh di tengah tantangan berat akibat turunnya harga jual minyak dunia, regulasi impor, situasi pasar industri dan tambang sebagai customer utama, hingga fluktuasi nilai tukar Rupiah mendera.
Direktur Administrasi & Keuangan PPN, Said Reza Pahlevy menyampaikan laba bersih PPN dalam tiga tahun terakhir mengalami peningkatan yang cukup signifikan, yaitu US$ 37 juta pada tahun 2014, US$ 67 juta pada tahun 2015, serta US$ 96 juta pada tahun 2016, meningkat 259% atau hampir tiga kali lipat.
PPN mencatat EBITDA Margin 3,79% (2014), 8,23% (2015), dan 8,82% (2016), serta Net Profit Margin 2,09% (2014), 5,45% (2015), dan 7,79% (2016).
Sementara untuk kinerja operasional, terjadi peningkatan Trading Fuel & Non Fuel menjadi sebesar 1.38 juta Kiloliter (KL) pada tahun 2014, 1,54 juta KL (2015), dan 2,3 juta KL (2016). Dari total market size trading BBM industri sebesar 18,7 juta KL, PPN menguasai 15%, PT Pertamina (Persero) 58%, dan sisanya dari beberapa kompetitor. “Target PPN selanjutnya adalah menguasai hingga 20% dari pasar trading BBM, antara lain dengan layanan Total Energy Services untuk kebutuhan energi customer dan mengembangkan potensi bisnis baru (new venture),” ujar Said Reza.
Agar rencana ekpansi berjalan sesuai rencana, tahun ini PPN menganggarkan dana belanja modal sekitar Rp 1 triliun. "Tahun ini pertama kali Patra Niaga punya investasi Rp 1 triliun” ujar Reza. Selain untuk akusisi terminan BBM milik Shell dan pembangunan 50 SPBU UKM tahun ini, dana tersebut juga akan digunakan untuk menambah truk pengangkut BBM serta membangun Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU).
Ada 11 lokasi yang umumnya merupaka bandara perintis ditargetkan dibangun dengan menggunakan dana belanja modal tahun ini. Lima lainnya menggunakan capex tahun 2018. “Sampai saai ni 2 DPPU yang sudah jadi ada di Timika dan Labuan Bajo, “ ucap Gandhi.
Menurut Gandhi, pembangunan 16 DPPU itu untuk mendukung program pemerintah. “Contohnya di kawasan laut disebut dengan tol laut, nah DPPU inii bisa dibilang tol udara. Sebab, PPN mengelola bandara supaya bisa dilalui banyak pesawat, sehingga dibutuhkan bangunan DPPU yang banyak. Selanjutnya DPPU akan dibangun di daerah Cilacap, dan beberapa lokasi lainnya,” ujarnya. Manajemen PPN optimistis 11 DPPU yang dingun pada tahun ini sudah bisa beroperasi tahun 2018.