INDUSTRY.co.id - Jakarta-Kondisi inflasi tahun depan diperkirakan akan lebih rendah pada inflasi tahunan 2017. Pada tahun ini inflasi diperkirakan 4% plus minus 1 %, tahun depan di level 3.6%.
“Kami perkirakan tekanan inflasi tahun 2018 berpeluang turun sehingga year-average inflation bisa mencapai 3.6%. Divergensi dalam kebijakan moneter global akan memperkecil ruang pelonggaran moneter lebih lanjut. Kami memperkirakan suku bunga 7DRRR tetap di angka 4.25% hingga pertengahan tahun 2018, dan mungkin perlu naik 25 bps di 2H2018 untuk merespon semakin ketatnya kebijakan moneter The Fed,” ujar Adrian Panggabean Chief Economist CIMB Niaga mengatakan di Jakarta, Senin (2/10/2017).
Badan Pusat Statistik (BPS) belum lama ini mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II 2017 sebesar 5,01% (quartal to quartal/qtq), sama seperti kuartal I 2017. Sementara bila dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi kuartal II 2016 yang sebesar 5,18% (year on year/yoy), angka tersebut menunjukan pelambatan China.
Sementara, lanjut dia, bila kedepannya kurs akan tetap dipengaruhi oleh dinamika ekonomi domestik, indeks dolar, dan relative attractiveness dari obligasi Indonesia versus US Treasury (lihat prospek US Treasury diatas). “Maka kami perkirakan kurs USD:IDR akan bergerak stabil di kisaran 13.100 – 13.400 hingga tahun 2018, dengan rata-rata kurs pada angka 13.300. Asumsi spot-risk seperti ini membawa kami pada perkiraan imbal hasil obligasi tenor 10-tahun di rentang 5.8 – 6.4% di tahun 2018,” katanya.
Dengan demikian, pada tataran konsumsi, ia menambahkan, dengan perkiraan akan relatif stabilnya rupiah dan perlahan membaiknya kondisi pasar tenaga kerja di Indonesia, diperkirakan konsumsi membaik. “Kami memperkirakan pertumbuhan konsumsi masyarakat di 2018 akan mencapai angka 5,2 – 5,3% dan pertumbuhan investasi mendekati angka 6%. Dengan perkiraan bentuk yield curve di pasar obligasi yang akan sedikit lebih curam dibanding 2017 dan 2016, kami melihat prospek Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia di tahun 2018 bertumbuh di angka 5,2%,” katanya.