INDUSTRY.co.id - Jakarta- Kendala utama yang dihadapi investor Tiongkok saat menanamkan investasi dalam sektor infrastruktur di Indonesia diantaranya masalah pembebasan lahan dan sering bergantinya pejabat pimpinan proyek.

Advertisement

"Tantangan utama adalah pembebasan lahan. Contohnya jalan tol Kualanamu-Binjai yang hanya berjarak 19 kilometer tetapi waktu pengerjaannya tujuh tahun, normalnya kita bisa kerjakan dalam dua tahun kalau tidak ada kendala pembebasan lahan," tutur Pen Dapeng Vice President CCCC International Pen Dapeng

Kendala kedua yakni sering bergantinya kepala atau pejabat BUMN yang memimpin proyek, sehingga membuat waktu pembahasan dan negosiasi kontrak menjadi molor.

Advertisement

Perusahaan China Communications Construction Company Ltd. (CCCC) membidik sejumlah proyek infrastruktur di Indonesia sebagai tempat menanam investasinya.

Sebagai contoh, CCCC telah merampungkan 28 master plan untuk pembangunan pelabuhan namun hingga saat ini belum ada satu pun yang diterima pemerintah karena para pimpinan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) kerap berganti dalam dua tahun terakhir.

Advertisement

"Akan sangat mudah bagi investor untuk berubah pikiran kalau pejabatnya sering sekali berganti, apalagi kami sudah menghabiskan lebih dari 5 juta dolar AS untuk studi kelayakan proyek-proyek ini," tutur Dapeng kepada awaak media, Jumat (22/9/2017)

Tercatat sebagai perusahaan kontraktor dengan peringkat ke-3 terbaik versi Engineering News-Record (ENR) 2016, CCCC memiliki lebih dari 200 proyek di 58 negara dengan nilai kontrak mencapai 37 miliar dolar AS.

Advertisement

Perusahaan yang mulai berekspansi di Indonesia pada 1996 itu telah mengerjakan beberapa proyek penting seperti jembatan Hong Kong-Zhuhai-Macau, rel kereta api Mombasa-Nairobi, bandara internasional Macau, apartemen dan kondominium "The Grand" di Los Angeles, serta derek kontainer di Pelabuhan Hamburg.