INDUSTRY.co.id - Film yang mengambil judul dari  jargon yang populer di tengah masyaraat seusai Pak Harto lengser sebagai presiden Enak Tho Jamanku, Piye Kabare saat ini mendekati proses akhir produksi. Film yang disutradarai oleh mantan jurnalis, Akhlis Suryapati ini, saat ini tengah dalam proses editing dan memasukkan musik.

Advertisement

Menurut produser film ini, Qdemank Sonny Pudjisasoni dari Midessa Pictures, pihaknya merasa perlu mengabarkan hal ini kepada khalayak, agar kehadiran film ini segera diantisipasi. “Karena ini film yang multi tafsir. Ada yang bilang ini film tentang Pak Harto. Ada yang bilang ini film tentang Komedi, dan ada juga yang bilang ini film Drama. Jadi Silakan di tafsirkan sendiri,” kata Ketua Umum Perfiki ini.

Dari pemutaran Trailer dan Behind The Scene baru baru ini, Film Enak Tho Jamanku. Piye Kabare adalah sebuah film yang kemasannya mengusung genre drama action dan komedi.  Namun alur cerita, karakter para tokoh, serta adegan-adegan dan dialog-dialog dalam film ini, bisa cepat ditangkap sebagai simbol-simbol peristiwa yang memaparkan kondisi tertentu dari kondisi sosial-politik kekinian.

Advertisement

QDemank Sonny berharap, film ini akan memberi pencerahan pada masyarakat dalam menyikapi kekuasaan, tanpa harus tendensius mengkultuskan zaman tertentu. Judulnya ‘Enak tho Zamanku’, bukan Enak Zamanku Tho. Bisa dibedakan frasanya. Maka film Enak tho Zamanku lebih jelas dan lugas nilai keberpihakannya pada moral. Tidak ada beban sejarah. Lha wong film fiksi.”

Sementara itu sutradara Akhlis Suryapati mengatakan, ia tidak dapat menceritakan secara detil tentang tafsir atas judul dan isi cerita.  “Untuk menafsirkannya, hanya bisa setelah menyaksikan filmnya nanti.” Katanya berteka teki.

Advertisement

“Terlepas dari berbagai kemungkinan adanya penafsiran macam-macam, film ini sangat menghibur, seru, dan segar-berisi.” Tambahnya.

‘Enak tho Zamanku: Piye Kabare’ dibintangi artis-artis muda yang sedang naik daun, seperti Ismi Melinda, Panji Addiemas, Ratu Erina, Eko Xamba, dan Ananda George. Mereka beradu akting dengan artis-artis senior seperti Soultan Saladin, Dolly Marten, Otig Pakis, Yurike Prastika, dan Riza Pahlawan.

Advertisement

Film ini berkisah tentang  tentang Pinuntun (Dolly Marten) yang disingkirkan secara brutal oleh kawanan GatoLoco (Eko Xamba), dalam tragedi rebutan warisan keluarga berupa Hotel, Restoran, dan Klub Hiburan. Pinuntun dalam keadaan sakit setelah disingkirkan.

Kesembuhannya diharapkan banyak pihak, terutama oleh Mbah Mangun (Otig Pakis) yang punya kepiawaian menyajikan hidangan nasi goreng enak bagi para pelanggan. Termasuk bagi orang-orang Belanda yang punya tradisi napak-tilas leluhurnya di Indonesia.

Paska terjadinya tragedi dan anarkisme, putra Pinuntun bernama DarmoGandul (Pandji Addiemas) kembali dari perantauan.  Ia ingin mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi. DarmoGandul menemukan banyak indikasi tidak beres dalam pengelolaan Hotel, Restoran, dan Klub Hiburan.

DarmoGandul bertemu Retno (Ismi Melinda), gadis penghibur yang pemberani dan sering menjadi sasaran kekerasan. Retno sedang berusaha menyelamatkan adik perempuannya, yang dikuasai Mucikari (Evry Joe) serta akan dikirim ke negeri seberang sebagai tenaga kerja wanita penghibur.

Saladin (Sultan Saladin) rupanya menjadikan Hotel dan Klub Hiburan sebagai pusat kegiatan perdagangan manusia berupa pengiriman wanita-wanita penghibur ke luar negeri, sekaligus menjadikan hotel itu sebagai penampungan tenaga-tenaga kerja asing illegal untuk selanjutnya disebarkan ke berbagai wilayah.

Kembalinya DarmoGandul menjadi ancaman bagi kelangsungan kekuasaan Saladin. Untuk itu Saladin mengerahkan kawanan GatoLoco, berpasangan dengan Madon-A (Ratu Erina), untuk menyingkirkan DarmoGandul. GatoLoco sendiri adalah teman karib DarmoGandul semasa kecil tatkala sama-sama keblinger ilmu filsafat dan kanuragan di bawah asuhan Suhu (Reza Pahlawan). Kini mereka harus berhadap-hadapan sebagai musuh.

Bagaimana selanjutnya? Tunggu tayangannya. (AMZ)