Highlights
- LPG bersubsidi 3 kg tetap Rp19.000/tabung di pangkalan resmi, ESDM pastikan tidak naik hingga akhir 2026
- Bright Gas 5,5 kg Rp107.000 dan 12 kg Rp230.000/tabung, belum ada penyesuaian harga baru
- Henry Hub naik 1,60% ke US$2,99/MMBtu pada perdagangan Jumat (6/11/2026), pemulihan dari level US$2,88 di tengah data inventaris EIA yang lebih kecil dari ekspektasi
- TTF Eropa rebound 6,56% ke €90,00/MWh pada penilaian 5 November setelah anjlok ke €84,46, namun data CFD TradingEconomics untuk 6 November menunjukkan koreksi lanjutan ke €85,84
- JKM Asia turun tipis 0,16% ke US$31,65/MMBtu pada penilaian 6 November, melanjutkan pelemahan dari level tertinggi 12 bulan US$32,93, turun 3,87% dalam sepekan
- Aramco CP November 2026 berlaku lebih tinggi: propana US$720/MT dan butana US$780/MT, kenaikan bulan keempat berturut-turut; CP Desember belum diumumkan
Daftar Isi: Harga LPG Indonesia | Bright Gas | Per Wilayah | Henry Hub | TTF & JKM | Aramco CP | Faktor Harga | FAQ
Harga LPG Subsidi Hari Ini 7 November 2026
Harga LPG 3 kg hari ini, Sabtu (7/11/2026), tetap tidak mengalami perubahan. Kementerian ESDM memastikan harga LPG bersubsidi tabung 3 kg tidak naik hingga akhir 2026. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia juga menyampaikan stok LPG bersubsidi nasional masih terjaga di atas standar minimum, sejalan dengan komitmen pemerintah menjaga stabilitas harga energi bersubsidi di tengah gejolak harga energi global yang masih berlangsung.
| Jenis LPG | Harga di Pangkalan | Harga di Pengecer | Keterangan |
|---|---|---|---|
| LPG 3 kg (Subsidi) | Rp19.000 | Rp22.000 | Tetap (HET) |
Harga Eceran Tertinggi (HET) LPG 3 kg di pangkalan resmi Pertamina tetap Rp19.000 per tabung. Di tingkat pengecer, harga mencapai Rp22.000 per tabung sudah termasuk ongkos kirim. Pemerintah mengimbau masyarakat membeli di pangkalan resmi untuk mendapatkan harga sesuai HET dan jaminan takaran. LPG bersubsidi tersedia di lebih dari 259.000 pangkalan resmi Pertamina seluruh Indonesia.
Harga LPG Non-Subsidi (Bright Gas)
PT Pertamina Patra Niaga belum melakukan penyesuaian harga Bright Gas baru. Harga yang berlaku saat ini merupakan hasil penyesuaian terakhir yang berlaku sejak awal Oktober 2026. Berikut harga agen yang berlaku untuk wilayah Pulau Jawa:
| Produk | Harga per 4 November | Harga per 7 November | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Bright Gas 5,5 kg | Rp107.000 | Rp107.000 | Tidak berubah |
| Bright Gas 12 kg | Rp230.000 | Rp230.000 | Tidak berubah |
Harga di atas merupakan Harga Jual Agen Bright Gas untuk wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Bali, dan NTB. Harga di tingkat pangkalan biasanya lebih mahal Rp15.000-20.000 per tabung.
Harga Bright Gas per Wilayah Indonesia
Harga Bright Gas bervariasi di setiap wilayah karena faktor ongkos distribusi. Berikut rincian harga agen per November 2026:
| Wilayah | Bright Gas 5,5 kg | Bright Gas 12 kg |
|---|---|---|
| Jawa, Bali, NTB | Rp107.000 | Rp230.000 |
| Sumatera (kecuali Bangka Belitung), Sulawesi Tengah dan Selatan | Rp111.000 | Rp232.000 |
| Bangka Belitung, Kalimantan, Sulawesi Utara dan Tenggara | Rp114.000 | Rp240.000 |
| Tarakan dan sekitarnya | Rp124.000 | Rp267.000 |
| Maluku dan Papua | Rp134.000 | Rp287.000 |
| Batam (Kawasan Perdagangan Bebas) | Rp100.000 | Rp209.000 |
Wilayah Maluku dan Papua mencatat harga Bright Gas termahal dengan selisih Rp27.000 per tabung untuk ukuran 5,5 kg dibanding wilayah Jawa karena ongkos distribusi kepulauan. Sebaliknya, kawasan perdagangan bebas Batam mencatat harga paling rendah di Rp100.000 (5,5 kg) dan Rp209.000 (12 kg). Masyarakat dapat membeli Bright Gas melalui agen resmi, pangkalan, atau aplikasi MyPertamina untuk memastikan keaslian produk.
Harga Gas Alam Dunia: Henry Hub
Henry Hub, benchmark gas alam untuk pasar Amerika Utara, naik ke level US$2,99 per MMBtu pada perdagangan Jumat (6/11/2026), menguat 1,60% dalam sehari menurut data CFD TradingEconomics per 6 November 2026, setelah melemah dalam beberapa sesi perdagangan sebelumnya. Secara bulanan harga kini turun 6,52% dan secara tahunan masih turun 30,61%. Pemulihan didukung data inventaris gas alam AS dari EIA yang mencatat kenaikan lebih kecil dari ekspektasi pasar, memberi sentimen positif jangka pendek. Namun prakiraan suhu lebih hangat dari normal dan produksi domestik yang tetap tinggi menjaga kenaikan tetap terbatas, dengan harga masih berada di kisaran US$3 per MMBtu.
| Indikator | Nilai | Keterangan |
|---|---|---|
| Henry Hub (6 November) | US$2,99/MMBtu | Menguat setelah pelemahan beruntun, didukung data inventaris EIA yang lebih kecil dari ekspektasi |
| Perubahan Harian | +US$0,05 | +1,60% |
| Proyeksi TE Kuartal Ini | US$3,02/MMBtu | Estimasi akhir kuartal IV 2026 |
| Proyeksi TE 12 Bulan | US$3,69/MMBtu | Estimasi model Trading Economics |
Faktor pendukung pemulihan datang dari data inventaris: EIA mencatat kenaikan stok gas alam AS yang lebih kecil dari ekspektasi pasar, membalikkan sentimen negatif dari sesi-sesi sebelumnya. Aliran gas (feedgas) ke terminal ekspor LNG utama AS tetap menjadi tumpuan permintaan, sementara produksi gas Lower 48 yang berada di atas 113 bcfd menjaga pasokan tetap longgar. Prakiraan suhu lebih hangat dari normal di sebagian besar wilayah AS juga menekan permintaan gas pemanas. EIA tetap memproyeksikan rata-rata harga Henry Hub 2026 di US$3,67/MMBtu, sementara model makro Trading Economics memperkirakan harga berada di sekitar US$3,02 per MMBtu pada akhir kuartal ini dan US$3,69 dalam 12 bulan ke depan.
TTF Eropa dan JKM Asia
Title Transfer Facility (TTF) di Belanda rebound ke level €90,00 per MWh pada penilaian 5 November 2026, menguat 6,56% dari penilaian sebelumnya di €84,46 menurut data EnergyRiskIQ, setelah anjlok tajam pada sesi-sesi sebelumnya. Meski rebound, koreksi lanjutan terjadi pada 6 November dengan data CFD TradingEconomics menunjukkan level €85,84 per MWh (-5,34%), terendah dalam dua pekan, karena instrumen dan tanggal penilaian yang berbeda dengan penilaian pasar EnergyRiskIQ yang menjadi rujukan utama. Secara mingguan TTF turun sekitar 15% dari level tertinggi 30 hari €103,52, dipicu harapan penyelesaian diplomatik konflik Timur Tengah yang meredakan premium risiko geopolitik. Sementara itu, Japan Korea Marker (JKM) untuk pasar Asia turun tipis ke US$31,65 per MMBtu pada penilaian 6 November 2026 (-0,16%), melanjutkan pelemahan dari level tertinggi 12 bulan US$32,93, turun 3,87% dalam sepekan, bulanan masih naik 22,01%, dan tahunan 183,01%.
| Benchmark Gas Alam | Harga | Perubahan | Kawasan |
|---|---|---|---|
| Henry Hub | US$2,99/MMBtu | +1,60% | Amerika Utara |
| TTF | €90,00/MWh | +6,56% | Eropa (Belanda) |
| JKM | US$31,65/MMBtu | -0,16% | Asia (Jepang-Korea) |
TTF kini berada di bagian tengah rentang 30 hari €77,31-103,52 per MWh dengan rata-rata €90,11 per MWh. Data CFD TradingEconomics untuk 6 November 2026 menunjukkan level yang lebih rendah di €85,84/MWh, turun 5,34% dalam sehari ke level terendah dua pekan, karena instrumen dan tanggal penilaian yang berbeda dengan penilaian pasar EnergyRiskIQ yang menjadi rujukan utama, dengan harga bulanan naik 9,93% dan tahunan melonjak 175,11%. Di Asia, JKM tetap berada jauh di atas level Henry Hub, menandakan Asia membayar premium tinggi untuk kargo spot. Katalis utamanya tetap sama: kompetisi LNG antara Eropa dan Asia untuk memperebutkan kargo yang sama di tengah pasokan global yang ketat. Harapan penyelesaian diplomatik konflik Timur Tengah menjadi sentimen utama pelemahan pekan ini, menekan premium risiko di seluruh pasar energi global. Harga minyak mentah Brent sendiri menguat ke sekitar US$99,27 per barel (+5,04% dibanding hari sebelumnya menurut data EnergyRiskIQ per 5 November 2026).
Harga LPG Internasional: Saudi Aramco CP
Saudi Aramco telah menetapkan Contract Price (CP) untuk November 2026 lebih tinggi dari bulan sebelumnya, menandai kenaikan bulan keempat berturut-turut. Kenaikan mencerminkan permintaan kuat dari sektor petrokimia Asia dan persaingan memperebutkan kargo LNG menjelang musim dingin. Pengumuman dirilis pada 29 Oktober 2026, sementara CP Desember 2026 belum diumumkan dan diperkirakan dirilis akhir November 2026.
| Produk | CP Oktober 2026 | CP November 2026 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Propana (C3) | US$680/MT | US$720/MT | +US$40 (+5,9%) |
| Butana (C4) | US$730/MT | US$780/MT | +US$50 (+6,8%) |
Kenaikan CP November didorong oleh permintaan kuat dari sektor petrokimia Asia, terutama China dan Korea Selatan, serta persaingan memperebutkan kargo menjelang musim dingin yang juga mengerek benchmark gas alam global. Butana naik lebih tinggi (+6,8%) dibanding propana (+5,9%) karena permintaan dari sektor gasoline blending yang meningkat menjelang akhir tahun. Dengan harga minyak mentah Brent yang menguat ke sekitar US$99,27 per barel, kenaikan CP beruntun ini tetap menambah tekanan biaya bagi importir LPG di Asia, termasuk Indonesia yang harga LPG non-subsidinya mengikuti formula berbasis CP Aramco.
Faktor yang Mempengaruhi Harga Gas Alam
Beberapa faktor utama yang menggerakkan harga gas alam global minggu ini:
- Permintaan musim dingin Asia: Pembeli LNG Jepang, Korea Selatan, dan China tetap agresif mengamankan kargo menjelang musim dingin. JKM turun tipis ke US$31,65 per MMBtu pada penilaian 6 November 2026 (-0,16%), melanjutkan pelemahan dari level tertinggi 12 bulan US$32,93. Secara mingguan JKM turun 3,87%, bulanan masih naik 22,01%, dan tahunan 183,01%. Aramco menaikkan CP November untuk bulan keempat berturut-turut.
- Musim dingin belahan bumi utara: Level penyimpanan gas Eropa tetap di bawah rata-rata historis, menjaga volatilitas harga menjelang musim dingin. Meski TTF rebound ke €90,00 per MWh pada penilaian 5 November setelah anjlok ke €84,46, koreksi lanjutan terjadi pada 6 November (CFD TE: €85,84). Prakiraan suhu di Eropa menjadi sentimen utama pergerakan harga TTF pekan depan.
- Perkembangan geopolitik Timur Tengah: Harapan penyelesaian diplomatik konflik Timur Tengah terus menekan premium risiko pasar energi global, menjadi pendorong utama pelemahan TTF sekitar 15% dalam sepekan. Harga minyak mentah Brent menguat ke sekitar US$99,27 per barel (+5,04%) setelah koreksi tajam pekan lalu.
- Cuaca dan shale gas AS: Henry Hub menguat 1,60% ke US$2,99 per MMBtu pada perdagangan Jumat (6/11), didukung data inventaris EIA yang lebih kecil dari ekspektasi. Produksi gas Lower 48 yang tetap tinggi di atas 113 bcfd dan prakiraan suhu hangat menjaga kenaikan tetap terbatas.
- Kebijakan energi Indonesia: Pemerintah tetap mempertahankan subsidi LPG 3 kg melalui APBN dan memastikan stok aman di atas standar minimum nasional, menjaga harga konsumen tetap terkendali meski harga internasional naik.
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Harga LPG dan Gas Alam
Mengapa harga LPG subsidi 3 kg tidak pernah naik?
Harga LPG 3 kg disubsidi pemerintah melalui APBN dan penyaluran dijamin oleh Pertamina. Meski harga LPG internasional (Aramco CP) naik signifikan, harga di pangkalan tetap Rp19.000 karena perbedaan harga ditanggung oleh negara. Kementerian ESDM memastikan subsidi ini berlanjut hingga akhir 2026 dengan stok yang aman.
Mengapa harga Bright Gas tetap sama di November 2026?
Pertamina Patra Niaga belum melakukan penyesuaian harga Bright Gas setelah penyesuaian terakhir yang berlaku sejak awal Oktober 2026. Meski Aramco CP naik, dampaknya belum diteruskan ke harga ritel karena Pertamina masih menyerap kenaikan dari margin internal.
Mengapa harga JKM Asia terus turun dari level tertinggi 12 bulan?
JKM turun ke US$31,65 per MMBtu pada penilaian 6 November 2026 (-0,16%), melanjutkan pelemahan dari level tertinggi 12 bulan US$32,93. Secara mingguan JKM turun 3,87% karena meredanya premium risiko geopolitik dan harapan penyelesaian diplomatik konflik Timur Tengah. Meski turun, level ini masih melonjak 22,01% dalam sebulan dan 183,01% dibanding setahun lalu karena kompetisi memperebutkan kargo LNG antara Asia dan Eropa menjelang musim dingin.
Apa bedanya Henry Hub, TTF, dan JKM?
Henry Hub adalah benchmark gas alam Amerika Utara, TTF untuk Eropa, dan JKM untuk Asia. Harga berbeda karena perbedaan pasokan, permintaan, dan biaya pengiriman LNG antar kawasan. Henry Hub lebih murah karena AS memiliki produksi shale gas yang melimpah, sementara Asia membayar premium tertinggi untuk kargo spot.
Apakah musim dingin 2026 akan membuat harga gas naik tajam?
Tergantung cuaca. Jika musim dingin lebih dingin dari normal, harga gas bisa naik 30-50%. Level penyimpanan Eropa saat ini di bawah rata-rata lima tahun membuat pasar sangat sensitif terhadap setiap sinyal cuaca dingin. Prediksi NOAA dan ECMWF menjadi acuan utama trader.
Key Takeaways
- LPG 3 kg subsidi tetap Rp19.000 di pangkalan, dijamin tidak naik hingga akhir 2026 dengan stok aman
- Bright Gas tidak berubah: Rp107.000 (5,5 kg) dan Rp230.000 (12 kg) untuk wilayah Jawa
- Henry Hub menguat 1,60% ke US$2,99/MMBtu pada perdagangan Jumat (6/11), didukung data inventaris EIA yang lebih kecil dari ekspektasi, dengan proyeksi TE US$3,02 kuartal ini dan US$3,69 dalam 12 bulan
- TTF rebound 6,56% ke €90,00/MWh pada penilaian 5 November setelah anjlok ke €84,46, namun koreksi lanjutan ke €85,84 pada 6 November (CFD TE); JKM turun tipis ke US$31,65/MMBtu dari level tertinggi 12 bulan US$32,93
- Aramco CP November berlaku lebih tinggi: propana US$720/MT dan butana US$780/MT, kenaikan bulan keempat berturut-turut yang menekan biaya impor LPG Asia
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual komoditas energi. Harga dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti kondisi pasar. Selalu verifikasi harga terkini dari sumber resmi sebelum melakukan transaksi.
Sumber data: Pertamina Patra Niaga, Kementerian ESDM, TradingEconomics, EnergyRiskIQ, Tindex, BMI Research, Reuters | Penulis: Dana Putra