Highlights
- LPG bersubsidi 3 kg tetap Rp19.000/tabung di pangkalan resmi, ESDM pastikan tidak naik hingga akhir 2026
- Bright Gas 5,5 kg Rp107.000 dan 12 kg Rp230.000/tabung, belum ada penyesuaian harga baru
- Henry Hub naik tipis 0,93% ke US$2,88/MMBtu pada perdagangan Selasa (3/11/2026), pemulihan kecil dalam tren pelemahan bulanan, pasar menanti data inventaris EIA Kamis
- TTF Eropa anjlok 8,37% ke €94,20/MWh pada penilaian 2 November, koreksi tajam dari level tertinggi 30 hari setelah laporan kemajuan diplomatik AS-Iran meredakan premium risiko geopolitik
- JKM Asia turun 3,47% ke US$31,78/MMBtu pada penilaian 3 November dari level tertinggi 12 bulan US$32,93, tertekan sentimen yang sama dengan pasar gas Eropa
- Aramco CP November 2026 berlaku lebih tinggi: propana US$720/MT dan butana US$780/MT, kenaikan bulan keempat berturut-turut; CP Desember belum diumumkan
Daftar Isi: Harga LPG Indonesia | Bright Gas | Per Wilayah | Henry Hub | TTF & JKM | Aramco CP | Faktor Harga | FAQ
Harga LPG Subsidi Hari Ini 4 November 2026
Harga LPG 3 kg hari ini, Rabu (4/11/2026), tetap tidak mengalami perubahan. Kementerian ESDM memastikan harga LPG bersubsidi tabung 3 kg tidak naik hingga akhir 2026. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia juga menyampaikan stok LPG bersubsidi nasional masih terjaga di atas standar minimum, sejalan dengan komitmen pemerintah menjaga stabilitas harga energi bersubsidi di tengah gejolak harga energi global yang masih berlangsung.
| Jenis LPG | Harga di Pangkalan | Harga di Pengecer | Keterangan |
|---|---|---|---|
| LPG 3 kg (Subsidi) | Rp19.000 | Rp22.000 | Tetap (HET) |
Harga Eceran Tertinggi (HET) LPG 3 kg di pangkalan resmi Pertamina tetap Rp19.000 per tabung. Di tingkat pengecer, harga mencapai Rp22.000 per tabung sudah termasuk ongkos kirim. Pemerintah mengimbau masyarakat membeli di pangkalan resmi untuk mendapatkan harga sesuai HET dan jaminan takaran. LPG bersubsidi tersedia di lebih dari 259.000 pangkalan resmi Pertamina seluruh Indonesia.
Harga LPG Non-Subsidi (Bright Gas)
PT Pertamina Patra Niaga belum melakukan penyesuaian harga Bright Gas baru. Harga yang berlaku saat ini merupakan hasil penyesuaian terakhir yang berlaku sejak awal Oktober 2026. Berikut harga agen yang berlaku untuk wilayah Pulau Jawa:
| Produk | Harga per 3 November | Harga per 4 November | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Bright Gas 5,5 kg | Rp107.000 | Rp107.000 | Tidak berubah |
| Bright Gas 12 kg | Rp230.000 | Rp230.000 | Tidak berubah |
Harga di atas merupakan Harga Jual Agen Bright Gas untuk wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Bali, dan NTB. Harga di tingkat pangkalan biasanya lebih mahal Rp15.000-20.000 per tabung.
Harga Bright Gas per Wilayah Indonesia
Harga Bright Gas bervariasi di setiap wilayah karena faktor ongkos distribusi. Berikut rincian harga agen per November 2026:
| Wilayah | Bright Gas 5,5 kg | Bright Gas 12 kg |
|---|---|---|
| Jawa, Bali, NTB | Rp107.000 | Rp230.000 |
| Sumatera (kecuali Bangka Belitung), Sulawesi Tengah dan Selatan | Rp111.000 | Rp232.000 |
| Bangka Belitung, Kalimantan, Sulawesi Utara dan Tenggara | Rp114.000 | Rp240.000 |
| Tarakan dan sekitarnya | Rp124.000 | Rp267.000 |
| Maluku dan Papua | Rp134.000 | Rp287.000 |
| Batam (Kawasan Perdagangan Bebas) | Rp100.000 | Rp209.000 |
Wilayah Maluku dan Papua mencatat harga Bright Gas termahal dengan selisih Rp27.000 per tabung untuk ukuran 5,5 kg dibanding wilayah Jawa karena ongkos distribusi kepulauan. Sebaliknya, kawasan perdagangan bebas Batam mencatat harga paling rendah di Rp100.000 (5,5 kg) dan Rp209.000 (12 kg). Masyarakat dapat membeli Bright Gas melalui agen resmi, pangkalan, atau aplikasi MyPertamina untuk memastikan keaslian produk.
Harga Gas Alam Dunia: Henry Hub
Henry Hub, benchmark gas alam untuk pasar Amerika Utara, naik tipis ke level US$2,88 per MMBtu pada perdagangan Selasa (3/11/2026), menguat 0,93% dalam sehari menurut data CFD TradingEconomics per 3 November 2026, setelah tertekan pada sesi-sesi perdagangan sebelumnya. Secara bulanan harga kini turun 5,99% dan secara tahunan masih turun 33,63%. Pelemahan jangka menengah dipicu prakiraan suhu lebih hangat dari normal dan pemulihan produksi domestik, ditambah aliran gas ke terminal ekspor LNG yang sempat menurun sehingga menyisakan lebih banyak pasokan di pasar domestik, meski harga masih berada di atas level terendah dua tahun yang sempat tersentuh pekan lalu. Pasar kini menanti rilis data inventaris gas alam mingguan EIA pada Kamis untuk arah perdagangan berikutnya.
| Indikator | Nilai | Keterangan |
|---|---|---|
| Henry Hub (3 November) | US$2,88/MMBtu | Menguat tipis setelah pelemahan beruntun, pasar menanti data inventaris EIA |
| Perubahan Harian | +US$0,03 | +0,93% |
| Proyeksi EIA 2026 | US$3,67/MMBtu | Rata-rata tahunan |
Faktor pendukung datang dari sisi ekspor: aliran gas (feedgas) ke sembilan terminal ekspor LNG utama AS naik ke rata-rata sekitar 19,1 bcfd pada dua pekan terakhir, dengan rata-rata 18,3 bcfd sepanjang Oktober, naik dari 17,9 bcfd pada September. Namun prakiraan suhu lebih hangat dari normal hingga 13 November menekan permintaan gas pemanas. Produksi gas Lower 48 rata-rata 112,1 bcfd sepanjang Oktober, di bawah rekor 113,3 bcfd pada Agustus-September, meski produksi harian telah pulih ke sekitar 113,3 bcfd pada pekan terakhir. Data EIA menunjukkan inventaris gas alam AS naik 80 Bcf pekan lalu, lebih tinggi dari ekspektasi pasar 75 Bcf dan mempercepat dari tambahan 77 Bcf pekan sebelumnya, dengan total stok mencapai 3,724 triliun kaki kubik, 3,8% di bawah level setahun lalu namun sekitar 1% di atas rata-rata lima tahun. EIA tetap memproyeksikan rata-rata harga Henry Hub 2026 di US$3,67/MMBtu, sementara model makro Trading Economics memperkirakan harga berada di sekitar US$3,02 per MMBtu pada akhir kuartal ini dan US$3,69 dalam 12 bulan ke depan.
TTF Eropa dan JKM Asia
Title Transfer Facility (TTF) di Belanda anjlok ke level €94,20 per MWh pada penilaian 2 November 2026, melemah 8,37% dari penilaian sebelumnya di €102,80 menurut data EnergyRiskIQ, koreksi tajam dari level tertinggi 30 hari. Penurunan dipicu laporan kemajuan menuju potensi perjanjian diplomatik AS-Iran yang mengangkat harapan berakhirnya konflik dan meredakan premium risiko geopolitik, ikut menekan harga energi global termasuk minyak mentah Brent. Sementara itu, Japan Korea Marker (JKM) untuk pasar Asia turun ke US$31,78 per MMBtu pada penilaian 3 November 2026, melemah 3,47% dari penilaian sebelumnya di US$32,93 yang merupakan level tertinggi 12 bulan, kendati secara mingguan praktis datar (-0,11%), bulanan masih melonjak 23,30%, dan tahunan 184,30%, karena pembeli LNG di Jepang, Korea Selatan, dan China tetap berlomba mengamankan kargo menjelang musim dingin.
| Benchmark Gas Alam | Harga | Perubahan | Kawasan |
|---|---|---|---|
| Henry Hub | US$2,88/MMBtu | +0,93% | Amerika Utara |
| TTF | €94,20/MWh | -8,37% | Eropa (Belanda) |
| JKM | US$31,78/MMBtu | -3,47% | Asia (Jepang-Korea) |
TTF kini berada di bagian atas rentang 30 hari €73,70-103,52 per MWh dengan rata-rata €88,69 per MWh. Data CFD TradingEconomics untuk 3 November 2026 menunjukkan level yang sedikit lebih rendah di €92,58/MWh, turun 2,41% dalam sehari, karena instrumen dan tanggal penilaian yang berbeda dengan penilaian pasar EnergyRiskIQ yang menjadi rujukan utama, dengan harga bulanan naik 25,93% dan tahunan melonjak 184,40%. Di Asia, JKM tetap berada jauh di atas level Henry Hub, menandakan Asia membayar premium tinggi untuk kargo spot. Katalis utamanya tetap sama: kompetisi LNG antara Eropa dan Asia untuk memperebutkan kargo yang sama di tengah pasokan global yang ketat. Meski sentimen geopolitik meredakan tekanan harga, prakiraan suhu 2-4 derajat Celsius di bawah normal di kota-kota besar Jerman dan potensi penarikan dini gas dari penyimpanan menjelang musim dingin tetap menjadi risiko kenaikan. Harga minyak mentah Brent sendiri melemah tajam ke sekitar US$104,73 per barel (-5,56% dibanding hari sebelumnya menurut data EnergyRiskIQ per 2 November 2026).
Harga LPG Internasional: Saudi Aramco CP
Saudi Aramco telah menetapkan Contract Price (CP) untuk November 2026 lebih tinggi dari bulan sebelumnya, menandai kenaikan bulan keempat berturut-turut. Kenaikan mencerminkan permintaan kuat dari sektor petrokimia Asia dan persaingan memperebutkan kargo LNG menjelang musim dingin. Pengumuman dirilis pada 29 Oktober 2026, sementara CP Desember 2026 belum diumumkan dan diperkirakan dirilis akhir November 2026.
| Produk | CP Oktober 2026 | CP November 2026 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Propana (C3) | US$680/MT | US$720/MT | +US$40 (+5,9%) |
| Butana (C4) | US$730/MT | US$780/MT | +US$50 (+6,8%) |
Kenaikan CP November didorong oleh permintaan kuat dari sektor petrokimia Asia, terutama China dan Korea Selatan, serta persaingan memperebutkan kargo menjelang musim dingin yang juga mengerek benchmark gas alam global. Butana naik lebih tinggi (+6,8%) dibanding propana (+5,9%) karena permintaan dari sektor gasoline blending yang meningkat menjelang akhir tahun. Dengan harga minyak mentah Brent yang melemah tajam ke sekitar US$104,73 per barel, kenaikan CP beruntun ini tetap menambah tekanan biaya bagi importir LPG di Asia, termasuk Indonesia yang harga LPG non-subsidinya mengikuti formula berbasis CP Aramco.
Faktor yang Mempengaruhi Harga Gas Alam
Beberapa faktor utama yang menggerakkan harga gas alam global minggu ini:
- Permintaan musim dingin Asia: Pembeli LNG Jepang, Korea Selatan, dan China masih agresif mengamankan kargo menjelang musim dingin. JKM turun ke US$31,78 per MMBtu pada penilaian 3 November 2026 (-3,47%) dari level tertinggi 12 bulan US$32,93, namun secara mingguan praktis datar (-0,11%) dengan kenaikan 23,30% dalam sebulan dan 184,30% dibanding setahun lalu. Aramco menaikkan CP November untuk bulan keempat berturut-turut.
- Musim dingin belahan bumi utara: Level penyimpanan gas Eropa di 74,89% per 29 Oktober, di bawah rata-rata historis, menjaga volatilitas harga menjelang musim dingin. Prakiraan suhu 2-4 derajat Celsius di bawah normal di kota-kota besar Jerman pekan ini berpotensi memicu penarikan dini gas dari penyimpanan dan mengerek kembali harga TTF yang terkoreksi ke €94,20 per MWh pada penilaian 2 November.
- Perkembangan geopolitik Timur Tengah: Laporan kemajuan menuju potensi perjanjian diplomatik AS-Iran mengangkat harapan berakhirnya konflik dan meredakan premium risiko pasar energi; harga minyak mentah Brent melemah tajam ke sekitar US$104,73 per barel (-5,56%), turut menekan benchmark gas alam global.
- Cuaca dan shale gas AS: Henry Hub hanya menguat tipis 0,93% ke US$2,88 per MMBtu pada perdagangan Selasa (3/11), setelah tertekan prakiraan suhu lebih hangat dari normal, pemulihan produksi domestik, dan aliran gas ke terminal ekspor LNG yang sempat menurun. Produksi gas Lower 48 yang pulih ke sekitar 113,3 bcfd dan tambahan stok 80 Bcf pada rilis EIA terakhir tetap menekan harga ke depan.
- Kebijakan energi Indonesia: Pemerintah tetap mempertahankan subsidi LPG 3 kg melalui APBN dan memastikan stok aman di atas standar minimum nasional, menjaga harga konsumen tetap terkendali meski harga internasional naik.
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Harga LPG dan Gas Alam
Mengapa harga LPG subsidi 3 kg tidak pernah naik?
Harga LPG 3 kg disubsidi pemerintah melalui APBN dan penyaluran dijamin oleh Pertamina. Meski harga LPG internasional (Aramco CP) naik signifikan, harga di pangkalan tetap Rp19.000 karena perbedaan harga ditanggung oleh negara. Kementerian ESDM memastikan subsidi ini berlanjut hingga akhir 2026 dengan stok yang aman.
Mengapa harga Bright Gas tetap sama di November 2026?
Pertamina Patra Niaga belum melakukan penyesuaian harga Bright Gas setelah penyesuaian terakhir yang berlaku sejak awal Oktober 2026. Meski Aramco CP naik, dampaknya belum diteruskan ke harga ritel karena Pertamina masih menyerap kenaikan dari margin internal.
Mengapa harga JKM Asia turun dari level tertinggi 12 bulan?
JKM turun ke US$31,78 per MMBtu pada penilaian 3 November 2026 (-3,47%) dari level tertinggi 12 bulan US$32,93 pada penilaian 2 November, sejalan dengan meredanya premium risiko geopolitik setelah laporan kemajuan diplomatik AS-Iran yang juga menekan TTF dan harga minyak mentah. Meski turun, level ini praktis datar dibanding sepekan lalu (-0,11%) dan masih melonjak 23,30% dalam sebulan serta 184,30% dibanding setahun lalu karena kompetisi memperebutkan kargo LNG antara Asia dan Eropa menjelang musim dingin.
Apa bedanya Henry Hub, TTF, dan JKM?
Henry Hub adalah benchmark gas alam Amerika Utara, TTF untuk Eropa, dan JKM untuk Asia. Harga berbeda karena perbedaan pasokan, permintaan, dan biaya pengiriman LNG antar kawasan. Henry Hub lebih murah karena AS memiliki produksi shale gas yang melimpah, sementara Asia membayar premium tertinggi untuk kargo spot.
Apakah musim dingin 2026 akan membuat harga gas naik tajam?
Tergantung cuaca. Jika musim dingin lebih dingin dari normal, harga gas bisa naik 30-50%. Level penyimpanan Eropa saat ini di bawah rata-rata lima tahun membuat pasar sangat sensitif terhadap setiap sinyal cuaca dingin. Prediksi NOAA dan ECMWF menjadi acuan utama trader.
Key Takeaways
- LPG 3 kg subsidi tetap Rp19.000 di pangkalan, dijamin tidak naik hingga akhir 2026 dengan stok aman
- Bright Gas tidak berubah: Rp107.000 (5,5 kg) dan Rp230.000 (12 kg) untuk wilayah Jawa
- Henry Hub naik tipis 0,93% ke US$2,88/MMBtu pada perdagangan Selasa (3/11), dalam tren pelemahan bulanan 5,99%
- TTF anjlok 8,37% ke €94,20/MWh pada penilaian 2 November setelah kemajuan diplomatik AS-Iran meredakan premium risiko; JKM turun 3,47% ke US$31,78/MMBtu pada penilaian 3 November dari level tertinggi 12 bulan US$32,93
- Aramco CP November berlaku lebih tinggi: propana US$720/MT dan butana US$780/MT, kenaikan bulan keempat berturut-turut yang menekan biaya impor LPG Asia
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual komoditas energi. Harga dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti kondisi pasar. Selalu verifikasi harga terkini dari sumber resmi sebelum melakukan transaksi.
Sumber data: Pertamina Patra Niaga, Kementerian ESDM, TradingEconomics, EnergyRiskIQ, Tindex, BMI Research, Reuters | Penulis: Dana Putra