INDUSTRY.co.id - JAKARTA, Asosiasi Badan Usaha Pelabuhan Indonesia (ABUPI) menyoroti kendala regulasi dan investasi dalam pengembangan pelabuhan di Indonesia. Di tengah tantangan ekonomi global, teknologi dinilai dapat meningkatkan efisiensi operasional.
Ketua Umum ABUPI, Liana Trisnawati, mengatakan bahwa proses mendapatkan konsesi untuk mengelola terminal umum masih menjadi kendala bagi pelaku usaha. Selain itu, kondisi ekonomi global turut memengaruhi minat investor dalam negeri maupun asing.
"Detailnya yang sekarang ini terkait dengan regulasi konsesi. Ya, tidak mudah untuk bisa mendapatkan konsesi menjadi terminal umum," ujarnya seusai menghadiri Business Forum bertajuk "Connecting Business to Port" di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (22/10/2026).
Untuk menghadapi tantangan tersebut, ABUPI mendorong digitalisasi dan integrasi sistem dalam ekosistem pelabuhan. Upaya ini diperlukan untuk memperlancar operasional sekaligus mengurangi hambatan dalam layanan logistik.
Teknologi Smart Port dan Green Port Mulai Dikembangkan
ABUPI juga menyoroti penerapan pelabuhan pintar (smart port) dan pelabuhan hijau (green port) di Indonesia. Kedua konsep tersebut mengandalkan teknologi digital dan penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan.
Salah satu penerapannya adalah penggunaan panel surya untuk mendukung kebutuhan energi di kawasan pelabuhan. Namun, pemanfaatannya masih terbatas karena kebutuhan listrik setiap pelabuhan berbeda, tergantung jenis dan aktivitas operasionalnya.
Liana menyebut penerapan teknologi tersebut perlu didukung regulasi dan standar sertifikasi yang jelas. Saat ini, pengembangan pelabuhan hijau juga masih menghadapi tantangan dari sisi investasi dan kesiapan infrastruktur.
Liana berharap pengembangan sektor pelabuhan tidak hanya berorientasi pada peningkatan kapasitas infrastruktur, tetapi juga mampu memperkuat aktivitas ekonomi di berbagai wilayah Indonesia.
"Kita harus bangkitkan ekonomi daerah, dan kita ciptakan industri-industri daerah, itu penting," ujarnya bersemangat.
Krakatau Bandar Samudera Manfaatkan Teknologi Bongkar Muat
Dari sisi operator, PT Krakatau Bandar Samudera (KBS) mengembangkan teknologi untuk meningkatkan efisiensi layanan pelabuhan. Salah satunya melalui Continuous Ship Unloader (CSU), alat bongkar muat yang terhubung dengan konveyor menuju gudang.
Teknologi tersebut mampu mempercepat pembongkaran kapal bermuatan 60.000 ton dari sekitar enam hari menjadi tiga hingga empat hari. Penggunaan sistem ini juga membantu mengurangi waktu operasional dan meningkatkan kapasitas pelayanan.
"Tapi dengan teknologi kami yang baru, CSU, Continuous Ship Unloader yang memang link, langsung menggunakan conveyor sampai dengan ke gudang, itu bisa dibongkar 3 sampai dengan 4 hari," ujar Abdulloh dari PT Krakatau Bandar Samudera.
Selain teknologi bongkar muat, perusahaan menyiapkan pengembangan layanan roll-on/roll-off (Ro-Ro), peti kemas, tangki ISO (isotank) dan rantai dingin (cold chain). Pengembangan tersebut menjadi bagian dari strategi memperluas layanan di tengah persaingan bisnis pelabuhan.
Krakatau Bandar Samudera mencatat rata-rata volume bongkar muat sekitar 18 juta hingga 19 juta ton dalam tiga sampai lima tahun terakhir. Perusahaan memperkirakan volume tersebut berpotensi melampaui 20 juta ton seiring peningkatan aktivitas industri di kawasan Cilegon.
Untuk 2026, perusahaan menargetkan penjualan di atas Rp 2 triliun dan memproyeksikan pertumbuhan sekitar 10 persen pada 2027.
"Pencapaian target ini, kita masih tetap optimis dan kami terus melakukan evaluasi kinerja sampai dengan peningkatan pasar yang baru," ujar Abdulloh.