INDUSTRY.co.id - TANGERANG SELATAN — Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung memperluas daya tarik investasi pariwisata melalui pengembangan wisata terjun payung atau skydiving dan olahraga dirgantara. Proyek ini melibatkan PT Banten West Java selaku Badan Usaha Pembangun dan Pengelola (BUPP) KEK Tanjung Lesung bersama PT Bro Skydive Indonesia, dengan target operasional pada minggu kedua Desember 2026.

Kerja sama kedua perusahaan ditandai dengan seremoni penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dalam Forum Pemasaran Investasi Banten 2026 yang diselenggarakan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM pada Senin (12/10). Adapun perjanjian kerja sama kedua perusahaan telah ditandatangani sebelumnya di Jakarta pada 1 Oktober 2026.

Dalam kerja sama tersebut, PT Banten West Java akan menyediakan lahan seluas sekitar 9 hektare untuk pengembangan wisata dirgantara. Sementara itu, PT Bro Skydive Indonesia bertanggung jawab membangun infrastruktur dan menyediakan fasilitas pendukung untuk kegiatan skydiving, sport aviation, dan aviation tourism.

Pengembangan ini akan memanfaatkan Bandara Salakanagara yang berada di kawasan KEK Tanjung Lesung dan telah dilengkapi landasan pacu serta hanggar. Infrastruktur yang direncanakan mencakup penyiapan area pendaratan atau landing zone, fasilitas pergerakan dan parkir pesawat, serta perpanjangan landasan pacu sekitar 200 meter guna mendukung keselamatan operasional.

Direktur Utama PT Banten West Java, Poernomo Siswoprasetijo, berharap kerja sama tersebut dapat segera direalisasikan sehingga memberikan dampak positif bagi pengembangan kawasan dan masyarakat sekitar.

“Semoga perjanjian (kerja sama) hari ini bisa menjadi langkah ke depan yang baik. Sehingga semua yang telah direncanakan untuk pengembangan skydiving di Tanjung Lesung bisa cepat terwujud,” ujar Poernomo saat penandatanganan perjanjian kerja sama di Jakarta, 1 Oktober 2026.

Direktur Utama PT Bro Skydive Indonesia, Fanny Kusuma Dewi, optimistis pengembangan wisata terjun payung ini mampu menarik wisatawan domestik maupun mancanegara. Menurut dia, potensi tersebut didukung oleh keindahan alam pesisir Tanjung Lesung serta ketersediaan fasilitas pariwisata di kawasan tersebut.

“Saya sangat optimis semua berjalan dengan baik. Karena Bro Skydive di Tanjung Lesung nanti merupakan satu-satunya dan pertama kali operator yang resmi di Indonesia dengan dropzone bertaraf internasional, yang kami yakin akan banyak didatangi oleh wisatawan mancanegara dan domestik,” ungkap Fanny.

Kehadiran wisata skydiving juga diharapkan memperluas pilihan aktivitas wisata di Tanjung Lesung. Pengalaman olahraga dirgantara ini berpotensi dipadukan dengan berbagai kegiatan yang telah tersedia, seperti olahraga air, snorkeling, memancing, dan island hopping.

Integrasi tersebut diharapkan mendorong pengembangan paket wisata terpadu sekaligus meningkatkan permintaan terhadap sektor pendukung, mulai dari akomodasi, transportasi, kuliner hingga layanan pariwisata lainnya. Dengan demikian, dampak investasi tidak hanya dirasakan oleh pengelola kawasan, tetapi juga pelaku usaha dan masyarakat setempat.

Dalam Forum Pemasaran Investasi Banten 2026, Wakil Gubernur Banten Achmad Dimyati Natakusumah menegaskan bahwa investasi yang masuk ke daerah harus mampu menghasilkan nilai tambah bagi perekonomian. Ia mengingatkan agar investasi tidak sekadar berorientasi pada penguasaan aset tanpa diikuti pengembangan usaha yang produktif.

“Investasi yang masuk ke Banten harus benar-benar dikembangkan agar dapat memberikan nilai tambah bagi perekonomian daerah dan masyarakat. Jangan sampai investasi hanya berhenti pada penguasaan aset, tetapi tidak dilanjutkan dengan pengembangan usaha,” ujar Achmad.

Ia juga menekankan pentingnya koordinasi dan kolaborasi antara pemerintah, investor, akademisi, serta seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan investasi tumbuh secara berkelanjutan.

Pengembangan wisata skydiving di KEK Tanjung Lesung menjadi bagian dari upaya diversifikasi atraksi pariwisata di Banten. Dengan target mulai beroperasi pada Desember 2026, proyek ini diharapkan memperkuat daya saing destinasi, meningkatkan kunjungan wisatawan, serta membuka peluang pertumbuhan ekonomi baru bagi masyarakat di sekitar kawasan.