INDUSTRY.co.id, Sukabumi-Penerapan Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS) di Desa Mekarmukti, Kecamatan Waluran, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, menunjukkan hasil yang menjanjikan.

Pada panen perdana di lahan demonstrasi seluas 2.800 m², hasil pengukuran ubinan tertinggi mencatat produktivitas padi setara 11,2 ton per hektare.

Panen yang dilaksanakan pada 15 Oktober 2026 tersebut melibatkan petani, penyuluh pertanian wilayah UPTD VI, Dinas Pertanian, Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PVTPP) Kementerian Pertanian selaku penanggung jawab kegiatan swasembada pangan, serta mitra Badan Pusat Statistik (BPS). Kegiatan ini menjadi tahap awal pengembangan sistem budidaya pertanian modern sekaligus sarana evaluasi penerapan teknologi budidaya padi di Kabupaten Sukabumi.

Tanaman dipanen pada umur 102 hari setelah sebar (HSS) dengan metode tanam benih langsung (tabela). Pengukuran produktivitas dilakukan menggunakan metode ubinan oleh BPS melalui dua sampel. Hasil pengukuran menunjukkan berat gabah masing-masing sebesar 7 kg dan 6,4 kg, yang dikonversi menjadi produktivitas sekitar 11,2 ton dan 10,24 ton per hektare. Dengan demikian, produktivitas rata-rata dari kedua sampel mencapai 10,72 ton per hektare.

Capaian tersebut menjadi indikator awal yang positif bagi penerapan PM-AAS di wilayah Sukabumi. Meski demikian, evaluasi teknis tetap diperlukan untuk memastikan konsistensi hasil dan mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat meningkatkan produktivitas pada musim tanam berikutnya. Selain penerapan teknologi budidaya, pemilihan varietas yang sesuai dengan kondisi agroekosistem setempat juga menjadi faktor penting dalam mendukung hasil panen yang optimal.

Dalam pelaksanaannya, budidaya PM-AAS diawali dengan perendaman benih dan dilanjutkan dengan penyemaian secara manual. Pemupukan dilakukan sebanyak tiga kali, yakni pada umur 7, 30, dan 45 hari setelah tanam (HST), menggunakan pupuk NPK dan urea. Pengendalian gulma dilakukan melalui aplikasi herbisida pada empat hari setelah tanam, sedangkan pemberian silika dilakukan sebanyak dua kali untuk mendukung pertumbuhan tanaman.

Sejumlah aspek teknis masih memerlukan evaluasi, termasuk efektivitas penggunaan drum seeder sebagai alat tanam. Pengamatan di lapangan juga menemukan sebagian bulir padi belum terisi secara optimal. Kondisi tersebut perlu dikaji lebih lanjut dengan memperhatikan ketepatan pemupukan, kecukupan unsur hara, kondisi tanaman, serta faktor lingkungan yang memengaruhi pembentukan dan pengisian gabah.

Pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) turut menjadi perhatian. Pada pertanaman tersebut ditemukan serangan hama penggerek batang, tikus, dan burung. Oleh karena itu, pemantauan rutin serta penerapan pengendalian OPT secara tepat dan terpadu diperlukan untuk menekan kehilangan hasil pada musim tanam berikutnya.

Hasil evaluasi panen perdana akan menjadi dasar perbaikan penerapan PM-AAS, mulai dari pengelolaan benih, teknik penanaman, pemupukan, pengendalian OPT, hingga penyesuaian teknologi dengan kondisi wilayah dan musim tanam. Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi usaha tani.

Pengembangan PM-AAS di Kabupaten Sukabumi direncanakan mencakup lahan hingga 10.000 hektare. Khusus di Kecamatan Waluran, calon petani dan calon lokasi (CPCL) yang telah terhimpun mencapai 174 hektare, dengan rencana pelaksanaan pada November–Desember 2026. Perluasan tersebut diharapkan menjadi kesempatan untuk menguji konsistensi produktivitas pada skala lahan yang lebih luas sekaligus menerapkan hasil evaluasi teknis dari panen perdana.

Aang, perwakilan Kelompok Tani Rancasalak, menyampaikan apresiasi atas dukungan dan pendampingan Kementerian Pertanian melalui PVTPP. Kelompok tani yang beranggotakan 35 orang tersebut berharap penerapan PM-AAS dapat terus dikembangkan sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak petani di wilayah sekitar.

PVTPP memandang panen perdana ini sebagai langkah awal pengembangan sistem budidaya modern di Kabupaten Sukabumi. Hasil uji coba tersebut diharapkan menjadi bahan pembelajaran bagi kelompok tani lainnya, dengan mengedepankan evaluasi berkelanjutan, penyesuaian teknologi terhadap kondisi setempat, serta penguatan pendampingan kepada petani.

Melalui penerapan PM-AAS yang disertai evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan, Kementerian Pertanian berharap produktivitas padi dan efisiensi usaha tani dapat terus ditingkatkan guna mendukung penguatan kemandirian pangan nasional.