INDUSTRY.co.id - Yogyakarta – Di tengah lesunya daya beli masyarakat, Arumanis Haji Ardi terus berjuang mempertahankan bisnis jajanan tradisional khas Yogyakarta. Setelah menghadapi masa sulit selama hampir tujuh tahun, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) ini kembali membidik pasar Jakarta, memperluas jaringan reseller, hingga membuka peluang ekspor.

Pemilik Arumanis Haji Ardi, H. Ardi mengakui kondisi usaha belum sepenuhnya pulih sejak pandemi Covid-19. Meski demikian, ia tetap optimistis dapat mengembangkan bisnis sekaligus mempertahankan arumanis sebagai warisan kuliner Indonesia.

“Kami tetap optimistis. Kami meyakini bahwa setelah tujuh tahun melewati masa paceklik, insyaallah akan datang masa kesuburan,” kata Ardi.

Salah satu langkah yang disiapkan adalah memperluas pemasaran melalui reseller. Ardi mengaku telah menjalin komunikasi dengan calon mitra dari Bogor untuk memperbesar jangkauan penjualan produknya.

Perjalanan Arumanis Haji Ardi menunjukkan tantangan yang dihadapi UMKM makanan tradisional untuk bertahan di tengah perubahan kondisi pasar.

Sebelum pandemi Covid-19, kapasitas produksi arumanis ukuran kecil milik Ardi pernah mencapai sekitar 5.000 unit per hari. Kini, strategi produksi dan pemasaran harus disesuaikan dengan permintaan pasar yang belum sepenuhnya pulih.

Meski menghadapi tekanan ekonomi, Ardi tetap mempertahankan sekitar 30 tenaga kerja. Baginya, keberlangsungan usaha bukan hanya soal penjualan, tetapi juga menjaga lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

Ia juga memilih mempertahankan metode produksi tradisional setelah mencoba menerapkan rekayasa teknologi yang hasilnya belum sesuai harapan. Konsistensi rasa dan kualitas bahan baku menjadi prioritas untuk menjaga kepercayaan konsumen.

Arumanis sendiri memiliki nama berbeda di sejumlah daerah. Di Jakarta, jajanan ini dikenal sebagai rambut nenek, sedangkan di sejumlah wilayah Jawa Timur disebut arbanat. Di Yogyakarta, produk tersebut lebih dikenal dengan nama arumanis.

Menurut Ardi, bahan utama arumanis adalah tepung terigu dan gula yang diolah hingga menghasilkan tekstur khas. Dengan pengolahan dan penyimpanan yang tepat, produknya dapat bertahan sekitar satu bulan pada suhu ruang.

Pernah Ekspor ke Amerika Serikat

Peluang pengembangan bisnis Arumanis Haji Ardi tidak hanya terbatas di pasar domestik. Ardi mengungkapkan, produknya pernah dikirim ke Amerika Serikat melalui pihak ketiga sebelum pandemi Covid-19.

Pengalaman tersebut menjadi modal untuk kembali menjajaki pasar yang lebih luas. Ia juga pernah mengikuti pameran di Jakarta sekitar sepuluh tahun lalu dan melihat ketertarikan masyarakat Asia terhadap arumanis.

Saat ini, distribusi produknya telah menjangkau sejumlah wilayah di Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan Yogyakarta. Namun, biaya pengiriman masih menjadi kendala untuk memperluas pemasaran ke luar daerah.

Ardi berharap partisipasinya dalam program Sibakuk di Yogyakarta dapat membantu mempermudah distribusi sehingga produknya lebih mudah menjangkau konsumen di berbagai wilayah.

Pembiayaan LPDB Jadi Penopang Usaha

Selain pemasaran, akses permodalan menjadi faktor penting dalam mempertahankan bisnis. Ardi mengaku telah bergabung dengan koperasi selama sekitar sepuluh tahun dan memperoleh dukungan pembiayaan, termasuk melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB).

Menurut dia, dukungan bagi UMKM seharusnya tidak berhenti pada pemberian modal, tetapi juga mencakup pendampingan dan ruang komunikasi ketika usaha menghadapi kesulitan.

“Jika ada persoalan, masih ada ruang untuk berdiskusi dan bermusyawarah,” ujarnya.

Ardi berharap semakin banyak pelaku UMKM memperoleh akses pembiayaan yang dapat membantu mereka menjaga kelangsungan produksi, mempertahankan pekerja, dan mengembangkan pasar.

Minta Pajak UMKM Lebih Sesuai Kondisi Usaha

Di tengah upaya memulihkan bisnis, Ardi juga berharap pemerintah mengevaluasi penerapan pajak UMKM sebesar 0,5 persen agar lebih sesuai dengan kondisi keuangan pelaku usaha.

Menurut dia, penurunan daya beli masyarakat masih menjadi tantangan bagi sebagian UMKM. Karena itu, ia menilai penghitungan pajak berdasarkan keuntungan usaha layak dipertimbangkan sebagai salah satu alternatif kebijakan.

Bagi Ardi, mempertahankan Arumanis Haji Ardi bukan sekadar menjaga bisnis tetap berjalan. Usaha tersebut juga menjadi bagian dari upaya melestarikan kuliner tradisional Yogyakarta sekaligus membuka lapangan pekerjaan.

Dengan menjaga kualitas produk, memperluas jaringan reseller, dan menjajaki pasar ekspor, Ardi berharap arumanis tidak hanya bertahan di tengah tekanan ekonomi, tetapi juga kembali utuh dan semakin dikenal di pasar nasional maupun internasional.