INDUSTRY.co.id - Jakarta — Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji mendorong pengembangan kain ulos sebagai warisan budaya sekaligus produk industri kreatif yang mampu meningkatkan kesejahteraan perajin dan memperkuat ekonomi daerah.
Menurut Sarmuji, ulos memiliki potensi ekonomi besar karena keunikan motif, warna, teknik pembuatan, serta nilai filosofi yang melekat pada kain tradisional masyarakat Batak tersebut.
“Ketika kita berbicara mengenai ulos, kita sesungguhnya tidak hanya berbicara mengenai kain atau produk budaya. Kita berbicara mengenai identitas, tradisi, manusia, dan penghidupan yang tumbuh di dalamnya,” ujar Sarmuji dalam sambutannya pada pembukaan Pameran Tenun Ulos di Jakarta, Selasa (13/10/2026).
Dia menjelaskan, potensi industri tenun ikat Indonesia tercermin dari nilai ekspor yang mencapai US$88 ribu sepanjang 2025. Pada semester I-2026, ekspor tenun ikat tercatat sebesar US$34 ribu, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$13.600.
Sarmuji menilai, peningkatan daya saing ulos perlu didukung inovasi produk agar dapat menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk konsumen generasi muda.
Saat ini, ulos tidak hanya digunakan dalam berbagai upacara adat, tetapi juga dikembangkan menjadi busana siap pakai (ready-to-wear), aksesori fesyen, dekorasi interior, hingga produk cenderamata.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2020, terdapat 43 sentra tenun ulos yang tersebar di sejumlah kabupaten dan kota di Sumatera Utara, antara lain Tapanuli Utara, Toba, dan Simalungun.
Meski memiliki peluang pasar yang menjanjikan, pengembangan industri ulos masih menghadapi tantangan, mulai dari regenerasi perajin, minat generasi muda, peningkatan kualitas produk, hingga inovasi desain yang sesuai dengan kebutuhan pasar.
“Kita tidak cukup hanya menjaga agar ulos tetap ada, tetapi juga harus memastikan agar ulos tetap hidup, digunakan, berkembang, dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat yang menjaganya,” tegasnya.
Untuk memperkuat industri kecil dan menengah (IKM) tenun tradisional, Kementerian Perindustrian menjalankan sejumlah program, meliputi pelatihan sumber daya manusia dan kewirausahaan, fasilitasi indikasi geografis, revitalisasi sentra, restrukturisasi mesin dan peralatan, serta perluasan akses pasar melalui pameran di dalam dan luar negeri.
Sarmuji menekankan, pelestarian budaya harus berjalan seiring dengan peningkatan nilai tambah ekonomi, terutama bagi perempuan perajin yang berperan penting dalam menjaga tradisi menenun sekaligus menopang perekonomian keluarga.
Mengusung tema “Menenun Harapan, Merajut Kemandirian”, Pameran Tenun Ulos diharapkan dapat meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap karya perajin, menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap wastra Nusantara, serta membuka peluang pasar yang lebih luas bagi produk ulos.
“Melalui pelestarian dan pengembangan ulos, kita membuka ruang yang lebih luas bagi para perajin perempuan untuk terus berkarya, meningkatkan kesejahteraan, dan memperkuat kemandirian ekonomi,” pungkas Sarmuji.