INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Bank Indonesia (BI) mencatat keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi nasional tetap berada di zona optimistis pada September 2026, meskipun mengalami penurunan tipis dibandingkan bulan sebelumnya. Di sisi lain, proporsi pendapatan masyarakat yang digunakan untuk konsumsi justru meningkat, mengindikasikan daya belanja konsumen masih terjaga.
Berdasarkan hasil Survei Konsumen Bank Indonesia yang disampaikan Departemen Komunikasi BI melalui siaran pers pada 8 Oktober 2026, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) September 2026 tercatat sebesar 118,1, turun dari 118,5 pada Agustus 2026.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso menyampaikan bahwa optimisme konsumen masih ditopang oleh persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi terhadap perekonomian ke depan.
“Optimisme tersebut ditopang oleh tetap kuatnya persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi kondisi ekonomi ke depan,” demikian keterangan Bank Indonesia dalam hasil Survei Konsumen September 2026.
Meski turun tipis, IKK yang masih berada di atas level 100 menunjukkan konsumen tetap optimistis. Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) tercatat sebesar 107,5, sedangkan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) mencapai 128,7.
Pergerakan kedua indeks tersebut memperlihatkan dinamika yang berbeda. Persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini melemah, sementara ekspektasi terhadap kondisi ekonomi enam bulan mendatang justru menguat.
IKE September 2026 turun dari 109,4 pada Agustus 2026. Penurunan ini terjadi meskipun seluruh komponen pembentuk IKE masih berada dalam zona optimistis, yakni Indeks Penghasilan Saat Ini sebesar 114,6, Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja sebesar 101,1, dan Indeks Pembelian Barang Tahan Lama sebesar 106,7.
Dari ketiga komponen tersebut, indeks ketersediaan lapangan kerja saat ini menjadi yang terendah, hanya sedikit di atas ambang optimisme. Kondisi ini mengindikasikan persepsi masyarakat terhadap pasar kerja masih perlu dicermati, terutama ketika keyakinan terhadap penghasilan dan kemampuan membeli barang tahan lama relatif lebih kuat.
Berdasarkan kelompok pengeluaran, indeks persepsi terhadap penghasilan saat ini tertinggi berada pada kelompok masyarakat dengan pengeluaran di atas Rp5 juta, yakni 121,4. Sementara itu, kelompok dengan pengeluaran Rp1 juta-Rp2 juta menjadi satu-satunya kelompok yang menunjukkan persepsi pesimistis terhadap penghasilan saat ini.
Dari sisi ketenagakerjaan, persepsi mengenai ketersediaan lapangan kerja saat ini juga belum merata. Responden berpendidikan akademi atau diploma, sarjana, dan pascasarjana masih optimistis. Sebaliknya, responden berpendidikan SMA berada di zona pesimistis, dengan indeks turun menjadi 96,9.
Berdasarkan kelompok usia, konsumen berusia 20-30 tahun menunjukkan optimisme paling tinggi terhadap kondisi ekonomi saat ini. Kelompok tersebut mencatat indeks penghasilan saat ini sebesar 128,2 dan indeks pembelian barang tahan lama sebesar 116,1.
Sementara itu, pembelian barang tahan lama masih terkonsentrasi pada kelompok berpengeluaran lebih tinggi. Indeks pembelian barang tahan lama pada kelompok pengeluaran di atas Rp5 juta mencapai 116,0. Adapun kelompok dengan pengeluaran lebih rendah masih menunjukkan kecenderungan pesimistis dalam pembelian barang tahan lama.
Ekspektasi Ekonomi Menguat, Konsumen Perkirakan Penghasilan Naik
Berbeda dengan persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini, ekspektasi konsumen terhadap perekonomian enam bulan ke depan menunjukkan penguatan. IEK September 2026 tercatat sebesar 128,7, meningkat dibandingkan dengan 127,6 pada bulan sebelumnya.
Penguatan tersebut ditopang oleh kenaikan Indeks Ekspektasi Penghasilan menjadi 136,9 dari 134,9 pada Agustus 2026. Indeks Ekspektasi Ketersediaan Lapangan Kerja juga meningkat menjadi 127,7 dari sebelumnya 125,7.
Adapun Indeks Ekspektasi Kegiatan Usaha tercatat sebesar 121,5. Meski masih berada dalam zona optimistis, indeks ini sedikit menurun dibandingkan dengan 122,1 pada bulan sebelumnya.
Kenaikan ekspektasi penghasilan dan lapangan kerja memberikan sinyal bahwa konsumen masih memiliki pandangan positif terhadap prospek ekonomi dalam jangka menengah. Namun, penurunan tipis ekspektasi kegiatan usaha menunjukkan optimisme terhadap aktivitas bisnis belum sepenuhnya menguat secara merata.
Dari sisi kelompok usia, konsumen berusia 20-30 tahun kembali menjadi kelompok paling optimistis. Indeks ekspektasi penghasilan kelompok ini mencapai 144,9, sedangkan indeks ekspektasi ketersediaan lapangan kerja berada di level 136,8.
Konsumen berusia 31-40 tahun juga menunjukkan optimisme tinggi, dengan indeks ekspektasi penghasilan sebesar 139,6. Data tersebut memperlihatkan bahwa kelompok usia produktif relatif yakin terhadap prospek penghasilan mereka dalam enam bulan mendatang.
Ekspektasi kegiatan usaha juga masih berada di zona optimistis pada seluruh kelompok pengeluaran. Indeks tertinggi tercatat pada kelompok dengan pengeluaran Rp4,1 juta-Rp5 juta, yakni 127,5. Namun, berdasarkan kelompok usia, peningkatan indeks hanya terjadi pada kelompok usia 20-40 tahun, sedangkan kelompok usia lainnya mengalami penurunan.
Secara spasial, pergerakan keyakinan konsumen juga bervariasi. Peningkatan IKK tertinggi terjadi di Pontianak, Medan, dan Padang. Sebaliknya, penurunan terbesar tercatat di Semarang, Mataram, dan Ambon.
Untuk persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini, Pontianak, Medan, dan Makassar mencatat peningkatan tertinggi. Sementara itu, Mataram, Bandung, dan Ambon mengalami penurunan terbesar. Adapun ekspektasi konsumen meningkat paling tinggi di Padang, Pontianak, dan Banten, sedangkan Semarang, Jakarta, dan Makassar mencatat penurunan terbesar.
Porsi Konsumsi Naik, Tabungan Menyusut
Di tengah penurunan tipis keyakinan konsumen, alokasi pendapatan rumah tangga justru menunjukkan peningkatan porsi konsumsi. BI mencatat rata-rata proporsi pendapatan konsumen yang digunakan untuk konsumsi atau average propensity to consume ratio pada September 2026 sebesar 74,9%, naik dari 74,2% pada Agustus 2026.
Kenaikan tersebut menunjukkan porsi pendapatan yang dibelanjakan masyarakat meningkat dalam periode survei. Perkembangan ini menjadi indikator penting untuk mencermati keberlanjutan konsumsi rumah tangga sebagai salah satu penopang aktivitas ekonomi domestik.
Di sisi lain, proporsi pendapatan yang dialokasikan untuk pembayaran cicilan atau utang tercatat sebesar 9,7%, relatif stabil dibandingkan dengan 10,0% pada bulan sebelumnya.
Sementara itu, proporsi pendapatan yang disimpan atau saving to income ratio mencapai 15,4%, sedikit menurun dari 15,8% pada Agustus 2026.
Perubahan alokasi pendapatan tersebut memperlihatkan bahwa peningkatan konsumsi berlangsung bersamaan dengan penurunan porsi tabungan. Meski demikian, data survei ini belum cukup untuk menyimpulkan bahwa kenaikan konsumsi sepenuhnya disebabkan oleh peningkatan daya beli, karena perkembangan pendapatan riil dan tekanan pengeluaran rumah tangga juga perlu diperhitungkan.
Berdasarkan kelompok pengeluaran, proporsi konsumsi terhadap pendapatan meningkat pada hampir seluruh kelompok. Pengecualian terjadi pada kelompok pengeluaran Rp1 juta-Rp2 juta, yang mengalami sedikit penurunan menjadi 77,2%.
Adapun porsi pendapatan yang ditabung mengalami penurunan pada sebagian besar kelompok pengeluaran. Perkembangan ini menunjukkan adanya perubahan alokasi pendapatan rumah tangga, meskipun pola konsumsi dan kemampuan menyisihkan pendapatan dapat berbeda antarkelompok.
Secara keseluruhan, hasil Survei Konsumen September 2026 menggambarkan kondisi yang beragam. Keyakinan konsumen masih berada di zona optimistis, ekspektasi ekonomi enam bulan ke depan menguat, dan proporsi konsumsi meningkat. Namun, pelemahan indeks kondisi ekonomi saat ini serta penurunan porsi tabungan menjadi faktor yang perlu dicermati dalam membaca kekuatan konsumsi rumah tangga pada periode berikutnya.