INDUSTRY.co.id - JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengungkapkan delapan tantangan utama yang masih menghambat 4,43 juta industri kecil dan menengah (IKM) untuk naik kelas dan berorientasi ekspor.
Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji mengatakan, dari total 4,43 juta unit usaha IKM yang tersebar di Indonesia, sebanyak 4,41 juta merupakan industri kecil dan mikro serta 22.161 industri skala menengah. Jumlah besar tersebut harus dioptimalkan dengan pembinaan yang terukur.
"Kita perlu identifikasi apakah yang kita lakukan terhadap IKM benar-benar bisa membuat mereka naik menjadi lebih tinggi. Misalnya, industri kecil bisa naik menjadi industri menengah. Jadi, pembinaan itu harus terlihat hasil akhirnya," tegas Sarmuji dalam rapat kerja dengan Ditjen IKMA di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
8 Tantangan IKM Versi Kemenperin
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin Reni Yanita merinci delapan tantangan tersebut, yakni:
1. Pembiayaan dan permodalan, akses IKM ke kredit masih terbatas.
2. Adopsi teknologi dan literasi digital, belum semua pelaku melek digital.
3. SDM industri, keterbatasan keterampilan dan regenerasi.
4. Rantai pasok dan kemitraan, lemahnya koneksi dengan industri besar.
5. Inovasi dan desain, produk belum terdiferensiasi untuk pasar global.
6. Ketersediaan bahan baku, pasokan tidak stabil dan harga fluktuatif.
7. Persaingan global dan akses pasar, gempuran produk impor murah dan minim akses ekspor.
8. Standardisasi, belum banyak yang kantongi SNI dan sertifikasi pangan untuk ekspor.
"Untuk menciptakan daya saing bisnis yang berkelanjutan, dibutuhkan pendekatan yang holistik. Pembinaan perlu mencakup hilirisasi komoditas unggulan, adopsi teknologi dan inovasi produk, serta peningkatan kapasitas modal dan SDM," ujar Reni.
Menurut Reni, tantangan di sisi pasar yang paling dirasakan adalah produk impor murah dan keterbatasan akses untuk menembus pasar ekspor. Karena itu, penguatan kemitraan menjadi kunci agar IKM bisa masuk rantai pasok industri besar sehingga mendapat kepastian pasar, peningkatan kapasitas, dan standar mutu.
Kemenperin mencatat hingga triwulan III 2026, sebanyak 203 IKM telah difasilitasi temu bisnis. Sebanyak 313 IKM mendapat pembinaan ekspor, di mana 98 IKM atau 31 persen sudah berhasil ekspor dan 215 IKM atau 69 persen masih potensial.
Sementara itu, Menperin Sarmuji mendorong IKM memanfaatkan era digital untuk berjualan lintas negara.
"Kita bisa konsentrasi pada industri kecil dan menengah yang berorientasi ekspor. Karena di era sekarang, orang bisa berjualan secara online sampai ke luar negeri. Ada teman saya yang bahkan menjual dawet sampai ke Hong Kong. Jadi, urusan ekspor jangan hanya menjadi domain industri besar, tetapi industri kecil dan menengah juga harus bisa," kata Sarmuji.
Menurutnya, produk IKM yang masuk ke pasar global tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga menjadi soft diplomacy untuk memperkenalkan identitas Indonesia.