INDUSTRY.co.id - JAKARTA - PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (IDX: DSSA) tancap gas ekspansi ke ekosistem kecerdasan buatan (AI) dan infrastruktur digital setelah membukukan kinerja keuangan yang sehat pada semester I-2026.
Perseroan mencatatkan pendapatan usaha sebesar 1,77 miliar dollar AS, tumbuh 34 persen dibandingkan 1,32 miliar dollar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya. Seiring itu, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk melonjak 79,6 persen menjadi 174,4 juta dollar AS.
Dari sisi neraca, per 30 Juni 2026 DSSA mencatat total aset sebesar 6,08 miliar dollar AS dan posisi ekuitas sebesar 3,05 miliar dollar AS. Total aset naik 1,66 miliar dollar AS atau 37,63 persen dibandingkan akhir 2025, sementara liabilitas naik 874,52 juta dollar AS atau 40,6 persen akibat pinjaman bank jangka panjang untuk pengembangan investasi.
Presiden Direktur DSSA L. Krisnan Cahya mengatakan, kinerja tersebut mencerminkan konsistensi strategi diversifikasi yang dijalankan Perseroan.
"Kinerja semester I 2026 mencerminkan konsistensi strategi diversifikasi yang dijalankan Perseroan. Pertumbuhan kebutuhan data, konektivitas, dan pemanfaatan kecerdasan artifisial menjadi pendorong utama pengembangan bisnis digital kami," ujar Krisnan, Kamis (8/10/2026).
DSSA memperkuat infrastruktur digital yang terintegrasi, mulai dari jaringan serat optik, pusat data, hingga solusi berbasis AI, untuk mendorong pemerataan akses teknologi di Indonesia.
Ekspansi AI & Data Center
Model bisnis DSSA yang terdiversifikasi membuat setiap pilar saling menopang. Pilar energi melalui pertambangan dan perdagangan batubara membukukan pendapatan 1,53 miliar dollar AS atau tumbuh 29,8 persen dan tetap menjadi sumber arus kas yang kokoh.
Sementara pilar teknologi dan infrastruktur digital membukukan pendapatan 182,2 juta dollar AS atau tumbuh 89,3 persen.
Di pilar energi, Perseroan mengembangkan energi baru terbarukan melalui PT Daya Mas Bumi Sentosa, perusahaan patungan bersama PT FirstGen Geothermal Indonesia yang mengembangkan wilayah kerja panas bumi di luar Pulau Jawa. Selain itu, PT Trina Mas Agra Indonesia memproduksi sel dan modul surya di dalam negeri.
Di pilar teknologi, MoraRepublic mempercepat ekspansi pasca-merger MORA dan PT Eka Mas Republik menjadi PT Ekamas Mora Republik Tbk. Jaringan fiber to the home (FTTH) diperluas ke 186 kota dan kabupaten.
Untuk menjangkau wilayah blank spot, MoraRepublic menghadirkan MyRepublic Air, layanan internet rumah berbasis fixed wireless access (FWA) dengan harga mulai Rp 100.000 per bulan yang menyasar kota lapis kedua dan ketiga di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, dan Nusa Tenggara.
Di sisi komputasi, SM+ bersama Korea Investment Real Asset Management (KIRA) dan LG Sinar Mas tengah merampungkan SMX01, pusat data AI-ready di kawasan pusat bisnis Jakarta yang telah topping off dan ditargetkan beroperasi pada kuartal IV-2026. SMX01 akan melengkapi jaringan pusat data edge SM+ di berbagai wilayah.
Sepanjang kuartal II 2026, DSSA juga melakukan aksi korporasi berupa pemecahan nilai nominal saham 1:25, penggabungan usaha MORA, serta pendirian perusahaan patungan AI bersama iFLYTEK.
Dengan kas dan setara kas sebesar 723,3 juta dollar AS per 30 Juni 2026 atau naik 75,2 persen dari akhir 2025, Perseroan optimistis memperkuat sinergi bisnis berkelanjutan.