INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Harga minyak mentah bergerak terbatas dengan kecenderungan melemah pada awal perdagangan Senin (7/9/2026). Tekanan datang dari keputusan OPEC+ mempertahankan kebijakan peningkatan produksi pada Oktober sekaligus membatalkan pemangkasan sukarela yang selama ini menjadi salah satu penopang harga minyak global.

OPEC+ pada Minggu (6/9/2026) sepakat mempertahankan kebijakan produksi minyak untuk Oktober. Aliansi produsen minyak tersebut juga membatalkan pemangkasan sukarela sebesar 1,65 juta barel per hari (bph) yang pertama kali disepakati pada 2023.

Keputusan tersebut mengindikasikan pasokan minyak global berpotensi semakin longgar. Kondisi ini menjadi sentimen negatif bagi harga minyak karena pasar harus bersiap menghadapi tambahan pasokan dari sejumlah negara produsen.

Kesepakatan tersebut diambil oleh tujuh anggota utama OPEC+, yakni Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Aljazair, Kazakhstan, dan Oman. Ketujuh negara tersebut juga sepakat kembali bertemu pada 4 Oktober mendatang untuk mengevaluasi perkembangan pasar minyak.

Di tengah tekanan dari sisi pasokan, risiko geopolitik justru menjadi penahan bagi penurunan harga minyak. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah Teheran mengancam memberikan respons lebih keras terhadap serangan lanjutan AS.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, yang juga bertindak sebagai kepala negosiator Teheran, menyatakan Iran siap meningkatkan responsnya terhadap serangan AS. Ketegangan terbaru bahkan telah melibatkan penargetan terhadap dua kapal perang AS.

Media pemerintah Iran juga melaporkan Angkatan Laut Iran menyerang sebuah kapal milik AS yang mencoba memasuki Selat Hormuz. Perkembangan ini menjadi perhatian pasar lantaran selat tersebut merupakan salah satu jalur strategis bagi perdagangan minyak dunia.

Risiko gangguan pasokan semakin terlihat dari aktivitas pelayaran di kawasan tersebut. Data pelacakan kapal Kpler yang dirilis Senin menunjukkan lalu lintas kapal di Selat Hormuz turun ke level terendah sejak Mei.

Dalam rata-rata pergerakan 10 hari, hanya sekitar 10 kapal tercatat melintasi Selat Hormuz pada Minggu. Angka tersebut turun dari lebih dari 15 kapal pada Jumat dan hampir 13 kapal pada Sabtu.

Penurunan lalu lintas kapal tersebut menjadi sinyal bahwa eskalasi konflik mulai memberikan dampak terhadap mobilitas di jalur perdagangan energi tersebut. Jika gangguan berlangsung lebih lama atau meluas, risiko pasokan minyak global kembali terganggu dan berpotensi memberikan dorongan terhadap harga.

Sentimen geopolitik juga datang dari Lebanon selatan. Militer Israel melancarkan serangan pada Minggu dini hari yang menewaskan tujuh orang. Serangan tersebut disebut sebagai respons setelah Hizbullah mengerahkan dua drone ke arah tentara Israel di zona keamanan.

Dengan kondisi tersebut, pasar minyak kini menghadapi dua kekuatan yang berlawanan. Di satu sisi, keputusan OPEC+ untuk mempertahankan peningkatan produksi membuka ruang bagi bertambahnya pasokan. Di sisi lain, konflik Timur Tengah meningkatkan premi risiko karena potensi gangguan terhadap jalur distribusi minyak.

Secara teknikal, harga minyak diperkirakan menghadapi level resistance terdekat di US$95 per barel. Jika mampu menembus level tersebut, ruang penguatan harga akan semakin terbuka seiring meningkatnya risiko geopolitik.

Sebaliknya, apabila sentimen negatif dari sisi pasokan semakin dominan, harga minyak berpotensi kembali terkoreksi menuju level support terdekat di US$90 per barel.

Pergerakan harga dalam beberapa hari ke depan dengan demikian akan sangat bergantung pada seberapa besar pasar memperhitungkan tambahan pasokan OPEC+ dibandingkan risiko gangguan distribusi akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.