INDUSTRY.co.id - Jakarta — Secangkir kopi kerap hadir sebagai hasil akhir dari perjalanan panjang yang tidak selalu terlihat. Sebelum biji kopi sampai ke tangan konsumen, ada petani yang menanam dan merawat tanaman, pemetik yang memilih buah terbaik, pengolah yang menentukan karakter biji, hingga roaster dan barista yang menyempurnakan pengalaman dalam secangkir minuman.
Bagi Felix TJ, CEO Roemah Koffie, perjalanan tersebut menjadi pengingat bahwa pertumbuhan industri kopi Indonesia tidak semestinya hanya berbicara mengenai peningkatan produksi, perluasan pasar, maupun perkembangan teknologi. Di balik setiap pertumbuhan, ada manusia, pengetahuan, dan budaya yang turut menentukan masa depan kopi Indonesia.
Gagasan tersebut disampaikan Felix dalam sesi IdeaFest 2026 bertajuk “Rooted in Culture, Brewed by Hand: Rehumanize Coffee” di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta. Dalam sesi yang dimoderatori Iwet Ramadhan itu, Felix mengajak pelaku industri dan masyarakat melihat kembali posisi manusia dalam ekosistem kopi.
“Di balik satu cangkir kopi ada ekosistem manusia yang panjang dan saling terhubung. Ada petani yang menanam, pemetik yang memilih buah matang, prosesor yang mengolah, roaster yang menentukan karakter rasa, hingga barista yang menyajikannya,” ujar Felix.
Menurut dia, budaya kopi tidak berhenti pada minuman yang tersaji di meja. Nilainya juga terbentuk dari manusia yang bekerja dan hidup berdampingan dengan komoditas tersebut, termasuk pengetahuan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Besarnya industri kopi Indonesia tidak terlepas dari peran jutaan petani kecil. Kementerian Pertanian mencatat produksi kopi nasional pada 2024 mencapai sekitar 813 ribu ton. Sementara itu, Kementerian Perdagangan menyebut lebih dari 95 persen produksi kopi Indonesia dikelola petani kecil, dengan sekitar 1,2 juta keluarga petani terlibat di dalam ekosistem tersebut dan perempuan memainkan peran yang sangat besar didalamnya.
Pada 2025, nilai ekspor kopi Indonesia bahkan mencapai rekor sekitar USD2,513 miliar dengan volume 511.182 ton. Angka-angka tersebut memperlihatkan besarnya potensi ekonomi kopi Indonesia. Namun, Felix mengingatkan bahwa pertumbuhan industri seharusnya juga meningkatkan nilai yang diterima manusia di balik komoditas tersebut.
“Kalau pertumbuhan hanya berarti menjual lebih banyak kopi, tetapi petani tetap menghadapi yang sama, kapasitas di daerah asal tidak berkembang, dan proses dipercepat dengan mengurangi standar, maka pertumbuhan tersebut belum tentu memperkuat ekosistem,” jelasnya.
Perspektif itu turut memengaruhi cara Felix memaknai specialty coffee. Menurutnya, kualitas kopi tidak cukup dilihat berdasarkan grade, angka, atau teknik penyeduhan. Ada aspek manusia dan budaya yang ikut membentuk keunikan kopi dari setiap daerah.
“Specialty coffee bagi saya sangat luas. Bukan hanya mengenai grade, tetapi juga mengenai manusia dan budaya, bagaimana mereka memperlakukan kopi berdasarkan filosofi serta pengetahuan yang mereka miliki,” katanya.
Dengan perspektif tersebut, petani dan pengolah kopi ditempatkan bukan sekadar sebagai pemasok bahan baku, melainkan mitra strategis yang memiliki pengetahuan serta keputusan penting dalam menentukan karakter akhir kopi.
Kisah dari Garut dan Harapan Regenerasi
Salah satu pengalaman yang membekas bagi Felix terjadi ketika bertemu keluarga petani kopi di Garut, Jawa Barat. Di keluarga tersebut terdapat Robby, anggota termuda yang tidak menyelesaikan pendidikan SMP.
Namun, keterbatasan pendidikan formal tidak menghalanginya untuk belajar. Bermodalkan telepon genggam, Robby mempelajari berbagai metode pengolahan kopi, termasuk fermentasi anaerobik.
Pengetahuan tersebut kemudian ia praktikkan dengan meminta sebagian hasil panen keluarganya untuk diolah menggunakan metode yang dipelajarinya. Hasilnya memiliki karakter rasa dan nilai yang lebih tinggi dibandingkan kopi yang sebelumnya hanya dijual sebagai hasil panen mentah.
Bagi Felix, pengalaman itu menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk menciptakan nilai baru tanpa harus meninggalkan pengetahuan yang diwariskan keluarganya. Namun, cerita tersebut sekaligus memperlihatkan tantangan lain yang dihadapi industri kopi, yakni regenerasi petani.
Di sejumlah daerah yang dikunjunginya, Felix masih menemukan kegiatan pertanian kopi yang masih banyak dijalankan generasi oleh generasi yang lebih tua. Sementara itu, generasi berikutnya menghadapi pilihan yang semakin beragam di luar sektor pertanian.
“Kalau generasi berikutnya meninggalkan pertanian, kopi Indonesia akan kehilangan bukan hanya produksinya, tetapi juga pengetahuan dan budaya yang selama ini menjaganya,” ujarnya.
Karena itu, menurut Felix, ekosistem kopi harus dibuat cukup bernilai dan relevan untuk menarik generasi muda kembali melihat pertanian sebagai bagian dari masa depan.
Di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, Felix tidak melihat modernisasi sebagai sesuatu yang harus ditolak. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi instrumen untuk memperluas akses informasi, meningkatkan kualitas, serta mempertemukan produsen dengan konsumen. Namun, teknologi tidak seharusnya mengambil alih peran manusia.
“Technology is just a tool. Kita tidak mengagungkan teknologinya, tetapi menggunakannya sebagai alat yang tepat. Teknologi tidak boleh melampaui kehebatan manusianya,” kata Felix.
Internet dan media sosial, misalnya, memungkinkan konsumen mempelajari lebih jauh asal suatu produk, nilai sebuah merek, hingga sosok manusia yang berada di baliknya. Bagi industri kopi, ruang digital juga membuka peluang agar cerita dari daerah penghasil kopi dapat menjangkau audiens yang lebih luas.
Di sisi lain, modernisasi perlu berjalan tanpa menghapus praktik lokal yang telah berkembang selama bertahun-tahun.
Felix mencontohkan keterlibatan perempuan dalam proses pemilihan biji kopi di Flores. Ketelitian dalam proses tersebut bukan hanya berkontribusi terhadap kualitas kopi, tetapi juga memperlihatkan hubungan antara pengalaman, peran sosial, dan nilai komunitas dalam menghasilkan sebuah produk.
“Teknologi, budaya, dan karya-karya yang lahir di Indonesia merupakan bagian dari jati diri kita. Modernisasi seharusnya membantu kita membawa jati diri tersebut ke generasi berikutnya, bukan menghilangkannya,” lanjut Felix.
Menghubungkan Rasa dengan Kisah
Gagasan untuk menjaga hubungan antara kopi, manusia, dan budaya kemudian diterjemahkan Roemah Koffie melalui filosofi “Rasa dan Kisah”.
Rasa menjadi pengalaman yang dirasakan konsumen, sementara kisah memberikan konteks mengenai manusia, daerah asal, serta nilai yang melahirkan produk tersebut.
Pendekatan itu antara lain diwujudkan melalui penggunaan lagu-lagu folklor Indonesia seperti Rambadia dari Sumatera Utara, Anak Daro, dan Cublak Suweng. Lagu-lagu tersebut menjadi bagian dari rangkaian cerita mengenai kehidupan sekaligus medium untuk memperkenalkan kembali warisan budaya kepada generasi yang lebih luas.
Pada Juli 2026, Roemah Koffie memperkenalkan Cublak Suweng sebagai premium roastery blend yang memadukan kopi Gayo, Aceh, dan Temanggung, Jawa Tengah. Nama produk, asal kopi, profil rasa, hingga cerita budaya di belakangnya dirancang sebagai satu pengalaman yang utuh.
“Cerita yang kami ambil berasal dari lagu-lagu folklor Indonesia. Semuanya memiliki makna yang dalam. Kami ingin membawa cerita dari Sabang sampai Merauke dan menjadikannya bagian dari perjalanan menikmati kopi,” jelas Felix.
Bagi Felix, Indonesia sesungguhnya tidak kekurangan cerita. Kekayaan budaya, musik, kerajinan, filosofi, hingga pengetahuan lokal dapat menjadi sumber inspirasi tanpa harus menciptakan narasi baru yang terlepas dari akar masyarakat.
Pendekatan tersebut juga dibawa Roemah Koffie ke panggung internasional melalui instalasi visual dan suara, cerita komunitas penghasil kopi, live roasting, lokakarya, serta Roemah Koffie Academy. Pengunjung tidak hanya diajak mencicipi kopi, tetapi juga memahami konteks manusia dan budaya yang membentuknya.
Sejak berdiri pada 2022, Roemah Koffie, bagian dari RAI (Royal Agro Industri), telah mengembangkan ekosistem yang mencakup roastery dan pengembangan produk, jaringan coffee shop, penyedia kopi dan solusi F&B untuk pelanggan B2B, produk konsumen yang tersedia melalui supermarket serta kanal modern trade, hingga Roemah Koffie Academy untuk pendidikan dan pengembangan talenta kopi.
Ekosistem tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas akses terhadap kopi Indonesia sekaligus membawa kualitas, pengetahuan, dan cerita budaya kepada konsumen, mitra bisnis, serta pelaku industri.
Pada akhirnya, gagasan “Rehumanize Coffee” yang disampaikan Felix menempatkan pertumbuhan industri dalam perspektif yang lebih luas. Kopi Indonesia tidak hanya diharapkan semakin dikenal dan semakin besar nilai ekonominya, tetapi juga mampu membawa serta manusia, keterampilan, dan budaya yang membuatnya memiliki karakter.
“Cita-citanya bukan hanya agar dunia mengetahui bahwa Indonesia menghasilkan kopi. Kita ingin dunia memahami bahwa kopi Indonesia membawa pengetahuan, keterampilan, keragaman budaya, dan cerita manusia,” tutup Felix.