INDUSTRY.co.id - JAKARTA — Pergerakan dolar Amerika Serikat (AS) cenderung tertahan pada perdagangan Kamis (13/8/2026) setelah data inflasi AS Juli menunjukkan tekanan harga yang lebih moderat. Investor kini mengalihkan perhatian ke rilis Producer Price Index (PPI) AS dan perkembangan kebijakan moneter bank sentral global yang berpotensi menentukan arah mata uang utama.

Di pasar Asia, USDJPY dibuka di sekitar 159,42 dan bergerak melemah ke area 159,30. Pergerakan yen menjadi sorotan karena pelaku pasar semakin mewaspadai potensi intervensi otoritas AS dan Jepang, terutama ketika pasangan mata uang tersebut mendekati level psikologis 160.

Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama sebelumnya menyampaikan bahwa AS telah melakukan intervensi bersama di pasar valuta asing untuk meredam fluktuasi tajam dan pergerakan yen yang dinilai tidak teratur. Presiden AS Donald Trump juga mengonfirmasi keterlibatan Washington dan menyebut langkah tersebut sebagai bentuk hubungan yang bersahabat.

"Perkembangan ini membuat pelaku pasar lebih berhati-hati terhadap potensi penguatan USDJPY, terutama ketika mendekati level psikologis 160,00," demikian perhatian pasar terhadap risiko intervensi tersebut.

Tekanan terhadap USDJPY juga datang dari arah kebijakan Bank of Japan (BoJ). Ringkasan opini pertemuan BoJ Juli menunjukkan adanya pembahasan mengenai kemungkinan mempercepat kenaikan suku bunga di tengah risiko inflasi yang berada di atas target 2%.

BoJ bahkan berpotensi mempertimbangkan kenaikan suku bunga tambahan pada pertemuan September setelah menaikkan suku bunga pada Juni. Ekspektasi tersebut menjadi katalis bagi yen sekaligus membatasi ruang penguatan USDJPY.

Namun, selisih imbal hasil Jepang dengan negara lain masih menjadi faktor yang menjaga daya tarik strategi carry trade. Kondisi tersebut membuat penguatan yen belum sepenuhnya leluasa.

Secara teknikal, USDJPY menghadapi resistance di 159,50. Jika gagal menembus area tersebut, pasangan ini berpotensi menguji support di 158,50.

Sementara itu, EURUSD mulai bangkit setelah tiga hari berturut-turut melemah. Pasangan tersebut menguat tipis ke sekitar 1,1530 pada sesi Asia setelah dolar AS kehilangan sebagian momentum akibat data inflasi Juli.

CPI AS tercatat 3,4% secara tahunan, turun dari 3,5% pada bulan sebelumnya. Sementara itu, inflasi inti melambat menjadi 2,5% dari 2,6% pada Juni. Kedua angka tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar dan mengurangi kekhawatiran terhadap pengetatan moneter Federal Reserve (The Fed) secara agresif pada September.

Dari Eropa, euro masih mendapatkan sokongan dari ekspektasi kebijakan European Central Bank (ECB) yang relatif hawkish. Ekspektasi inflasi kawasan Euro untuk satu tahun ke depan berada di sekitar 2,4%, masih di atas target ECB sebesar 2%. Inflasi aktual juga meningkat menjadi 2,9% pada Juli.

Ekonomi Eurozone turut memberikan sinyal positif setelah tumbuh 0,4% pada kuartal II, menjadi pertumbuhan terkuat sejak awal 2025. Kondisi tersebut membuat pasar masih membuka peluang kenaikan suku bunga ECB sebesar 25 basis poin pada September.

"Penguatan EURUSD berpotensi terbatas oleh meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran," demikian pertimbangan pasar. Secara teknikal, EURUSD memiliki support di 1,1500 dan resistance di 1,1570.

Poundsterling juga ikut menikmati pelemahan dolar AS. GBPUSD menguat tipis ke sekitar 1,3498 dan kembali mendekati level 1,3500. Pasar kini menanti data GDP Inggris kuartal II serta PPI AS yang dirilis pada Kamis.

Ekonomi Inggris diperkirakan tumbuh 0,4% secara kuartalan pada kuartal II, melambat dari pertumbuhan 0,6% pada kuartal I. Jika realisasi GDP melampaui ekspektasi, pound berpeluang memperoleh tenaga tambahan.

Di sisi lain, PPI AS akan menjadi ujian berikutnya bagi dolar. Jika data harga produsen kembali menunjukkan moderasi, ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dapat semakin menguat dan memberikan tekanan tambahan terhadap greenback.

GBPUSD memiliki support di 1,3450 dan resistance di 1,3520.

Di kawasan Pasifik, dolar Australia juga bergerak menguat tipis. AUDUSD berada di sekitar 0,7061 setelah mendapat dukungan dari pernyataan Assistant Governor Reserve Bank of Australia (RBA) Chris Kent.

Kent menyatakan kenaikan suku bunga sejauh ini telah memberikan dampak sesuai harapan dalam membantu mengendalikan inflasi. Namun, RBA masih membuka peluang kenaikan suku bunga lebih lanjut apabila risiko inflasi kembali meningkat.

"RBA tetap membuka kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut apabila risiko terhadap inflasi kembali meningkat," demikian pesan yang menjadi perhatian pasar.

Nilai tukar Australia yang relatif tinggi juga dinilai membantu menekan inflasi melalui penurunan harga barang impor. Kendati demikian, RBA masih menghadapi tantangan berupa produktivitas yang lemah dan risiko inflasi, sementara pasar perumahan menunjukkan pelemahan dalam beberapa bulan terakhir.

Investasi besar pada pusat data dan infrastruktur kecerdasan buatan masih menjadi penopang permintaan ekonomi Australia. AUDUSD memiliki support di 0,7020 dan resistance di 0,7100.

Berbeda dengan aussie, dolar Selandia Baru masih tertekan. NZDUSD turun ke sekitar 0,5859, mendekati level terendah dalam dua pekan.

Penguatan dolar AS tetap membatasi ruang pemulihan NZD, meskipun data inflasi AS yang moderat sebenarnya telah mengurangi peluang pengetatan moneter The Fed pada September. Dari dalam negeri, kiwi masih memperoleh dukungan dari ekspektasi Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) akan menaikkan suku bunga 25 basis poin pada bulan depan.

Namun, risiko geopolitik AS-Iran kembali menjadi faktor penghambat. Ketegangan kedua negara belum menunjukkan kemajuan berarti, sementara Trump menyatakan AS memiliki "kendali penuh" atas Selat Hormuz.

NZDUSD memiliki support di 0,5830 dan resistance di 0,5890.

Dolar AS juga bergerak terbatas terhadap franc Swiss. USDCHF naik tipis ke sekitar 0,8129 setelah data inflasi AS sesuai ekspektasi. Moderasi CPI dan core CPI membuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September berkurang, sehingga ruang penguatan greenback masih terbatas.

Perhatian pasar kini beralih ke PPI AS dan komentar pejabat The Fed. Pada saat yang sama, ketegangan AS-Iran dan risiko gangguan Selat Hormuz masih berpotensi memicu volatilitas harga minyak dan meningkatkan tekanan inflasi.

Jika harga minyak kembali melonjak, permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven dapat meningkat. USDCHF memiliki support di 0,8100 dan resistance di 0,8150.

Sementara itu, USDCAD bergerak tipis menguat ke 1,3943. Dolar Kanada masih tertekan oleh penurunan harga minyak setelah OPEC dan IEA kembali memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global 2026.

Kondisi tersebut membuat loonie kehilangan sebagian dukungannya dari sektor komoditas. Namun, apabila ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed semakin surut, dolar AS tetap berpotensi kembali melemah.

"Pergerakan USDCAD selanjutnya akan dipengaruhi oleh perkembangan ekspektasi suku bunga The Fed dan arah harga minyak," demikian prospek pasar. Secara teknikal, support USDCAD berada di 1,3927, sedangkan resistance berada di 1,3964.

Secara keseluruhan, pasar valuta asing kini berada di persimpangan antara melemahnya tekanan inflasi AS, potensi pelonggaran kebijakan The Fed, ancaman intervensi terhadap yen, serta divergensi kebijakan bank sentral global. Data PPI AS menjadi katalis terdekat yang akan menentukan apakah tekanan terhadap dolar AS berlanjut atau greenback kembali mendapatkan pijakan.