INDUSTRY.co.id - JAKARTA — Harga minyak mentah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Kamis (13/8/2026). Prospek permintaan global yang semakin suram dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan International Energy Agency (IEA), ditambah lonjakan stok minyak mentah Amerika Serikat (AS), menjadi beban utama pergerakan harga minyak.

Sentimen negatif menguat setelah OPEC kembali memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak dunia pada 2026. Dalam laporan pasar minyak bulanan yang dirilis Rabu (12/8), OPEC memperkirakan pertumbuhan permintaan hanya sekitar 580.000 barel per hari (bph).

Revisi tersebut menjadi pemangkasan keempat secara berturut-turut, menandakan semakin kuatnya kekhawatiran terhadap prospek konsumsi minyak global sepanjang tahun ini.

Tekanan semakin besar setelah IEA juga mengambil pandangan lebih pesimistis. Lembaga energi yang berbasis di Paris tersebut memperkirakan permintaan minyak dunia pada 2026 akan turun sebesar 1,6 juta bph. Angka tersebut jauh lebih dalam dibandingkan proyeksi sebelumnya dan naik 510.000 bph dari perkiraan bulanan yang dirilis IEA pada Juli.

IEA menilai dampak penutupan Selat Hormuz semakin memperburuk prospek pasar minyak. Gangguan pada jalur perdagangan energi strategis tersebut berpotensi menekan aktivitas ekonomi sekaligus mengganggu arus perdagangan minyak global.

"IEA memperkirakan permintaan minyak dunia akan turun lebih dalam dari perkiraan sebelumnya pada tahun ini, seiring dengan semakin parahnya dampak penutupan Selat Hormuz," demikian laporan tersebut.

Dari pasar AS, tekanan terhadap harga minyak datang dari data persediaan Energy Information Administration (EIA). Stok minyak mentah AS melonjak 17,42 juta barel pada pekan yang berakhir 7 Agustus 2026.

Kenaikan tersebut berbanding terbalik dengan ekspektasi pasar yang sebelumnya memperkirakan stok justru menyusut 1,4 juta barel. Lonjakan tersebut juga menjadi peningkatan terbesar sejak Januari 2023.

Besarnya penambahan stok menjadi sinyal bahwa penyerapan minyak di pasar AS masih lemah. Kondisi ini memperkuat kekhawatiran bahwa pasokan minyak saat ini lebih besar dibandingkan permintaan, sehingga membuat ruang penguatan harga semakin terbatas.

Di tengah tekanan fundamental tersebut, ketidakpastian geopolitik Iran juga masih menjadi faktor yang diperhatikan pasar. Seorang pejabat senior Iran pada Rabu menegaskan belum terdapat kemajuan dalam pembicaraan untuk menghidupkan kembali kesepakatan sementara yang disepakati pada Juni, termasuk terkait kerangka waktu pelaksanaannya.

Kabar tersebut kembali meredupkan harapan pasar terhadap berakhirnya perang Iran dan pembukaan kembali Selat Hormuz. Bagi pasar minyak, keberlanjutan penutupan jalur strategis tersebut berpotensi menjaga risiko gangguan pasokan tetap tinggi.

Namun, sentimen geopolitik tersebut belum cukup untuk mengimbangi tekanan dari sisi permintaan dan kenaikan stok AS. Pasar kini menghadapi kombinasi antara prospek konsumsi global yang melemah dan persediaan minyak yang meningkat, sehingga risiko koreksi harga masih terbuka.

Secara teknikal, harga minyak berpotensi menguji resistance terdekat di US$85 per barel. Jika mampu menembus level tersebut, ruang penguatan berikutnya akan bergantung pada munculnya katalis positif dari sisi fundamental maupun geopolitik.

Sebaliknya, apabila tekanan jual kembali menguat, harga minyak berpotensi merosot menuju support terdekat di US$80 per barel. Level tersebut menjadi area penting untuk melihat apakah koreksi harga hanya bersifat sementara atau berlanjut lebih dalam.

Dengan prospek permintaan yang terus dipangkas OPEC dan IEA serta lonjakan stok minyak mentah AS, pasar minyak untuk sementara menghadapi tekanan dari dua sisi sekaligus. Investor pun akan mencermati apakah risiko geopolitik di Timur Tengah mampu menjadi penahan penurunan atau justru kalah kuat oleh kekhawatiran terhadap lemahnya konsumsi minyak global.