INDUSTRY.co.id - JAKARTA — Harga emas kembali menguat pada perdagangan Rabu (12/8/2026) pagi. Logam mulia dibuka di level US$4.368 per troy ons ketika investor memilih mengambil posisi hati-hati menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) Juli yang berpotensi menentukan arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).

Pasar saat ini memperkirakan inflasi headline AS berada di sekitar 3,4% secara tahunan atau year on year (YoY), sementara inflasi inti atau core CPI diproyeksikan mencapai 2,5% YoY. Realisasi data tersebut akan menjadi perhatian utama investor karena dapat mengubah kembali ekspektasi terhadap arah suku bunga The Fed.

Jika inflasi menunjukkan tanda kembali memanas, ruang bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneter berpotensi semakin terbatas. Kondisi tersebut dapat mendorong penguatan dolar AS sekaligus meningkatkan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau Treasury, yang pada akhirnya menjadi tekanan bagi harga emas.

Sebaliknya, data inflasi yang lebih rendah dari ekspektasi dapat memperkuat spekulasi pemangkasan suku bunga The Fed. Skenario tersebut berpotensi menjadi katalis positif bagi emas karena aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas menjadi lebih menarik ketika ekspektasi suku bunga menurun.

Dari sisi ketenagakerjaan, pelemahan data tenaga kerja AS sebelumnya memang telah membuka ruang spekulasi bahwa The Fed masih memiliki peluang untuk melakukan pelonggaran kebijakan. Namun, arah tersebut kini kembali bergantung pada kemampuan inflasi untuk bergerak menuju sasaran bank sentral.

"Inflasi yang kembali meningkat dapat membatasi ekspektasi tersebut dan berpotensi menopang dolar AS serta imbal hasil Treasury," demikian perhatian pasar terhadap hubungan antara data inflasi dan arah kebijakan The Fed.

Di luar faktor moneter, investor juga masih mencermati perkembangan geopolitik serta pergerakan harga energi. Risiko gangguan pasokan minyak melalui Selat Hormuz menjadi salah satu faktor yang berpotensi meningkatkan volatilitas pasar komoditas.

Kenaikan harga minyak dapat kembali memperbesar tekanan inflasi global. Bagi pasar emas, kondisi tersebut justru bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, risiko geopolitik dan inflasi biasanya meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai. Namun di sisi lain, lonjakan inflasi yang mendorong ekspektasi suku bunga lebih tinggi dapat memperkuat dolar AS dan menekan harga emas.

Karena itu, perhatian pasar dalam jangka pendek tidak hanya tertuju pada CPI AS Juli. Investor juga akan mencermati data Producer Price Index (PPI) serta penjualan ritel AS yang dijadwalkan menyusul pada pekan ini. Serangkaian data tersebut akan menjadi penentu apakah pasar akan semakin agresif memperkirakan pelonggaran moneter atau justru kembali mengantisipasi kebijakan The Fed yang lebih ketat.

Dari perspektif teknikal, emas masih memiliki ruang untuk melanjutkan penguatan selama mampu bertahan di atas area support terdekat. Level support berada di kisaran US$4.338-US$4.307 per troy ons.

Sementara itu, area resistance terdekat berada di US$4.417-US$4.465. Jika harga mampu menembus area tersebut, peluang emas untuk menguji resistance jangka menengah di sekitar US$4.544 semakin terbuka.

Sebaliknya, apabila tekanan jual meningkat setelah rilis data inflasi AS, harga emas berpotensi kembali menguji support yang lebih dalam di sekitar US$4.228 per troy ons.

Dengan demikian, pergerakan emas saat ini sangat bergantung pada kombinasi data inflasi, ekspektasi suku bunga The Fed, arah dolar AS, imbal hasil Treasury, serta risiko geopolitik dan harga minyak. Data CPI AS Juli menjadi ujian terdekat bagi reli emas setelah investor sebelumnya mulai meningkatkan taruhan terhadap kemungkinan pelonggaran kebijakan The Fed.