INDUSTRY.co.id, Jakarta - Ada pencapaian yang terasa seperti titik akhir. Ada pula yang justru membuka babak baru. Bagi Rizka Septiana, keterpilihannya sebagai anggota Global Multinational Companies (GMC) Steering Committee IndustriALL Global Union periode 2026–2030, mewakili kawasan Asia Pasifik, adalah kelanjutan dari perjalanan panjang seorang akademisi dan praktisi komunikasi yang berakar di LSPR Institute of Communication & Business.

Di ruang global, ia menjadi satu dari empat orang di steering committee. Satu-satunya dari Indonesia, bersama perwakilan dari Jepang dan India. Namun sebelum duduk di forum lintas negara itu, Rizka telah lebih dari satu dekade membangun fondasi yang sama, bahwa komunikasi bukan sekadar keterampilan, melainkan jembatan yang mempertemukan kepentingan yang berbeda.

Rizka telah menjadi bagian dari ekosistem LSPR sejak lebih dari satu dekade lalu. Di dunia akademik, ia mengajar mata kuliah Introduction to Public Relations, Media Relations, Digital PR, Writing for PR, Media Handling, Event Management, hingga Community Development in PR & Digital Communication. Di sisi lain, ia juga menjalani peran profesional sebagai Media Relations Officer, Media Relations Manager, hingga Deputy Head of Media Relations di LSPR.

Kombinasi itu memberinya perspektif ganda: komunikasi sebagai ilmu dan sebagai praktik. Di kelas, ia membekali mahasiswa dengan kerangka konseptual. Di dunia kerja, ia menguji kerangka itu dalam situasi nyata, di mana pesan berinteraksi dengan media, stakeholder, dan tekanan waktu.

Perjalanan Rizka kemudian meluas melalui organisasi profesi. Ia pernah menjadi bagian dari Badan Pengurus Pusat PERHUMAS dengan pengalaman mulai dari bidang keanggotaan hingga pengembangan BPC. Ia juga dipercaya sebagai Director of Membership ASEAN Public Relations Network. Dari sana, ia belajar hal yang tidak selalu didapat di ruang kuliah: bekerja dengan orang yang berbeda karakter, kepentingan, dan perspektif.

Masuk ke Dunia Pekerja

Sejak 2021, Rizka tercatat sebagai Education & Training Coordinator di FSP KEP (Federasi Serikat Pekerja Kimia, Energi, Pertambangan, Minyak dan Gas) KSPI. Langkah ini menjadi bentuk pengabdian masyarakatnya sebagai dosen LSPR yang berkesinambungan. Di lingkungan pekerja, kemampuan komunikasi mendapat fungsi baru: bukan hanya membangun reputasi, tetapi membangun kapasitas. Bukan hanya menyampaikan pesan, tetapi memperkuat suara.

Rizka terlibat dalam berbagai kegiatan pendidikan dan pelatihan, termasuk pengembangan public speaking, presentation skills, personal branding, serta kompetensi kehumasan bagi lingkungan pekerja. Ia juga menjadi panelis Indonesia dalam konferensi otomotif pertama FSP KEP–KSPI bersama IndustriALL Global Union di Pune, India, pada 2025, membahas masa depan pekerjaan dan pendekatan responsif gender di industri otomotif.

21 Kandidat, Tiga Perwakilan

Pada 2026, proses itu membawanya ke tingkat yang lebih tinggi. Dalam proses nominasi anggota GMC Steering Committee kawasan Asia Pasifik, terdapat 21 kandidat dari berbagai negara. Dari proses tersebut, ditetapkan tiga perwakilan kawasan: Rizka Septiana dari Indonesia (FSP KEP KSPI, sektor kimia, energi, pertambangan, migas), Shinya Iwai dari Jepang (JCM, manufaktur), dan Gautam Mody dari India (UU, tekstil dan kimia). Rizka mendapatkan masa jabatan empat tahun (2026–2030). Penetapan mempertimbangkan representasi subkawasan, gender, sektor industri, dan ukuran organisasi afiliasi.

Yang membuat posisi Rizka menarik, ia masuk forum global bukan hanya sebagai representasi organisasi pekerja, tetapi juga dengan latar belakang akademisi dan praktisi komunikasi. Ini memberi perspektif berbeda. Ia memahami bagaimana komunikasi dibangun di dalam organisasi, bagaimana pesan berinteraksi dengan media, bagaimana kompetensi dikembangkan, dan bagaimana stakeholder dengan kepentingan berbeda perlu dipertemukan. Dalam konteks perusahaan multinasional—dengan perbedaan negara, budaya, regulasi, industri, dan kepentingan—komunikasi menjadi modal strategis untuk menjembatani semua itu.

Pentahelix communication: Ruang Dialog Lima Dunia

Rizka melihat persoalan kompleks, seperti ketenagakerjaan, tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak. Akademisi membawa pengetahuan, pemerintah membawa regulasi, dunia usaha membawa perspektif industri, masyarakat dan pekerja membawa pengalaman lapangan, media membantu membentuk ruang informasi publik. Kelima unsur ini membutuhkan komunikasi. Dan komunikasi yang efektif bukan komunikasi satu arah,  masing‑masing harus memiliki kesempatan untuk menyampaikan sekaligus mendengar.

Bagi Rizka, keberhasilan komunikasi bukan selalu ketika semua pihak akhirnya berpendapat sama. Perbedaan tetap boleh ada. Yang penting adalah semua pihak memahami posisi masing‑masing dan memiliki ruang untuk mencari solusi. Itulah esensi pentahelix communication yang ia percaya dapat diterapkan di berbagai situasi.

Rizka juga menekankan bahwa kesetaraan sering kali dimulai dari kesempatan, tetapi kesempatan tanpa kapasitas belum tentu menghasilkan perubahan. Perempuan perlu diberi ruang, tetapi juga perlu dipersiapkan untuk mengisi ruang tersebut. Kemampuan public speaking, negosiasi, personal branding, dan komunikasi interpersonal menjadi kompetensi yang dapat memperkuat posisi perempuan di dunia kerja.

Di lingkungan serikat pekerja, kemampuan komunikasi berkaitan dengan bagaimana pekerja menyampaikan aspirasi, bagaimana pengurus menjelaskan kepentingan anggota, bagaimana perempuan mengambil bagian dalam organisasi, dan bagaimana perbedaan kepentingan dikelola. Rizka melihat kemampuan tersebut sebagai bagian dari pemberdayaan: bukan sekadar agar seseorang lebih percaya diri, tetapi agar ia memiliki kapasitas untuk ikut menentukan keputusan.

Membawa Indonesia dengan Kompetensi

Bagi Rizka, representasi Indonesia bukan sekadar membawa nama negara. Representasi berarti membawa pengalaman, pengetahuan, perspektif, dan yang paling penting, kepentingan orang‑orang yang diwakili. Dunia global membutuhkan orang yang tidak hanya memahami isu, tetapi juga mampu mengomunikasikan isu tersebut; mampu membangun dialog, mendengarkan, menjelaskan, dan mencari titik temu.

Jika ditarik kembali ke awal, perjalanan Rizka terlihat seperti kumpulan jabatan yang berbeda: dosen, praktisi PR, media relations, pengurus organisasi profesi, asesor sertifikasi profesi hubungan masyarakat, pengurus serikat pekerja, trainer, dan kini anggota GMC Steering Committee IndustriALL.

Namun semuanya memiliki benang merah: komunikasi. Komunikasi yang dipelajari di kampus, dipraktikkan di dunia profesional, dibangun melalui organisasi, digunakan untuk meningkatkan kapasitas pekerja, dan kini dibawa ke forum Asia Pasifik.

Keterpilihan Rizka bukan sekadar cerita tentang seorang dosen yang mendapatkan posisi internasional. Ini adalah cerita tentang bagaimana sebuah kompetensi komunikasi dapat membawa seseorang bergerak melampaui batas profesi. Dari ruang kelas LSPR, ke ruang organisasi, ke dunia pekerja, dan akhirnya ke forum global. (Penulis: Kormen Barus).