INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Tingkat kesadaran masyarakat terhadap produk keuangan syariah terus meningkat, tetapi belum diikuti dengan adopsi yang kuat. Survei terbaru Populix menunjukkan masih banyak konsumen perempuan muslim di Indonesia yang belum memanfaatkan layanan keuangan berbasis syariah, terutama karena minimnya pemahaman mengenai cara kerja produk tersebut.
Dalam studi yang melibatkan 1.100 perempuan muslim di seluruh Indonesia, Populix mencatat sebanyak 37% responden mengaku belum menggunakan satu pun produk keuangan syariah. Dari kelompok tersebut, 57% menyebut kurang memahami mekanisme produk syariah sebagai alasan utama. Selain itu, 26% menilai informasi dan edukasi masih terbatas, 24% menganggap akses layanan belum mudah, sementara 16% mengaku istilah dalam produk keuangan syariah masih sulit dipahami.
Senior Research Director Populix, Indah Tanip, mengatakan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap keuangan syariah perlu diimbangi dengan edukasi yang lebih efektif agar konsumen memahami manfaat produk tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
“Meskipun kesadaran terhadap keuangan syariah sudah mulai terbentuk, masih ada tantangan untuk membantu konsumen memahami bagaimana produk tersebut bekerja, serta manfaat yang relevan bagi kebutuhan mereka sehari-hari,” ujar Indah.
Studi ini berfokus pada perempuan karena perannya yang besar dalam mengelola keuangan rumah tangga. Sebanyak 43% responden menjadi pengambil keputusan utama dalam pengeluaran keluarga, sedangkan 44% lainnya berperan aktif dalam pengelolaan keuangan keluarga. Peran tersebut dinilai semakin penting ketika kebutuhan rumah tangga meningkat pada periode-periode tertentu.
Populix juga menemukan bahwa sekitar separuh responden mengaku minat terhadap produk keuangan syariah meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, sembilan dari sepuluh responden telah mengenal setidaknya satu jenis produk keuangan syariah.
Tabungan syariah menjadi produk yang paling dikenal dengan tingkat familiaritas mencapai 63%, disusul pegadaian syariah atau rahn sebesar 35%, e-wallet atau fintech syariah 32%, reksa dana syariah 29%, dan deposito syariah 23%.
Meski demikian, tingkat penggunaan masih jauh di bawah tingkat pengenalannya. Dari 63% responden yang mengenal tabungan syariah, hanya 32% yang benar-benar menggunakannya. Pengguna reksa dana syariah hanya mencapai 10%, sedangkan pegadaian syariah sebesar 9%. Sementara itu, penggunaan fintech syariah mencapai 26%, atau turun sekitar 12 poin persentase dibanding tingkat pengenalannya.
“Secara keseluruhan, 24% konsumen gugur dari fase pengenalan ke fase adopsi produk keuangan syariah. Padahal hampir separuh pengguna produk keuangan syariah mengaku memiliki pengalaman penggunaan yang positif,” kata Indah.
Bagi pengguna yang telah mengadopsi layanan syariah, alasan utama adalah kesesuaian dengan nilai agama. Sebanyak 54% responden memilih produk syariah untuk menghindari riba dan memastikan transaksi yang halal. Selain itu, 36% menggunakan layanan tersebut karena percaya terhadap lembaga penyedia, sementara alasan lainnya berkaitan dengan rasa aman secara finansial, transparansi informasi, dan kesesuaian dengan prinsip keagamaan.
Survei juga menunjukkan persepsi positif terhadap layanan keuangan syariah. Sebanyak 70% responden menilai layanan syariah lebih dapat dipercaya dibanding layanan konvensional, 69% menganggap lebih aman, dan 68% menilai lebih transparan.
Ke depan, peluang pertumbuhan industri dinilai masih terbuka. Sebanyak 51% responden menyatakan berminat mencoba atau menambah penggunaan produk keuangan syariah dalam enam bulan mendatang. Namun, mayoritas tidak berniat meninggalkan layanan konvensional. Sebanyak 64% responden lebih memilih menambahkan produk syariah sebagai pelengkap portofolio keuangan mereka, sedangkan hanya sekitar 30% yang berencana beralih sepenuhnya ke layanan syariah.
“Pertumbuhan keuangan syariah tidak melulu tentang perpindahan total. Peluang yang lebih realistis adalah membuat produk syariah cukup relevan dan mudah dipahami sehingga konsumen bersedia menambahkannya ke dalam pilihan instrumen keuangan mereka,” tutup Indah.