INDUSTRY.co.id - Jakarta - Pemerintah terus mempercepat hilirisasi mineral untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global kendaraan listrik (electric vehicle/EV).
Langkah terbaru ditandai dengan kedatangan autoclave, peralatan utama proyek High Pressure Acid Leaching (HPAL) Sambalagi di Morowali, Sulawesi Tengah, yang menjadi bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN).
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani mengatakan, proyek HPAL Sambalagi menjadi tonggak baru hilirisasi nikel Indonesia. Menurutnya, hilirisasi kini tidak lagi sekadar menghasilkan nilai tambah mineral, tetapi juga membangun ekosistem industri baterai kendaraan listrik yang terintegrasi, berdaya saing, dan berkelanjutan.
"Sambalagi HPAL menetapkan standar baru, bukan sekadar mengikuti standar yang sudah ada. Proyek ini adalah bukti nyata bahwa kolaborasi Indonesia, Korea Selatan, dan Tiongkok dapat berjalan selaras dengan kepentingan nasional, yaitu membangun kedaulatan sumber daya, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat," kata Rosan dalam keterangannya.
Autoclave yang tiba di lokasi proyek memiliki kapasitas 1.268 meter kubik (m³). Berdasarkan data GEM Co., Ltd., unit tersebut merupakan autoclave berkapasitas terbesar yang pernah diterapkan pada fasilitas HPAL.
Proyek HPAL Sambalagi dikembangkan oleh PT Bahodopi Nickel Smelting Indonesia (BNSI) melalui kerja sama PT Vale Indonesia Tbk, GEM Co. Ltd. (China), dan EcoPro (Korea Selatan). Fasilitas ini berlokasi di Indonesia Green Industrial Park (IGIP), Morowali.
Nantinya, pabrik tersebut akan mengolah bijih limonit menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), bahan baku utama pembuatan baterai kendaraan listrik, dengan kapasitas produksi mencapai 90.000 ton kandungan nikel per tahun.
Selain mendukung hilirisasi, proyek ini juga diperkirakan memberikan dampak besar terhadap penyerapan tenaga kerja.
Selama masa konstruksi, proyek diproyeksikan menyerap sekitar 6.000 pekerja, sedangkan saat beroperasi akan membuka sekitar 3.600 lapangan kerja, termasuk pada kegiatan penambangan dan pengolahan.
Rosan menjelaskan, pembangunan fasilitas HPAL merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk melengkapi rantai pasok industri nikel nasional, mulai dari produksi MHP, nickel sulfate, precursor, cathode active material, hingga baterai kendaraan listrik.
Dengan rantai industri yang terintegrasi tersebut, Indonesia diharapkan tidak lagi hanya menjadi eksportir bahan mentah, tetapi menjadi pemain utama dalam industri kendaraan listrik dunia.
"Klaster industri hijau sudah kita rancang dari hulu ke hilir, dan HPAL adalah gerbang pertamanya," ujarnya.
Tak hanya mengejar nilai ekonomi, proyek HPAL Sambalagi juga mengedepankan aspek keberlanjutan. Sejak tahap perencanaan, fasilitas ini dirancang menuju Net Zero Emissions (NZE) melalui pemanfaatan waste heat recovery system serta energi surya untuk mendukung operasional rendah karbon.
Pemerintah juga mengapresiasi komitmen perusahaan dalam memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar melalui pembangunan infrastruktur, fasilitas sosial, pelatihan tenaga kerja lokal, hingga pendirian HPAL Research Center untuk memperkuat penguasaan teknologi dalam negeri.
Seluruh inovasi yang dihasilkan dari pusat riset tersebut direncanakan akan dipatenkan di Indonesia. Selain itu, perusahaan juga menyiapkan program beasiswa di bidang metalurgi bagi talenta Indonesia serta kerja sama penelitian dengan berbagai perguruan tinggi nasional.
Rosan menegaskan, kedatangan autoclave bukan sekadar menandai pembangunan sebuah pabrik, melainkan langkah penting membangun ekosistem hilirisasi nasional yang lebih kuat.
"Hari ini kita memang menyambut kedatangan autoclave di HPAL Sambalagi. Namun, yang sesungguhnya sedang kita bangun bukan hanya sebuah fasilitas industri. Kita sedang membangun ekosistem hilirisasi yang lengkap dan masa depan yang lebih baik bagi masyarakat Sulawesi Tengah dan Indonesia. Inilah makna sesungguhnya dari hilirisasi, yaitu menciptakan nilai, menciptakan kesempatan, dan menciptakan harapan," tutup Rosan.