INDUSTRY.co.id - Jakarta, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat ekosistem ilmu pengetahuan melalui Sidang Terbuka Orasi Ilmiah Profesor Riset yang akan diselenggarakan di Auditorium Soemitro Djojohadikusumo, Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Kamis (16/7). 

Pada forum akademik tersebut, lima Peneliti Ahli Utama BRIN akan dikukuhkan sebagai Profesor Riset setelah mempresentasikan hasil pemikiran dan temuan ilmiah yang berkontribusi terhadap penyelesaian berbagai persoalan strategis bangsa.

Kelima peneliti yang akan menerima pengukuhan ialah Johnny Walker Situmorang dari Pusat Riset Koperasi, Korporasi dan Ekonomi Kerakyatan, Hidayat dari Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air, Tri Marwati dari Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan, Umi Muawanah dari Pusat Riset Ekonomi Industri, Jasa, dan Perdagangan, serta Wahyu Pudji Nugraheni dari Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi.

Johnny Walker Situmorang membuka rangkaian orasi dengan mengangkat tema "Penguatan Kewirausahaan Koperasi Membangun Kedaulatan Ekonomi Rakyat untuk Mewujudkan Koperasi sebagai Sokoguru Perekonomian Indonesia." 

Ia menilai bahwa amanat konstitusi mengenai koperasi sebagai sokoguru perekonomian nasional belum sepenuhnya terwujud karena masih adanya berbagai tantangan kelembagaan yang membatasi daya saing dan kontribusinya.

Melalui konsep kewirausahaan koperasi, Johnny menawarkan perspektif yang memadukan fungsi ekonomi dan sosial koperasi sebagai instrumen pemerataan kesejahteraan sekaligus penguatan ekonomi rakyat.

"Kewirausahaan koperasi membangun model bisnis koperasi sebagai badan usaha yang berfungsi sosial sehingga koperasi dapat menjadi sokoguru perekonomian Indonesia," ujarnya.

Pada bidang sumber daya air, Hidayat menyampaikan orasi berjudul "Dinamika dan Mekanisme Sistem Hidrologi Lahan Basah Dataran Banjir Tropis." 

Orasi tersebut merangkum hasil penelitian mengenai karakteristik hidrologi lahan basah tropis, khususnya di kawasan Sungai Mahakam, Sungai Kapuas, dan Danau Sentarum.

Sebagai Profesor Riset Ilmu Perairan Bidang Hidrologi dengan kepakaran Hidrologi Air Permukaan, Hidayat menjelaskan bahwa lahan basah memiliki fungsi ekologis yang sangat penting sebagai penyimpan air alami, pengendali banjir, sekaligus habitat yang menopang produktivitas sumber daya perairan.

"Pemahaman terhadap dinamika hidrologi lahan basah menjadi dasar penting bagi pengelolaan sumber daya air yang lebih adaptif dan restorasi ekosistem yang berkelanjutan," jelasnya.

Sementara itu, Tri Marwati menghadirkan inovasi di sektor pangan melalui orasi "Menjawab Tantangan Mutu dan Nilai Tambah Kakao Indonesia: Inovasi Fermentasi Berbasis Bakteri Asam Laktat Lokal." 

Penelitiannya berfokus pada pengembangan teknologi fermentasi kakao yang lebih terkendali dengan memanfaatkan bakteri asam laktat lokal sebagai kultur starter.

Teknologi tersebut tidak hanya meningkatkan mutu fermentasi dan cita rasa cokelat, tetapi juga mampu mengendalikan kontaminasi jamur penghasil mikotoksin serta membuka peluang pengembangan produk cokelat probiotik yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.

"Pemanfaatan bakteri asam laktat lokal membuka peluang besar bagi peningkatan daya saing kakao Indonesia di pasar global sekaligus menghasilkan produk pangan yang lebih berkualitas dan aman," ungkap Tri.

Di bidang ekonomi kelautan, Umi Muawanah mengangkat tema "Tata Kelola Perikanan Berkeadilan: Integrasi Ekonomi, Hak Ulayat, dan Konservasi." 

Ia menekankan bahwa pembangunan sektor perikanan membutuhkan tata kelola yang mampu menyeimbangkan kepentingan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan keadilan sosial.

Pendekatan tersebut diwujudkan melalui penerapan model bioekonomi dan Maximum Economic Yield, serta penguatan pengelolaan berbasis masyarakat dengan mengakui hak ulayat melalui skema co-management. 

Menurut hasil penelitiannya, praktik-praktik lokal seperti Sasi Laut, Awig-awig, Panglima Laot, dan Mane'e terbukti efektif menjaga keberlanjutan sumber daya sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

"Tata kelola perikanan yang berkeadilan merupakan fondasi penting bagi pembangunan ekonomi biru Indonesia yang inklusif dan berkelanjutan," tegas Umi.

Adapun Wahyu Pudji Nugraheni memfokuskan orasinya pada penguatan sistem kesehatan nasional melalui tema "Optimalisasi Kemitraan Pemerintah dengan Swasta dalam Mempercepat Ekuitas Akses Layanan Kesehatan di Indonesia." 

Berdasarkan hasil penelitiannya, peningkatan pembiayaan kesehatan, transformasi digital layanan, dan pola kemitraan yang disesuaikan dengan karakteristik daerah menjadi faktor penting dalam memperluas akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas.

Temuan tersebut dinilai dapat menjadi pijakan dalam memperkuat sistem kesehatan nasional yang lebih inklusif sekaligus mendukung keberlanjutan Program Jaminan Kesehatan Nasional.

"Kolaborasi yang terencana dan berbasis kebutuhan daerah menjadi kunci untuk memastikan seluruh masyarakat memperoleh akses layanan kesehatan yang berkualitas," ujarnya.

Melalui pengukuhan lima Profesor Riset tersebut, BRIN memperlihatkan bagaimana hasil penelitian lintas disiplin mampu menghasilkan rekomendasi ilmiah yang relevan bagi pembangunan nasional. 

Gagasan yang disampaikan tidak hanya memperkaya khazanah akademik, tetapi juga menawarkan arah kebijakan berbasis bukti untuk memperkuat ekonomi rakyat, menjaga keberlanjutan lingkungan, meningkatkan daya saing industri pangan, mewujudkan pengelolaan perikanan yang berkeadilan, serta memperluas akses layanan kesehatan di Indonesia.