INDUSTRY.co.id - Jakarta, Setelah pemerintah menyatakan keberhasilan mencapai swasembada pangan, Kementerian Pertanian mulai mengarahkan fokus pembangunan sektor pertanian pada peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani melalui pemanfaatan teknologi modern. 

Salah satu strategi yang diperkenalkan adalah Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS) yang diluncurkan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Melalui sistem ini, pemerintah mendorong penerapan teknologi budidaya modern, mekanisasi pertanian, sistem tanam jajar legowo, serta pengelolaan budidaya secara lebih presisi guna meningkatkan produktivitas padi nasional.

Berdasarkan paparan Kementerian Pertanian, produktivitas padi yang saat ini berada di kisaran 5 ton gabah per hektare ditargetkan meningkat menjadi 8 hingga 10 ton per hektare. Bahkan, pada sejumlah uji lapangan, hasil panen disebut mampu mencapai 12 ton gabah per hektare.

Pemerintah juga memperkirakan apabila PM-AAS diterapkan secara luas pada sekitar 4 juta hektare sawah beririgasi, produktivitas dapat meningkat sekitar 5 ton gabah per hektare. 

Tambahan tersebut diproyeksikan menghasilkan sekitar 20 juta ton gabah setiap musim tanam. 

Dengan asumsi intensitas tanam tiga kali dalam setahun, tambahan produksi dapat mencapai sekitar 60 juta ton gabah per tahun atau setara sekitar 30 juta ton beras.

Kenaikan produksi tersebut dinilai berpotensi memperkuat ketahanan pangan nasional, menjaga cadangan beras pemerintah, sekaligus membuka peluang bagi Indonesia untuk memasuki pasar ekspor beras.

Kementerian Pertanian menegaskan bahwa PM-AAS tidak hanya berorientasi pada peningkatan hasil panen, tetapi juga diarahkan untuk menciptakan sistem pertanian yang lebih efisien, meningkatkan pendapatan petani, serta memperkuat daya saing sektor pertanian Indonesia di tingkat global.

Seperti ditegaskan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, "Swasembada alhamdulillah sudah tercapai. Sekarang pendekatannya adalah kesejahteraan. Itulah pentingnya teknologi," kata Mentan Andi Amran Sulaiman seperti dikutip redaksi INDUSTRY.co.id dari sosial media Instagram kementerian pertanian.

PM-AAS sendiri merupakan sistem pertanian intensif berbasis teknologi yang menitikberatkan pada efisiensi, mekanisasi, dan pertanian presisi. 

Model ini mengadopsi praktik pertanian yang berkembang di Arkansas, khususnya kawasan Delta Arkansas, Amerika Serikat, yang menerapkan sistem tanam benih langsung dengan jarak tanam rapat untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan.

Selain meningkatkan produktivitas hingga kisaran 10–12,4 ton gabah per hektare, sistem ini juga diklaim mampu meningkatkan efisiensi penggunaan air, pupuk, dan tenaga kerja, menghasilkan kualitas panen yang lebih baik, serta mendukung praktik pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.