INDUSTRY.co.id - Jakarta - Indonesia membawa kekuatan industri agro dan pengolahan pangan ke panggung internasional melalui keikutsertaannya sebagai Official Partner Country pada INNOPROM 2026, pameran industri terbesar di kawasan Eurasia yang berlangsung di Ekaterinburg, Rusia, pada 6-9 Juli 2026. Momentum ini dimanfaatkan pemerintah untuk memperluas pasar ekspor sekaligus menjaring investasi dan kemitraan industri dengan negara-negara anggota Eurasian Economic Union (EAEU).
Melalui Paviliun Indonesia, sejumlah perusahaan nasional menampilkan beragam produk unggulan, mulai dari spirulina, kopi spesialti, makanan olahan, produk aromaterapi, kosmetik, hingga produk berbasis pulp dan kertas. Keikutsertaan tersebut menjadi bagian dari strategi memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain utama industri agro di pasar global.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, sektor agro merupakan salah satu tulang punggung manufaktur nasional yang memiliki daya saing tinggi karena didukung sumber daya alam melimpah dan kemampuan menghasilkan produk bernilai tambah.
"Industri agro merupakan salah satu sektor strategis yang menjadi kekuatan manufaktur Indonesia. Melalui partisipasi sebagai Official Partner Country pada INNOPROM 2026, Indonesia ingin memperluas peluang investasi, perdagangan, dan kemitraan industri yang saling menguntungkan dengan negara-negara di kawasan Eurasia," kata Agus dalam keterangannya, Selasa (8/7/2026).
Agus menjelaskan, kinerja industri agro terus menunjukkan tren positif. Pada triwulan I 2026, sektor ini menyumbang 52,37 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) industri pengolahan nonmigas atau sekitar 9,12 persen terhadap PDB nasional. Pertumbuhannya mencapai 5,70 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional.
Tak hanya menjadi kontributor terbesar industri manufaktur, sektor agro juga menyerap sekitar 10 juta tenaga kerja. Dari sisi perdagangan, ekspor industri agro pada triwulan I 2026 mencapai US$ 18,92 miliar dengan surplus neraca perdagangan sebesar US$ 13,78 miliar.
Indonesia juga mempertahankan posisinya sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia dengan kapasitas lebih dari 51 juta ton CPO dan CPKO per tahun. Selain itu, Indonesia menjadi salah satu produsen utama komoditas strategis seperti karet, kopi, kakao, rumput laut, dan minyak atsiri.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika, menilai INNOPROM 2026 menjadi momentum penting untuk mempertemukan kekuatan industri Indonesia dan Rusia.
Menurutnya, Indonesia memiliki keunggulan pada komoditas tropis, industri pangan olahan bernilai tambah, serta akses ke pasar Asia Tenggara. Sementara Rusia unggul dalam teknologi pertanian modern, sistem logistik pangan, hingga teknologi pengolahan pangan.
"Melalui INNOPROM 2026, kami ingin memperluas jejaring bisnis sekaligus memperkenalkan produk industri agro Indonesia kepada mitra potensial di kawasan Eurasia," ujar Putu.
Rusia sendiri dikenal sebagai eksportir gandum terbesar di dunia. Pada 2025, volume ekspor gandum negara tersebut mencapai sekitar 41 juta ton dan diproyeksikan meningkat menjadi 55 juta ton pada 2026. Selain itu, Rusia telah mengembangkan teknologi pertanian presisi berbasis satelit, otomasi lahan, hingga sistem manajemen rantai pasok digital.
Delapan Perusahaan Tampil di Paviliun Indonesia
Dalam ajang tersebut, Indonesia membawa delapan perusahaan dan lembaga yang mewakili berbagai subsektor industri agro dan pengolahan pangan, yakni:
- PT Alga Bioteknologi Indonesia (ALBITEC)
- PT Surabaya Indah Permai
- PT Canela Megah Jaya
- PT MAM Furniture Mitra Abadi Mebel
- Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia
- PT Siantar Top Tbk
- Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP)
- PT Mayora Indah Tbk
Keikutsertaan para pelaku industri ini diharapkan membuka peluang ekspor baru sekaligus memperluas kerja sama bisnis dengan perusahaan-perusahaan di Rusia maupun negara anggota EAEU.
Peluang ekspansi produk industri Indonesia ke kawasan Eurasia semakin terbuka setelah implementasi Indonesia-Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA) yang ditandatangani pada Desember 2025.
Perjanjian tersebut memberikan preferensi tarif untuk sekitar 90,5 persen pos tarif, sehingga diharapkan mampu meningkatkan daya saing produk manufaktur Indonesia di pasar Eurasia.
Pemerintah berharap keikutsertaan Indonesia di INNOPROM 2026 tidak hanya menjadi ajang promosi produk, tetapi juga menghasilkan investasi, kemitraan industri, dan kerja sama perdagangan yang memberikan manfaat nyata bagi kedua belah pihak.