INDUSTRY.co.id - Jakarta - Indonesia memanfaatkan ajang INNOPROM 2026 di Ekaterinburg, Rusia, untuk menarik investasi dan memperluas kemitraan industri dengan kawasan Eurasia. 

Sebagai Official Partner Country, Indonesia memperkenalkan Strategi Baru Industrialisasi Nasional (SBIN) sebagai peta jalan pembangunan industri yang diyakini mampu menciptakan iklim investasi lebih kompetitif, modern, dan berkelanjutan.
 
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, Indonesia kini tidak hanya menawarkan besarnya pasar domestik, tetapi juga arah pembangunan industri yang jelas melalui SBIN.
 
"Melalui Strategi Baru Industrialisasi Nasional, Indonesia membangun fondasi industri yang lebih kuat, modern, dan berkelanjutan. Kami membuka ruang yang luas bagi kemitraan internasional yang mampu menghadirkan investasi berkualitas, transfer teknologi, dan peningkatan kapasitas industri nasional," kata Agus dalam keterangan resmi.
 
INNOPROM 2026 yang berlangsung pada 6-9 Juli 2026 menjadi ajang strategis bagi Indonesia untuk memperkenalkan transformasi sektor manufaktur kepada pelaku industri dan investor dari Rusia serta negara-negara Eurasia.
 
SBIN yang disusun Kementerian Perindustrian merupakan respons terhadap perubahan lanskap ekonomi global, mulai dari percepatan digitalisasi, transisi energi, hingga pergeseran rantai pasok dunia. Strategi tersebut juga menjadi bagian dari upaya mewujudkan visi Indonesia Emas 2045 yang selaras dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
 
Dalam implementasinya, SBIN berfokus pada empat prioritas utama, yakni penguatan industri manufaktur berbasis nilai tambah sumber daya alam, penguasaan teknologi melalui Making Indonesia 4.0, pengembangan industri hijau, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia industri.
 
Direktur Jenderal Ketahanan Perwilayahan dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin Tri Supondy mengatakan, keikutsertaan Indonesia sebagai Official Partner Country menjadi momentum memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra industri jangka panjang bagi kawasan Eurasia.
 
"Pada pameran ini, Indonesia akan memperkenalkan SBIN yang memungkinkan Indonesia membangun ekosistem manufaktur yang terstruktur, transparan, dan lebih terbuka bagi kolaborasi internasional," ujarnya.
 
Indonesia datang ke INNOPROM 2026 dengan modal kuat sebagai negara manufaktur terbesar di Asia Tenggara. Nilai Manufacturing Value Added (MVA) Indonesia telah mencapai USD 265 miliar, menempatkan Indonesia di peringkat ke-13 dunia.
 
Sementara itu, ekspor manufaktur nonmigas hingga Agustus 2025 mencapai USD 147,9 miliar atau hampir 80% dari total ekspor nasional. Capaian tersebut menjadi fondasi Indonesia dalam menawarkan peluang kerja sama industri kepada investor global.
 
Pada ajang ini, Indonesia membawa lebih dari 50 perusahaan industri nasional untuk menjajaki kerja sama bisnis dengan mitra dari Eurasia.
 
Kemenperin menawarkan empat peluang kerja sama utama kepada investor. Pertama, kolaborasi teknologi dan alih teknologi di sektor mesin industri, otomasi, petrokimia, hingga material maju melalui sektor industri logam, mesin, alat transportasi, elektronika (ILMATE), serta industri kimia, farmasi, dan tekstil (IKFT).
 
Kedua, investasi langsung di kawasan industri yang telah siap beroperasi dengan dukungan kepastian regulasi melalui SBIN.
 
Ketiga, kerja sama dalam pengembangan hilirisasi komoditas strategis seperti nikel, bauksit, tembaga, kobalt, dan lithium yang membutuhkan teknologi pengolahan serta rekayasa material.
 
Keempat, peluang kolaborasi di sektor agro dan pangan bernilai tambah melalui pengembangan teknologi pengolahan pangan, logistik, hingga perluasan distribusi dan akses pasar.
 
Melalui partisipasi sebagai Official Partner Country, Indonesia berharap INNOPROM 2026 menjadi pintu masuk bagi peningkatan investasi, transfer teknologi, serta kemitraan industri jangka panjang yang memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai manufaktur global.