INDUSTRY.co.id - Jakarta, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama RSUP Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung memperkuat kolaborasi pengembangan radiofarmaka berbasis Gallium-68 dan Lutetium-177 sebagai kandidat teranostik untuk penanganan kanker.
Kerja sama tersebut diharapkan menjadi langkah penting dalam mewujudkan kemandirian Indonesia di bidang radiofarmasi sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap layanan kedokteran nuklir.
Kesepakatan penelitian, pengujian, dan analisis radioligand berbasis dua radioisotop tersebut ditandatangani oleh Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) BRIN bersama Direktur Utama RSHS Bandung pada Selasa (30/6).
Direktur Utama RSHS, H. Rachim Dinata Marsidi, mengatakan sinergi antara rumah sakit dan lembaga riset menjadi fondasi penting dalam menghasilkan inovasi kesehatan yang dapat diterapkan secara langsung kepada masyarakat.
"Kerja sama ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat kemandirian Indonesia di bidang radiofarmasi sekaligus meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan yang inovatif, efektif, aman, dan berstandar internasional," ujar Rachim.
Menurutnya, perkembangan teknologi teranostik telah mengubah pendekatan penanganan kanker dengan menggabungkan proses diagnosis dan terapi melalui radiofarmaka yang lebih spesifik dan presisi.
Ia juga menilai produksi radioisotop di dalam negeri akan memberikan keuntungan dari sisi efisiensi biaya sekaligus memperkuat ketahanan rantai pasok.
Selama ini, kebutuhan radioisotop masih banyak bergantung pada impor yang memerlukan waktu distribusi lebih panjang dengan biaya lebih tinggi.
Selain itu, Rachim mengungkapkan bahwa tarif layanan BPJS untuk pemeriksaan PET Scan masih belum sepenuhnya menutup biaya operasional rumah sakit.
"Dengan memproduksi sendiri di dalam negeri, kita bisa menekan biaya operasional. Jika harganya lebih terjangkau, layanan kedokteran nuklir dapat diakses oleh lebih banyak pasien BPJS," katanya.
Sementara itu, Kepala ORTN BRIN, Syaiful Bakhri, menegaskan bahwa riset yang dilakukan BRIN diarahkan untuk menghasilkan manfaat nyata melalui hilirisasi teknologi, bukan sekadar publikasi ilmiah maupun paten.
"Riset BRIN bukan hanya menghasilkan publikasi, paten, atau seremoni saja. Yang terpenting adalah menghadirkan produk yang memberi dampak langsung kepada masyarakat melalui hilirisasi," kata Syaiful.
Ia menambahkan, pengembangan ekosistem riset membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, lembaga penelitian, rumah sakit, perguruan tinggi, hingga industri nasional agar hasil penelitian dapat diproduksi dan dimanfaatkan secara luas.
Dalam kesempatan tersebut, tim BRIN juga meninjau Unit Kedokteran Nuklir RSHS dan berdiskusi dengan Kepala Departemen Kedokteran Nuklir, Prof. Hussein S. Kartamihardja, mengenai kebutuhan riset dan pengembangan layanan di masa mendatang.
Hussein menjelaskan bahwa fasilitas PET Scan dan SPECT-CT menjadi komponen penting bagi rumah sakit dengan strata pelayanan kanker paripurna karena berperan dalam deteksi dini, penentuan stadium kanker, serta evaluasi fungsi organ melalui pencitraan molekuler.
Syaiful mengatakan hasil diskusi tersebut akan menjadi dasar dalam menyusun agenda riset BRIN agar sesuai dengan kebutuhan layanan kesehatan di lapangan.
"Kami ingin mengetahui kebutuhan riil di rumah sakit sehingga riset yang dilakukan benar-benar berbasis kebutuhan layanan. Dengan begitu, BRIN dapat menyiapkan infrastruktur, sumber daya manusia, hingga arah pengembangannya secara nasional," ujarnya.
Diskusi juga mengemuka mengenai pemanfaatan Reaktor Serba Guna (RSG) BRIN sebagai salah satu fasilitas produksi radioisotop untuk mendukung penyediaan radiofarmaka dalam negeri.
Gallium-68 dan Lutetium-177 merupakan pasangan radionuklida yang banyak digunakan dalam pendekatan teranostik pada pengobatan kanker.
Gallium-68 berfungsi sebagai radioisotop untuk pemeriksaan PET Scan guna mendeteksi lokasi sel kanker, sedangkan Lutetium-177 digunakan sebagai terapi radiasi bertarget yang bekerja menghancurkan sel kanker secara lebih spesifik.
Melalui kolaborasi ini, BRIN dan RSHS berharap pengembangan radiofarmaka nasional dapat mempercepat ketersediaan layanan kedokteran nuklir yang lebih terjangkau, mengurangi ketergantungan terhadap produk impor, sekaligus memperkuat ekosistem riset kesehatan berbasis teknologi nuklir di Indonesia.