INDUSTRY.co.id - Jakarta - PT Intiland Development Tbk (DILD) memutuskan tidak membagikan dividen kepada pemegang saham untuk tahun buku 2025 meski berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp64,26 miliar. 

Advertisement

Keputusan tersebut disahkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan yang digelar di Jakarta, Rabu (10/6/2026).

Dalam rapat tersebut, para pemegang saham menyetujui seluruh agenda yang diajukan manajemen, termasuk penggunaan laba bersih perusahaan. Dari total laba yang diperoleh, sebesar Rp2 miliar dialokasikan sebagai dana cadangan wajib, sementara sisanya sebesar Rp62,26 miliar ditetapkan sebagai saldo laba ditahan.

Advertisement

Sekretaris Perusahaan Intiland, Theresia Rustandi mengatakan, persetujuan pemegang saham terhadap seluruh agenda RUPS mencerminkan kepercayaan terhadap strategi dan tata kelola perusahaan yang dijalankan manajemen.

"Perseroan selalu memastikan setiap kebijakan dan langkah strategis dijalankan secara hati-hati, terukur, dan berorientasi pada penciptaan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan," ujar Theresia dalam keterangannya.

Advertisement

Di tengah tantangan sektor properti, Intiland memilih memperkuat kondisi keuangan dengan fokus pada strategi deleveraging atau pengurangan utang.

Direktur Utama Intiland Archied Noto Pradono mengungkapkan, perusahaan berhasil memangkas total utang hingga 25% sepanjang 2025 menjadi Rp3,08 triliun, dari sebelumnya Rp4,11 triliun pada 2024.

Advertisement

Penurunan tersebut dilakukan melalui restrukturisasi pinjaman, percepatan pelunasan kewajiban, penjualan aset non-inti, hingga pelunasan Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Intiland Development.

"Penurunan jumlah utang menjadi salah satu pencapaian penting. Langkah ini membantu kami mengendalikan beban keuangan, memperkuat struktur permodalan, dan memberikan ruang yang lebih baik bagi Perseroan untuk menjaga stabilitas usaha sekaligus menangkap peluang pertumbuhan ke depan," kata Archied.

Pada kuartal I 2026, Intiland membukukan pendapatan usaha sebesar Rp619,8 miliar atau turun 3,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kontributor terbesar berasal dari pendapatan berulang (recurring income) sebesar Rp232,6 miliar atau 37,5% dari total pendapatan. Sementara segmen kawasan industri menyumbang Rp227,4 miliar, perumahan Rp121,9 miliar, dan high-rise residential Rp37,9 miliar.

Meski pendapatan mengalami penurunan tipis, perusahaan tetap optimistis terhadap prospek bisnis properti tahun ini. Intiland menargetkan marketing sales sebesar Rp1,95 triliun pada 2026, meningkat dibanding realisasi 2025 yang mencapai Rp1,61 triliun.

Siapkan Kawasan Industri Baru dan Tower Apartemen

Untuk mendorong pertumbuhan, Intiland tengah menyiapkan sejumlah proyek baru. Salah satunya pengembangan kawasan industri baru di Jawa Timur serta peluncuran Tower E apartemen SQ Res pada semester II 2026.

Archied menegaskan perusahaan tetap berhati-hati dalam melakukan ekspansi di tengah kondisi pasar yang masih selektif.

"Tahun ini kami masih cenderung konservatif dengan mengandalkan proyek-proyek yang telah berjalan. Pengembangan baru tetap kami siapkan, tetapi pelaksanaannya akan sangat selektif, dengan mempertimbangkan kesiapan produk, momentum pasar, dan daya serap konsumen," ujarnya.

Menurutnya, peluang pertumbuhan masih terbuka terutama di segmen perumahan dan kawasan industri yang memiliki permintaan riil dan daya serap pasar lebih kuat.

"Kami melihat peluang pertumbuhan masih terbuka. Strategi pemasaran dan pengembangan kami jalankan secara lebih terukur agar dapat mendukung pencapaian target kinerja sekaligus menjaga fundamental Perseroan tetap sehat," tutup Archied.