INDUSTRY.co.id - Jakarta-CSED-INDEF bersama mitra akademik dan ekosistem ekonomi syariah memperkenalkan model “Green & Blockchain Qurban”, sebuah inovasi integratif yang menggabungkan prinsip syariah, green economy, blockchain, artificial intelligence (AI), big data, dan halal value chain untuk membangun sistem qurban yang lebih transparan, amanah, tepat sasaran, dan berkelanjutan.
Model ini hadir sebagai respons atas meningkatnya kebutuhan transparansi filantropi Islam serta tantangan distribusi qurban yang selama ini masih menghadapi persoalan akurasi data penerima, distribusi yang menumpuk di wilayah tertentu, serta keterbatasan pelacakan pasca penyembelihan.
“Qurban tidak lagi dipandang sekadar ritual tahunan, tetapi sebagai bagian dari transformasi ekonomi syariah berkelanjutan yang terhubung dengan teknologi, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat” ujar Murniati Peneliti CSED-INDEF yang juga Guru Besar Akuntansi Syariah Universitas Tazkia.
Integrasi AI, Satelit, dan Big Data
Model Green & Blockchain Qurban seperti di dalam gambar diharapkan dapat mengintegrasikan AI & machine learning, penginderaan jauh berbasis satelit, data scraping, dan big data analytics.
Teknologi tersebut digunakan untuk memetakan wilayah rawan pangan, mengidentifikasi daerah minim distribusi qurban, membaca kepadatan penduduk, serta menentukan prioritas distribusi secara lebih tepat sasaran. Dengan pendekatan ini, distribusi qurban diharapkan tidak lagi terkonsentrasi di wilayah perkotaan tertentu, tetapi menjangkau daerah yang benar-benar membutuhkan.
Green Qurban dan Ekonomi Sirkular
Selain aspek transparansi, model ini mengedepankan konsep green qurban berbasis ekonomi sirkular. Praktik tersebut meliputi limbah pertanian menjadi pakan ternak, kotoran ternak menjadi pupuk organik dan biogas, tulang dan kulit menjadi produk turunan industri halal, serta program “satu hewan satu pohon” untuk pemulihan ekologi. Konsep ini diharapkan dapat mengurangi limbah qurban sekaligus memperkuat keberlanjutan lingkungan dan ekonomi desa.
Pertama, Terintegrasi dengan Halal Value Chain. Green & Blockchain Qurban juga dirancang terhubung dengan halal value chain ekonomi syariah, meliputi makanan halal, keuangan syariah, pariwisata ramah Muslim, media dan rekreasi halal, farmasi dan kosmetik halal, serta pakaian Muslim. Dengan demikian, dampak qurban tidak berhenti pada distribusi daging, tetapi ikut menggerakkan ekosistem ekonomi syariah nasional.
Pengembangan konsep ini juga dapat didukung dengan pemanfaatan teknologi blockchain yang sesuai prinsip syariah untuk keuangan syariah, zakat dan wakaf, halal traceability, dan ekosistem filantropi Islam digital. Implementasi sistem Green & Blockchain Qurban diperkirakan membutuhkan investasi teknolog bisa milyaran per tahun, meliputi blockchain dan smart contract, cloud infrastructure, AI & machine learning, dashboard monitoring, keamanan data, satelit dan penginderaan jauh, serta operasional SDM teknologi. Namun investasi tersebut di masa yang akan datang dapat menghasilkan peningkatan transparansi, efisiensi distribusi, penguatan kepercayaan shohibul qurban, dan peluang remitansi filantropi global yang lebih besar.
Green & Blockchain Qurban diharapkan menjadi model masa depan filantropi Islam digital Indonesia yang amanah, transparan, berbasis data, ramah lingkungan, dan berdampak nyata bagi umat. “Ketika teknologi dipadukan dengan nilai syariah dan keberlanjutan, qurban dapat menjadi instrumen pemberdayaan sosial-ekonomi yang jauh lebih luas daripada sekadar distribusi daging tahunan” kata Murniati.
Tahap Perancangan Arsitektur Sistem
Adopsi blockchain dalam ekosistem qurban bukan sekadar memasang teknologi baru, tetapi membangun ulang sistem transparansi, tata kelola, dan kepercayaan (trust architecture) dalam filantropi Islam. Prosesnya biasanya berjalan bertahap, mulai dari identifikasi masalah hingga implementasi operasional penuh. Tahapan pertama adalah menentukan jenis blockchain, apakah public vs permissioned blockchain, kapasitas transaksi, biaya gas fee, keamanan data, integrasi AI dan dashboard.
Setelah layak, dibuat desain sistem menyeluruh misalnya front-end yang dilihat pengguna: aplikasi shohibul qurban, dashboard monitoring, dan QR verification. Begitu juga middleware yang menjadi penghubung database internal, AI engine, sistem pembayaran, dan blockchain node. Kemudian blockchain Layer memfasilitasi tempat pencatatan transaksi, lokasi pemotongan, distribusi, penerima manfaat,hash dokumen. Lalu smart contract dapat membuat aturan otomatis digital yang menginformasikan kapan pembayaran valid, kapan distribusi tercatat, kapan laporan final diterbitkan.
Setelah itu, tahapan data governance yang merupakan tahapan penting tetapi sering dilupakan. Blockchain tidak otomatis membuat data benar, karena itu perlu standar input data, validasi petugas lapangan, SOP dokumentasi, identitas penerima, geo-tagging lokasi, timestamp digital, dan audit berkala. “Yang terpenting adalah man behind the gun, karena kalau data yang dimasukan sejak awal sudah salah, maka blockchain hanya menyimpan kesalahan secara permanen’ sambung Murniati. Tahapan terakhir adalah tahap integrasi teknologi pendukung yaitu AI & Machine Learning untuk prediksi kebutuhan wilayah, analisis distribusi, deteksi anomaly; Satelit & GIS untuk pemetaan daerah rawan pangan, akses logistik, monitoring wilayah terpencil; Data Scraping & Big Data mengambil data kemiskinan, harga pangan, data demografi, data akurat mustahik.
“Dalam konteks qurban, blockchain berfungsi sebagai penguat amanah, penguat transparansi, penguat akuntabilitas, penguat kepercayaan publik, dan penghubung filantropi global, karena pada akhirnya dalam filantropi Islam, trust adalah mata uang paling penting” tutup Murniati.